Rahim Bayaran Mr. M

Rahim Bayaran Mr. M
Bab 74


__ADS_3

Dimas yang saat ini sedang di rumah bersama pembantunya nampak rindu terhadap Amelia. Ia mulai memandangi wajah sang kakak.


"Kakak, aku turut bahagia atas pernikahanmu. Semoga kakak selalu bahagia dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik." Tuturnya sambil tersenyum.


Sang pembantu datang dan menghampiri sambil membawa makanan yang di bawanya.


"Den, makan dulu yah!" Ucapnya.


Dimas tersenyum. "Terimakasih bi, apa bibi sudah makan?" Tanya Dimas.


"Sudah den!"


Dimas mengambil makanan tersebut dan pembantunya diminta untuk tetap bersamanya.


"Bibi disini dulu saja! Aku kesepian sendirian tanpa kak Amelia." Ujarnya.


Bibi duduk dan melihat Dimas yang sedang makan. Ia mengelus rambutnya dengan lembut.


"Den, yang sabar yah! Nona Amelia pasti akan datang untuk menjemputmu." Tutur bibi dengan lembut.


"Aku baik-baik saja bi, yang terpenting kakak bahagia bersama keluarga barunya. Dan terimakasih, bibi selalu ada bersamaku disini." Ucapnya sambil tersenyum.


Bibi memeluk Dimas, Ia merasa sedih karena anak seumuran dia sudah merasa kesepian. Setelah selesai makan, bibi mengajak Dimas untuk berbelanja ke pasar agar mengurangi kebosanannya.


Dimas begitu bahagia, mereka pergi saling bergandengan tangan. Dan disaat mereka pergi, Amelia datang bersama Ziana. Ia bermaksud untuk membawa Dimas ke rumah Marcell karena mereka telah mengizinkan nya.


"Ma, rumahnya sepi!" Tutur Ziana.


"Iya sayang, mungkin mereka sedang pergi ke luar." Jawab Amelia yang terlihat cemas.


Amelia meraih handphonenya di tas, Ia mencoba menghubungi bibi sang pembantu. Tak lama, akhirnya telpon di angkat dan Amelia terlihat lega.


"Hallo, bibi dimana?"

__ADS_1


"Non, saya sedang di pasar dan kebetulan den Dimas ikut bersama saya. Kalau non mau masuk, kuncinya saya simpan di pas bunga dekat pintu." Tuturnya dari balik telpon.


Akhirnya Amelia mengakhiri pembicaraannya di telpon, Ia meraih kunci di vas bunga seperti yang di beritahukan oleh bibi.


Amelia dan Ziana masuk ke dalam, mereka duduk di ruang tamu sambil menunggu kedatangan Dimas dan pembantunya.


"Sayang, kamu mau minum apa?" Tanya Amelia dengan lembut.


"Aku susu yang dingin, Ma!" Jawab Ziana dengan suara lucunya.


"Baiklah, kamu tunggu sebentar yah! Mama buatin dulu susunya." Ucapnya sambil melenggang pergi.


Ziana nampak anteng, Ia memainkan handphone sambil melihat sekeliling rumah.


"Rumah mama bagus, kalau aku tinggal disini pasti betah." Tuturnya.


Akhirnya, Amelia membawa dua gelas susu bersama dengan kue kering. Ia melihat Ziana yang terlihat bahagia.


Ia berjalan mendekati Ziana dan memberikan susunya. Ziana yang melihatnya langsung tersenyum dan meminum pesanannya itu.


"Mama Ziana suka banget semua makanan dan minuman yang di buat, Mama!" Ucapnya dengan bibir yang belepotan.


Amelia mengambil tisu dan menyusut bibir Ziana.


"Sayang, kamu makannya berantakan!"


Ziana tersenyum dan Amelia memeluknya, tak lupa ia juga mencium keningnya. "Mama tidak mau kehilangan kamu, apapun yang terjadi kita harus tetap bersama." Batinnya.


Setelah menunggu lama, akhirnya Dimas dan Boni pulang. Mereka langsung menghampiri Amelia dan Dimas langsung memeluknya.


"Kakak, aku rindu sekali! Kakak tahu, sehati tanpamu bagaikan setahun." Ucap Dimas dengan riang.


Amelia mencium keningnya. "Maaf yah, kakak meninggalkan kamu sama bibi!"

__ADS_1


"Iya kak, tidak apa-apa! Lagi pula, aku sudah besar dan bukan anak kecil lagi." Jawab Dimas sambil tersenyum.


Dimas menatap Ziana dengan lekat, Ia merasa wajahnya terlihat mirip dengan Amelia sewaktu kecil yang ads di album foto.


"Kak, siapa anak kecil ini?" Tanya Dimas.


"Namanya Ziana! Dia anak dari suami Kakak." Jawabnya sambil tersenyum.


Ziana menatap Dimas dan Ia pun tersenyum dengan manis.


"Hai kak, namaku Ziana!" Tuturnya sambil menyodorkan tangan.


"Namaku Dimas dan kamu bisa memanggilku Om Dimas." Jawabnya.


"Baiklah!"


Keduanya nampak mengobrol bersama, Amelia dan bibi yang melihatnya nampak tersenyum bahagia.


"Non, kasian den Dimas jika ditinggal di sini!" Tuturnya mengawali pembicaraan.


"Iya bi, saya tahu! Dimas akan saya bawa bersama ke kediaman kami." Ucap Amelia.


Bibi nampak menundukkan kepalanya, Ia terlihat sedih karena pekerjaannya pasti aku berakhir. Amelia yang melihatnya, langsung merangkul sang pembantu.


"Bi, aku ingin bibi tinggal disini dan membawa anak bibi." Ucap Amelia.


"Tapi non...!" Ucap bibi terhenti.


"Sssttt! Bibi tenang saja, aku akan tetap menggaji bibi. Bibi telah lama ikut dengan kami, aku tak ingin bibi pergi." Ucapnya.


Bibi nampak terharu dan memeluk Amelia. "Terimakasih non, saya bahagia bisa mendapatkan majikan seperti anda." Ucapnya.


Amelia merasa senang, bibi adalah pembantu yang jujur dan setia. Dia adalah saksi dari kehancuran dan kesuksesan Amelia. Bibi adalah pembantu yang di berikan oleh Marcell dulu, karena Amelia merasa nyaman jadi Ia membawa bibi bersamanya da Ia bahkan telah menganggapnya sebagai seorang ibu.

__ADS_1


__ADS_2