Rahim Bayaran Mr. M

Rahim Bayaran Mr. M
Bab 62


__ADS_3

Pipi Amelia nampak memerah dan beranjak pergi. "Itu sih, enak di kamu bukan di aku." Ucapnya.


Marcell tersenyum dan bangkit dari tempat duduknya. Ia memeluk Amelia dari belakang.


"Benarkah? Apakah kau tak menginginkannya?"


Deg...Deg...


Jantung Amelia berdebar kencang, Ia mulai bingung, apa yang harus di jawab. Marcell memeluk Amelia dari belakang dan terlihat air mata murni menetes dari kelopak matanya.


"Mel, aku sangat mencintaimu! Aku berharap, semoga kita bisa melewati badai di hubungan ini." Ucap Marcell dengan penuh harapan.


Amelia terdiam, Ia benar-benar heran dengan tingkah Marcell. Ia merasa Marcell seperti sudah lama mengenal dirinya.


"Cell, apa kita saling kenal sebelumnya?" Tanya Amelia.


Marcell nampak terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan Amelia.


"Eem, memangnya kenapa?" Tanya Marcell.


Amelia membalikkan tubuhnya dan mereka saling menatap. Ia meraba wajah Marcell dengan tangannya yang mulus.


"Aku merasa setiap sentuhan mu itu, seperti aku sudah lama merasakannya. Aku merasa nyaman, meskipun kita baru kenal sebentar. Dan aku juga merasa jika kamu adalah hal yang berarti di hidupku." Tutur Amelia.


Marcell tersenyum dan menggenggam tangan Amelia. "Itu mungkin yang dinamakan cinta pada pandangan pertama. Kamu tahu, aku juga merasakan hal yang sama." Jawabnya dengan lembut.

__ADS_1


Amelia memeluk Marcell sambil tersenyum. "Aku tak menyangka, bisa mengenal lelaki baik dan sempurna seperti dirimu." Ucapnya bahagia.


Marcell membalas pelukannya dan matanya mulai berkaca-kaca.


"Aku tak tahu, jika suatu saat nanti kau mengetahui yang sebenarnya. Apakah perkataan itu masih bisa ku dengar." Batin Marcell yang sedih.


Amelia melepaskan pelukannya dan pamit untuk pergi mandi. Marcell menatap kepergian Amelia dengan kesedihan.


"Aku tak ingin kehilanganmu, aku ingin kita selamanya bersama seperti ini. Aku ingin kehangatan dari tubuhmu dan semua perhatianmu itu. Aku akan berusaha mempertahankan mu, meskipun suatu saat nanti kau akan membenciku."


Akhirnya Amelia selesai mandi, Ia nampak mengintip di balik pintu. Dan terlihat Marcell sudah tidak ada. Ia akhirnya keluar dan matanya nampak membulat melihat batu kerjanya sudah ada di atas ranjang.


"Siapa yang menyiapkan bajuku? Apa jangan-jangan Marcell, tapi mungkinkah dia juga mengambil bra dan..." Ucap Amelia yang merasa malu karena melihat ****** ***** dan bra yang sudah di siapkan Marcell.


Drett...Drett...


"Cepetan, aku sudah lapar. Dan ingat, pakailah pakaian yang sudah ku siapkan. Termasuk bra dan ****** ********, aku sengaja memilih yang itu karena aku membayangkan jika dirimu akan terlihat seksi saat memakainya."


Begitulah isi dari Chat tersebut, Amelia nampak malu sekali saat membacanya.


"Kenapa lelaki itu berani sekali? Bagaimana ini, jika aku memakainya pasti Marcell akan besar kepala dan pikirannya mesum. Tapi bila tidak..." Gerutu Amelia kesal.


Akhirnya Ia memutuskan untuk menggunakan pakaian yang di sediakan oleh Marcell. "Terserah dia mau berpikir apa! Lagi pula ini sudah siang, aku bisa terlambat." Ucapnya.


Akhirnya Amelia keluar dari kamar dan segera menuju dapur, Ia membuat nasi goreng dan tanpa disadari Marcell sudah duduk di meja makan memperhatikan dia memasak.

__ADS_1


"Kamu terlihat cantik menggunakan pakaian yang kusiapkan." Tuturnya.


Amelia pura-pura tak mendengar, Ia lebih fokus untuk membuat nasi goreng. Akhirnya Marcell bangkit dari duduknya dan memeluk Amelia dari belakang.


"Apakah kau memakai bra dan ****** ***** yang sudah ku siapkan juga?" Tanyanya sambil berbisik.


Pipi Amelia memerah dan Ia tak fokus. "Kalau begitu, aku gak akan jadi masak nasi gorengnya." Jawab Amelia marah untuk menghindari rasa malunya.


"Iya...iya! Aku gak akan mengganggumu, tapi cepat yah aku lapar." Tutur Marcell sambil pergi.


Marcell berjalan dan duduk di ruang tamu dan terlihat Dimas datang menghampiri dengan tatapan tajam.


"Aku tak ingin kau menyakiti kakakku!" Ucapnya ketus.


Marcell yang melihatnya langsung memberi senyuman terbaiknya.


"Eh Dimas, kenapa kau terlihat seperti itu?" Tanyanya dengan santai.


"Aku serius...! Aku tak akan mengizinkan lelaki seperti dirimu menyakiti kakakku." Ucapnya dengan serius.


Marcell bangkit dan menghampiri Dimas. Ia menekuk lututnya dan berdiri sejajar.


"Aku bangga sama kamu, meskipun kamu masih kecil tapi kamu kuat dan tegar." Tutur Marcell.


"Meskipun usia ku masih anak-anak, tapi aku memberi peringatan untukmu. Jika kau menyakiti hati kakakku, kau akan berurusan dengan ku." Ancam Dimas dengan serius.

__ADS_1


"Aku janji tidak akan menyakiti kakakmu, aku akan selalu mencintainya sampai ajal menjemput memisahkan kita." Jawab Marcell dengan serius.


__ADS_2