Rahim Bayaran Mr. M

Rahim Bayaran Mr. M
Bab 63


__ADS_3

Akhirnya Amelia selesai membuat sarapan. Ia memanggil Marcell dan Dimas untuk makan bersama. Amelia nampak perhatian terhadap keduanya, Ia mengambilkan nasi goreng untuk mereka berdua.


Marcell dan Dimas nampak sangat menikmati, terutama Marcell. Ia sangat merindukan nasi goreng ini dan ia juga terlihat nambah lagi.


"Mel, bagaimana kalau kita langsung nikah saja! Tidak perlu tunangan dulu." Ucap Marcell dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.


Amelia terdiam dan Dimas menjawab ajakan dari Marcell.


"Kak, sebaiknya tunangan saja dulu! Kakak belum mengenal kak Marcell, apalagi kalian baru beberapa bulan saling mengenal." Tutur Dimas memberi usulan.


Marcell nampak kesal, Ia mengepalkan tangannya untuk menahan emosinya.


"Dasar bocil, kau tahu jika aku menginginkan sesuatu yang sudah tak tertahankan. Sekarang kau memberi usulan yang tak masuk akal." Batin Marcell yang geram.


Amelia tersenyum dan mengangguk. "Yang Dimas katakan ada benarnya, aku juga belum mengenal betul siapa kamu dan seperti apa kepribadian mu." Jawab Amelia sambil melihat ke arah Marcell.


"Ya, aku ikut baiknya saja! Tapi, aku sangat berharap bisa secepatnya menikah denganmu. Aku membutuhkan pendamping seperti dirimu yang cantik dan perhatian." Jawab Marcell dengan lembut.


Dimas yang mendengar semua itu nampak tersenyum, ada perasaan puas melihat Marcell yang terlihat kesal.


Dimas sengaja melakukan semua ini karena takut jika sang kakak di sakiti lagi. Ia ingin menguji kesetiaan dari Marcell.


Sedangkan Marcell, sangat bertolak belakang. Ia terlihat kesal apalagi melihat wajah Dimas.


"Awas saja, kalau kau dewasa nanti! Aku sebagai kakak ipar, tidak akan mengizinkan kau tuk menikah." Maki nya di dalam hati.

__ADS_1


Akhirnya mereka selesai sarapan, setelah Amelia mencuci piring. Ia langsung bergegas merapikan riasan di wajahnya yang terlihat sudah luntur.


Setelah selesai Amelia dan Marcell pergi ke kantor. Dan tak lama mereka pergi, Dokter Farel datang menghampiri Dimas yang sedang duduk di luar.


"Hai, Dimas...!" Sapanya.


Dimas nampak diam, karena Ia tahu jika dokter Farel telah menyakiti kakaknya. Dokter Farel yang pandai merayu, langsung duduk di sampingnya dan memberikan coklat.


"Dimas, apa Amelia ada di dalam?" Tanyanya sambil tersenyum.


"Tidak ada!" Jawabnya dingin.


"Kemana?"


"Mungkin mereka sedang mempersiapkan foto prewedding untuk pernikahan mereka." Jawab Dimas yang terlihat puas.


"Kamu masih kecil sudah pandai untuk berbohong!" Ucap Dokter Farel tak percaya.


"Terserah, mau percaya atau tidak. Yang terpenting, kakakku lebih bahagia dengan lelaki itu. Dari pada bersamamu yang hanya bisa menyakiti dan menghianati nya." Jawab Dimas Dimas sambil masuk ke dalam rumah.


Dokter Farel terlihat membeku, Ia memijat kepalanya yang terasa sakit.


"Mungkinkah, dugaan ku benar! Kemarin, aku hanya bicara asal tapi ternyata dia benar-benar sudah punya kekasih. Tapi siapa lelaki yang bisa menaklukkan hati Amelia selain diriku. Pokoknya Amelia hanya milikku, aku tak terima semua ini." Ucapnya yang geram dan pergi.


...

__ADS_1


Di kediaman Marcell...


Terlihat Anita sedang mengatur para pekerja dekor, Ia ingin pesta untuk sang cucu meriah dan mengesankan.


Ziana yang melihat semua itu nampak bahagia, Ia menghampiri Anita dan memeluknya dengan erat.


"Terimakasih, Nek! Ziana bahagia sekali, tapi apakah papa akan memberikan Hadiah yang Ziana minta." Ucapnya termenung.


Anita tersenyum dan memeluk pipi Ziana. "Memangnya kamu meminta hadiah apa dari Papa?" Tanyanya.


"Eem, Ziana hanya minta untuk punya mama. Ziana minta, papa menikahi Tante Amelia di hari ulang tahunku." Jawab Ziana.


Anita tersenyum mendengar jawaban dari sang cucu. "Semoga saja, tapi Nenek tak yakin jika Papa mu bisa menaklukkan hati Tante Amelia."


"Nenek, papa itu lelaki yang tampan. Tidak mudah, wanita untuk bisa menolaknya." Jawab Ziana dengan tingkat lucunya.


"Iya sayang nenek tahu, tapi tidak semua wanita bisa tertarik dengan papamu. Apalagi tempramen nya jelek dan dia juga gampang marah." Jawab Anita.


Dan disaat itu juga, Marcell dan Amelia tiba dengan saling bergandengan tangan.


"Mungkin Mama terlalu memandang rendah anakmu ini!" Ucapnya sambil menghampiri dan tersenyum.


Ziana yang melihatnya langsung tersenyum dan Berlari ke arah mereka.


"Papa, Tante Amelia!" Teriaknya dengan girang.

__ADS_1


Anita yang melihat semua itu nampak tersenyum bahagia, akhirnya harapannya bisa terpenuhi.


"Amelia adalah sumber kebahagiaan untuk Ziana dan Marcell. Aku berharap, kalian bisa bahagia seperti ini terus. Selamanya.....!"


__ADS_2