
Malam pun tiba, suasana malam ini terasa dingin. Ada angin kencang yang masuk ke kamar Marcell lewat jendela yang terbuka. Marcell menutupnya dan terlihat foto Indira mengeluarkan air mata.
"Apa maksud dari semua ini?" Tanyanya sambil menatap Foto tersebut.
Dan tiba-tiba keluar rambut dari foto dan wajah Indira tersenyum. Tubuh Indira keluar dari foto tersebut dan angin pun berhembus dengan kencang.
Indira mendekati Marcell dengan wajah pucat dan tatapan mata merah. "Aku tidak rela, jika kau bersatu dengan Amelia. Kau adalah pembunuh, aku menjadi seperti ini karena dirimu." Ucapnya sambil meneteskan air mata darah.
Marcell nampak terkejut melihat Indira yang ada di hadapannya. "Indira... ka...kamu sudah meninggal!"
"Ya aku sudah meninggal, tapi aku akan hidup di hatimu sebagai belenggu. Aku tidak rela melihat kau bahagia dengan wanita lain, apalagi itu Amelia." Tuturnya.
Marcell bangkit dan mencoba mendekati Indira. "Kamu harus mengerti, dunia kita sudah berbeda. Dan aku berhak bahagia di dunia ini." Jawab Marcell.
"Tidak...!" Teriak Indira sambil menghempaskan tangannya.
Prang...prang...
Kaca jendela pecah dan semua foto jatuh. Banyak pecahan kaya yang tergeletak di lantai. "Indira, hentikan!" Teriak Marcell.
Indira tersenyum. "Kenapa...Apakah kamu takut? Atau kamu adalah seorang pengecut." Jawabnya.
"Aku tahu, saat itu aku salah. Tapi bukannya aku sudah minta maaf sama kamu dan kamu juga meninggal dengan damai." Jawab Marcell dengan air mata.
__ADS_1
"Tidak semudah itu Marcell, kau mendiamkan ku dan mengacuhkan ku hanya karena Amelia." Jawab Indira sambil menundukkan kepalanya.
Marcell perlahan mendekati Indira, Ia berjalan di atas pecahan kaca. Marcell menahan dan tanpa di sadari kakinya sudah penuh dengan darah. Rasa sakitnya, Ia tahan karena ingin membujuk Indira.
"Sayang...aku mohon tolong jangan seperti ini!" Pintanya.
Indira menatap Marcell dengan tatapan penuh emosi. Ia menaikkan tangannya yang sedang memegang pecahan kaca.
"Kau harus mati!" Teriak Indira.
Marcell berjalan mundur dan tubuhnya mentok di dinding. "Sayang hentikan, aku mohon."
"Tidak...! Kau harus ikut denganku agar aku tidak merasa sakit hati untuk yang kedua kalinya." Ucapnya sambil menancapkan pecahan kaca tepat di jantung Marcell.
Marcell merasa kesakitan dan darah pun mulai mengalir deras. "Indira aku minta maaf! Aku minta maaf." Pintanya.
Indira menggelengkan kepalanya dan menusukkan pecahan kaca tersebut hingga berkali-kali.
"Aw, Indira...Indira... hentikan! Hentikan...Indira..." Teriak Marcell.
Anita yang mendengar suara anaknya langsung berlari menghampiri sang anak. Ia melihat Marcell yang sedang tertidur dan menjerit sambil memegang dadanya.
"Marcell... Marcell...Bangun!" Ucap Anita membangunkan Marcell.
__ADS_1
"Indira, hentikan." Jawabnya Marcell sambil berteriak.
Anita langsung mengambil air di atas meja kecil dan mengguyurkan nya ke waja Marcell.
Marcell bangun dengan terengah-engah. Ia melihat sekeliling dan semuanya masih bersih. Anita menghampiri dengan wajah panik dan memeluk Marcell.
"Sayang, kamu kenapa?"
"Ma, aku bermimpi Indira. Dia ingin membunuhku dan dua bilang tidak rela jika aku bersama dengan Amelia." Jawab Marcell.
Anita menggelengkan kepalanya. "Itukan hanya mimpi, ayo kamu minum dulu agar lebih tenang."
Marcell meminum air yang di berikan oleh sang Mama. Dan Ia pun membuang nafas dengan kasar, Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Ya, semua ini hanya mimpi!" Tuturnya.
"Ya sudah, kamu tidur lagi yah! Ini masih malam, Mama ke kamar dulu mau istirahat." Ucap Anita.
Marcell menganggukkan kepalanya dan Anita pun pergi, tak lupa Ia mengecup kening sang anak.
Marcell nampak terdiam memikirkan mimpi itu, Tapi rasa sakitnya terasa nyata. Apalagi di bagian telapak kakinya. Marcell melihat telapak kaki dan Matanya membulat sempurna.
"Kenapa kakiku berdarah dan ada pecahan kaca?" Tanyanya yang tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1