Rahim Bayaran Mr. M

Rahim Bayaran Mr. M
Bab 56


__ADS_3

Keesokan harinya...


Marcell membuka matanya, setelah semalam Ia bermimpi buruk. Ia pergi ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.


"Ah, sudah sekian lama aku baru bermimpi buruk lagi." Keluhnya kesal.


Setelah selesai, Marcell keluar dari kamar mandi dengan menggunakan sehelai handuk. Ia bergegas mencari pakaian yang cocok untuk pergi ke kantor.


"Sepertinya ini cocok!" Ucapnya sambil tersenyum.


Marcell terlihat sangat bersemangat, karena hari ini Ia akan bertemu dengan Amelia. Meskipun kesempatan sangat tipis, tapi Ia akan berusaha untuk mengejar cinta Amelia.


Ia keluar dari kamar dan menuju meja makan. Ia melihat Ziana sang anak yang sedang menikmati sarapan roti.


"Pagi sayang!" Ucapnya sambil mengecup kening sang anak.


"Pagi pa!" Jawabnya sambil melihat ke arah Marcell.


Ziana menyiapkan roti untuk Marcell, Ia menyerahkannya sambil tersenyum. "Makanlah Papa! Sepertinya hati ini, Papa sangat bersemangat." Tutur Ziana.


"Eem!" Jawab Marcell sambil mengunyah roti tersebut.


Ziana tersenyum. "Pasti semua ini karena Tante Amelia!" Godanya.


Pipi Marcell nampak memerah dan tersenyum. "Kamu tuh masih kecil, tahu apa tentang Papa." Ucapnya sambil mengelus rambut Ziana.


"Aku pasti tahu tentang Papa, karena aku akan Ziana anak dari Papa Marcell." Jawabnya dengan bangga.

__ADS_1


"Iya, papa bahagia bisa punya anak seperti dirimu."


Marcell mengecup kening sang anak dan bergegas untuk pergi. Tapi langkahnya terhenti saat Anita menghentikannya.


"Marcell, sepagi ini kamu mau kemana?" Tanyanya sambil menghampiri.


"Aku mau kerja, Ma!"


Anita mengerutkan keningnya. "Sepagi ini...!"


"Iya." Jawab Marcell.


"Cell, masalah mimpi semalam...!"Ucap Anita terhenti.


"Sudahlah Ma, itukan hanya mimpi. Waktu aku sakit dan terpuruk, aku sering mimpi seperti itu. Mungkin karena rasa bersalahku, aku tidak mau mengingat semua itu. Yang aku ingin adalah mencari ibu untuk Ziana." Jawab Marcell sambil tersenyum.


Marcell pamit untuk pergi dan tak lupa mengecup kening sang Mama. Ia bersemangat dan segera melajukan mobilnya.


Anita menatap kepergian sang Anak dan tersenyum nanar. "Cell, Mama tak ingin kau terpuruk lagi. Mana tahu, kehilangan Indira sangatlah menyakitkan tapi Mama ingin kamu bahagia." Batin Anita dengan harapan.


Marcell mengendarai kendaraan dengan berhati-hati. Meskipun Ia sudah mahir, tapi Ia tidak ingin merusak hidupnya karena kecelakaan.


Ia mengendarai mobil sambil melihat sekeliling. Matanya nampak membulat, melihat seorang wanita di pinggir jalan yang terlihat sedang kesal.


Marcell menghentikan mobilnya dan menghampiri wanita itu.


"Bu, Amel..! Kenapa dengan mobilnya?" Tanya Marcell.

__ADS_1


Amelia menoleh dan tersenyum. "Sepertinya mogok! Pak Marcell mau kemana sepagi ini?" Tanya Amelia.


"Saya mau ke kantor, kebetulan kemarin meninggalkan pekerjaan yang belum selesai. Oh iya, apakah anda mau ke kantor?" Tanya Marcell.


Amelia menganggukkan kepalanya. Akhirnya Marcell menawari tumpangan dan menelpon montir langganannya untuk menyervis mobil Amelia.


Marcell membukakan pintu mobil dan Amelia tersenyum manis. "Terimakasih!"


Marcell menganggukkan kepalanya dan menutup pintu, hatinya terasa berbunga-bunga melihat mentari yang menyinari paginya.


Marcell melajukan mobilnya, Ia nampak kaku dan gerogi. Amelia hanya diam dan tenang, sesekali Ia curi pandang dari balik juru matanya.


"Pak Marcell, orang yang baik! Pasti banyak wanita yang mengantri untuk menjadi kekasihnya." Batin Amelia.


Marcell mencoba untuk tenang, Ia mulai membuka pembicaraan dengan basa-basi.


"Anda sudah sarapan?" Tanya Marcell.


"Kebetulan sekali, aku juga belum! Bagaimana kalau kita sarapan dulu mencari bubur ayam!" Ajaknya sambil menoleh ke arah Amelia.


"Baiklah! Kebetulan sekali perutku sudah lapar. Saya tahu tempat bubur ayam yang enak, tapi di pinggir jalan. Apa Pak Marcell bersedia makan di sana?" Tanyanya ragu.


"Kenapa tidak, saya gak pernah pandang bulu dalam urusan makan. Yang terpenting makanan itu enak dan bersih." Jawabnya.


Selalu lagi, Amelia terkesima mendengar jawaban dari Marcell.


"Pak Marcell benar-benar berbeda dari kebanyakan lelaki kata lainnya." Batinnya yang kagum.

__ADS_1


__ADS_2