
Setelah Amelia tenang, Anita meninggalkannya dan pergi menuju rumah sakit Medika untuk menjenguk menantunya. Tak lupa, Ia membawa bingkisan untuk sang bayi.
Tak membutuhkan waktu lama, Anita telah tiba di depan ruangan Indira. Ia membuang nafas panjang dan menghembuskan dengan kasar.
"Hai, sayang!" Sapa Anita dengan senyum yang merekah.
Indira nampak bahagia dan membalas dengan senyuman. Indira terlihat sedang menggendong bayinya dan Marcel tengah duduk di sofa.
"Mama...! Akhirnya datang juga, coba lihat cucu Mama sudah rindu." Tutur Indira.
Anita langsung menghampiri dan menggendong bayi tersebut. Ia bahagia melihat cucunya baik-baik saja. Dan timbul rasa kesal di hati Anita saat melihat Indira.
"Bayinya lucu banget dan cantik!" Ucapnya.
"Siapa dulu dong Mamanya, Indira." Jawab Indira dengan sombongnya.
Anita menyunggingkan senyumnya. "Apa kamu yakin ini bayimu, kenapa wajahnya tidak mirip sama kamu." Tutur Anita sambil memainkan bayinya.
Dalam sekejap, Indira terdiam dan memikirkan alasannya. "Ah, mungkin Mama salah! Lagipula bayi baru lahir bagaikan bunglon dan kalau sudah besar pasti dia juga mirip sama aku." Jawab Indira.
__ADS_1
"Semoga saja!"
Indira nampak heran dengan perilaku sang mertua, Ia tidak mengucapkan selamat kepada dirinya ataupun menciumnya. Ia lebih memilih memainkan bayi yang di gendongannya.
"Ma, kenapa tidak memelukku?" Tanya Indira.
"Eem, apakah harus! Sekarang kasih sayangku sudah berubah kepada anak ini!" Jawab Anita ketus.
"Oh iya!" Ucap Indira dengan senyum tipis.
Marcell yang duduk dari tadi hanya diam dan tak membantu Indira. Ia tahu betul, jika sang Mama sedang marah kepada dirinya karena telah mengambil anak Amelia.
Setelah cukup lama Anita menggendong, bayinya mulai terlelap sambil tersenyum. Di temani lesung pipi yang semakin membuat bayi tersebut terlihat lucu.
Setelah Anita melepaskan bayi itu ke tempat tidur. Matanya mulai terbuka, dan bayinya menangis.
"Ah sayang, kamu lapar yah!" Tuturnya sambil menggendong bayinya kembali.
Anita menoleh ke arah Indira dan memberikan bayinya. "Cepat kasih bayinya ASI, kasian dia menangis terus!" Tuturnya.
__ADS_1
Indira tak berani menolak, Ia mengeluarkan putingnya dan mencoba menyusui di hadapan Anita. Ia tidak ingin rahasianya terbongkar. Bayi terus menghisap ******, tapi nyatanya tidak ada.
Indira nampak kesakitan dan kesal. Tapi Ia tahan karena ada sang mertua di hadapannya.
"Mas, coba kamu cari susu SGM! Kasihan bayinya, lagi pula ASI ku belum keluar." Tutur Indira.
Anita nampak malas mendengarkannya sambil memutarkan bola mata. Sedangkan Marcell keluar dari ruangan dan Anita mengikutinya. Setelah cukup jauh dari ruangan, Anita langsung memberikan tamparan di pipi Marcell dengan keras.
Marcell tak melawan ataupun berkata-kata, Ia hanya diam dan pasrah dengan apa yang di lakukan sang Mama.
"Kenapa kamu tak melawan ataupun berontak?" Tanya Anita sambil membulatkan matanya.
"Lakukan saja apa yang Mama mau, semua ini memang salahku! Aku tak berdaya dan aku tak bisa melakukan apapun." Jawab Marcell dengan pikiran yang masih berantakan.
"Kalau begitu, lepaskan Amelia secepatnya. Biarkan dia mendapatkan kebahagiaan di luar sana dengan lelaki lain. Berikan rumah itu dan berikan uang tidak terhitung jumlahnya." Tutur Anita.
"Kenapa harus rumah itu, rumah itu adalah kenangan keluarga kita!" Protes Marcell.
"Tidak ada yang perlu di pertahankan. Biarkan Amelia mendapatkan hidup yang nyaman dan tidak kekurangan apapun. Setidaknya dengan uang dan rumah itu, Amelia bisa hidup lebih baik dan tidak terjadi hal seperti ini lagi." Ucap Anita.
__ADS_1
"Baiklah, jika itu yang Mama mau! Tapi tolong, jangan bersikap seperti itu kepada Indira!" Jawab Marcell.
Anita menyunggingkan senyumnya. "Kalau untuk masalah itu, kami tidak perlu ikut campur. Biarkan Mama yang mengajari istri egois seperti Indira." Ucap Anita sambil melenggang pergi.