Rahim Bayaran Mr. M

Rahim Bayaran Mr. M
Bab 72


__ADS_3

Ziana dan Marcel nampak memperebutkan Amelia. Akhirnya Anita mengajak Ziana untuk pergi jalan-jalan karena ingin memberikan waktu berdua untuk sepasang pengantin baru.


"Ziana, kamu sama nenek saja! Kita jalan-jalan sambil es krim." Ajak Anita sambil melambaikan tangannya.


Ziana menggelengkan kepalanya. "Tidak mau, nek! Nanti mama Amelia pergi lagi." Tolak Ziana.


"Tidak sayang, sekarang Mama Amelia sudah menjadi mamamu. Dia tidak akan pernah meninggalkanmu lagi." Jawabnya Anita dengan lembut.


Marcell merenung sejenak, Ia bangkit dari paha Amelia. "Biarkan saja, Ma! Lagi pula Ziana pasti rindu sama Mamanya." Tutur Marcell yang punya niat lain.


Marcell tidak ingin Ziana pergi karena dia tidak ingin menjadi musuh lagi dengan Amelia. Kalau mereka pergi, Amelia pasti akan bersikap dingin lagi kepada dirinya.


Anita masih kekeh dan mengajak Ziana pergi. Setelah mereka pergi, keduanya nampak hening. Amelia yang tadinya ceria berubah menjadi dingin.


"Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan!" Tutur Amelia dengan tatapan dingin.


"Maksudmu?" Tanya Marcell yang pura-pura polos.


Amelia mendelikan matanya sambil melipat kedua tangannya di dada. "Aku tahu, kau mengambil inisiatif untuk bersamaku disaat ada Mama dan Ziana." Jawabnya.


Marcell tersenyum. "Bukannya kamu yang menyuruhku seperti itu! Meskipun kita sudah perjanjian kontrak, tapi di depan mereka kita harus terlihat mesra." Tuturnya tanpa ragu.


Akhirnya Amelia mengalah dan pergi meninggalkan Marcell sendiri. Sedangkan Marcell tersenyum sendiri mengingat kekocakannya berebut Amelia dengan sang anak.

__ADS_1


"Aku akan selalu membuat alasan di depan mereka, agar cintamu terhadapku bisa tumbuh kembali." Ucapnya yang terlihat bahagia.


...


Dokter Farel nampak sedang berada di ruangannya. Ia melihat handphone dan melihat foto Marcell dan Amelia yang sedang melakukan pernikahan. Keduanya terlihat bahagia dan hati dokter Farel terasa terbakar.


"Kenapa Mel, kenapa harus Marcell? Dia membuat kesalahan yang sangat besar, tapi kamu bisa memaafkannya dan sekarang malah menikah dengannya." Tuturnya dengan sedih.


Tok...tok...


Terdengar suara ketukan pintu, Dokter farel menyimpan handphonenya dan menyuruhnya masuk.


Terlihat seorang wanita dengan pakaian Dokter masuk. Ia memberikan senyumnya dan langsung menyapa dokter Farel dengan ramah.


Dokter Farel tersenyum dan keduanya saling berjabat tangan. Mereka memperkenalkan namanya masing-masing.


"Nama saya dokter Rachel! Semoga kita bisa bekerja sama kedepannya." Tuturnya.


Dokter Farel dan Dokter Farel sekarang di tugaskan di rumah sakit yang sama. Mereka satu jurusan dan dokter Farel nampak terkesima melihat kecantikan dan kepintaran Patner nya.


"Saya tidak menyangka, bisa bertemu dokter seperti anda. Sudah cantik, pintar lagi." Tutur Dokter farel.


Rachel nampak tersipu malu, pipinya terlihat memerah. "Dokter Farel bisa saja!"

__ADS_1


Mereka dalam sekejap nampak sudah akrab, keduanya saling mengobrol agar tidak terasa canggung untuk kedepannya.


"Wanita cantik seperti dokter Rachel pasti di kelilingi lelaki tampan. Apakah anda sudah punya kekasih atau punya suami?" Tanya Dokter farel.


"Dokter Farel bisa saja! Karier mulus bukan berarti kehidupan kita juga akan lebih baik. Terutama masalah pasangan, saya bukan wanita beruntung seperti kebanyakan lainnya." Jawab dokter Rachel.


"Kalau seperti itu, kita berjodoh!" Ucap Dokter farel.


Dokter Rachel nampak mengerutkan keningnya, Ia terlihat salah paham dengan ucapan dokter Farel.


"Maksudnya?" Tanyanya dengan pelan.


"Iya, kita sama-sama kurang beruntung dalam mencari pasangan. Saya ditinggal nikah dan bahkan cinta saya bertepuk sebelah tangan. Padahal saya telah melakukan segalanya untuk wanita itu." Jawab dokter Farel.


Dokter Rachel yang mendengarnya nampak iba, mereka memang memiliki nasib yang sama.


"Apakah dokter Farel serius, lelaki setampan! Mungkinkah di tolak oleh wanita." Ucapnya tak percaya.


"Kenapa tidak? Harta, rupa dan tahta bukan segalanya kalau di hadapan kan dengan yang namanya cinta. Jabatan tidak menjamin cinta akan mudah mendekat." Jawabnya.


Dokter Rachel nampak kagum, baru pertama bertemu tapi dia sudah merasa nyaman.


"Mungkin nasibku sama seperti dokter Farel! Tapi aku tidak yakin, jika kita akan bisa bersama hanya karena sesuatu yang kebetulan." Batinnya.

__ADS_1


__ADS_2