Rahim Bayaran Mr. M

Rahim Bayaran Mr. M
Bab 45


__ADS_3

Ziana menoleh dan menatap Amelia sambil tersenyum. "Tante, kenapa harus menangis lagi. Aku pikir Tante wanita yang tegar ternyata Tante lebih cengeng dari pada aku." Tuturnya dengan suara yang menggemaskan.


Amelia tersenyum dan menghapus air matanya. "Tante kuat kok...! Tadi ada yang masih ke mata jadinya perih dan mengeluarkan air mata." Jawab Amelia.


"Tante jangan berbohong, kata nenek kalau berbohong nanti hidupnya akan panjang." Jawab Ziana.


Amelia tersenyum kembali melihat tingkah Ziana yang menggemaskan.


"Kamu tuh lucu banget sih...! Coba bilang sama Tante siapa papa dan Mamamu. Biar Tante minta izin sama mereka untuk membawamu." Ucap Amelia sambil mencubit pipi cabi Ziana.


"Aw Tante sakit...!" Rintihannya.


"Maaf... Maaf...! Tante gak sengaja, bagaimana kalau kita jajan eskrim." Ajaknya.


Ziana termenung, Ia sebenarnya ingin makan eskrim seperti kebanyakan anak lainnya. Tapi Ia lebih memilih komitmen yang di berikan oleh Papanya.


"Jajan eskrim itu hanya untuk anak kecil dan jika kita makan eskrim, gigi akan sakit dan akan menyusahkan orang lain." Tuturnya.

__ADS_1


Amelia menganggukkan kepalanya dan merasa kagum dengan Ziana. Meskipun usianya masih terbilang anak-anak, tapi pikirannya dewasa dan ucapan tidak seperti anak kecil pada umumnya.


...


Tak terasa waktu telah menjelang petang, Amelia mengantarkan Ziana sampai ke depan rumahnya. Ia keluar dari mobil dan mencium keningnya.


"Sayang, jika suatu saat nanti kita bertemu lagi bagaimana?" Tanya Amelia.


"Aku pasti akan bahagia. Oh iya Tante, masukan Tante menjadi mamaku di saat di luar." Ucapnya.


"Tentu saja...! Tante bahagia jika kamu bisa seperti itu, ini kartu nama Tante kamu bisa telpon atau temui Tante." Jawab Amelia dengan bahagia.


Ziana masuk ke dalam rumah, Amelia tersenyum bahagia. Seharian ini hati nampak berbunga-bunga. Setelah Ziana masuk ke dalam, Amelia melajukan mobilnya dan pergi.


Di dalam rumah...


Ziana berjalan masuk dengan riang, tak lupa bibirnya terus bernyanyi. Marcell yang saat itu sedang mabuk langsung menghampirinya.

__ADS_1


"Hey, anak pembawa sial! Dari mana kamu, aku pikir kamu akan pergi selamanya dari rumah ini." Ucap Marcell dengan mata yang teler.


"Papa...!" Jawab Ziana dengan mata yang berkaca-kaca. Hatinya merasa pedih melihat sang Papa selalu membencinya, semua yang di lakukan Ziana selalu salah di mata Marcell.


Tak lama, Anita datang dan memeluk Ziana. "Jangan dengarkan ucapan Papamu!"


"Nek...!" Ucap Ziana sambil menangis.


"Ayo kita ke meja makan, nenek sudah siapkan makanan kesukaan kamu." Ajaknya sambil menggendong Ziana.


Marcell menatap Ziana yang semakin menjauh, tak terasa air matanya jatuh.


"Maafkan Papa, semua ini kulakukan untuk mengurangi rasa bersalahku!" Ucap Marcell.


Marcell sengaja melakukan semua ini agar Ziana pergi dari hidupnya dan membencinya. Tapi usahanya selalu gagal, karena Ziana tidak seperti anak lainnya. Kehidupannya yang perih membuatnya tegar dan menjadi anak yang kuat.


Marcell ingin memeluk Ziana tapi egonya terlalu tinggi. Apalagi wajah Ziana persis seperti Amelia, itu sebabnya Ia selalu merasa bersalah mengingat Amelia yang memohon sebelum meninggal.

__ADS_1


Marcell pergi ke kamar tidurnya, 2 tahun ini Ia menjadi murung dan pemabuk. Semua ini dia lakukan untuk menghilangkan rasa bersalahnya. Ia seperti tak ada semangat hidup, bahkan Marcell sudah mencoba untuk bunuh diri sampai ke tiga kalinya. Tapi Ia selalu gagal karena melihat sosok Indira yang menghentikannya.


__ADS_2