
Hari telah menjelang siang, kerinduannya terhadap sang anak tak bisa di bendung lagi. Akhirnya Amelia memutuskan untuk membuat makan siang dan dibawa ke kediaman Marcell.
Amelia nampak semangat untuk memasak, meskipun hatinya masih kesal kepada Marcell tapi Ia tidak ingin kehilangan Ziana.
...
Di kediaman Marcell...
Terlihat Ziana nampak manyun karena Amelia sulit untuk di hubungi. Anita yang melihatnya langsung menghampiri dan mengelus rambutnya.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanyanya.
hiks...hiks...
Ziana nampak menangis dan tersungkur di pelukan sang nenek. Anita nampak merasa kasian, tapi apalah daya. Ia mengira jika Amelia belum bisa menerima semua penjelasan yang di berikan nya.
"Nek, kemana Tante Amelia? Apa dia marah sama Ziana karena Ziana nakal?" Tanyanya dengan mata yang sembab.
"Mungkin, Tante Amelia sedang sibuk! Kalau sudah selesai, dia pasti akan menemui mu." Jawabnya seraya menenangkan.
Marcell yang melihatnya nampak sedih, Ia merasa jika Amelia tidak akan pernah kembali. Meskipun Ziana adalah anaknya juga tapi kebenciannya terhadap keluarga Marcell membuatnya menjauh.
Ting...tong...
Dan disaat itu juga, terdengar suara bunyi bel. Anita menyuruh pembantunya untuk membuka pintu.
Pembantunya pun membuka pintu dan terlihat tamu itu langsung nyelonong masuk sambil membawa rantang yang cukup besar.
"Ziana!" Sapa nya dengan senyuman.
Ziana, Anita dan Marcell langsung menoleh ke arah suara. Hati mereka yang sedih seketika langsung membaik, terutama Ziana. Ia langsung berlari dan memeluknya.
__ADS_1
"Tante Amelia, kemana saja? Ziana rindu dan Ziana pikir Tante benci sama aku." Tuturnya dengan tingkah manjanya.
Amelia tersenyum dan mencium kening Ziana. "Siapa yang bisa membenci anak selucu kamu! Kemarin Tante sedang ada pekerjaan dan sekarang kamu lihat Tante bawakan makan siang untuk kalian semua." Jawab Amelia.
Ziana nampak bahagia dan bersorak. "Hore...! Kita akan makan siang bersama." Ucapnya.
"Iya, biar Tante tata dulu di meja makan yah!"
"Aku ikut Tante, aku juga ingin bantu Tante." Jawab Ziana.
"Ya sudah, ayo!" Ajak Amelia.
Marcell dan Anita yang melihatnya nampak bahagia, meskipun masih ada segudang pertanyaan di benaknya.
"Sepertinya Amelia sudah bisa menerima, tapi siapa yang menjelaskannya!" Batinnya sambil melihat kearah sang Mama.
Anita hanya tersenyum dan Marcel pun mengerti. "Terimakasih Mama!" Ucapnya sambil mengecup kening sang Mama.
Anita dan Marcell langsung berjalan menuju meja makan. Amelia menyambut mereka dengan hangat dan bahkan Amelia menyiapkan nasi dan lauk pauknya di piring untuk Marcell.
"Tante, masakannya enak banget!" Ucap Ziana sambil mengacungkan jempolnya.
"Iya benar, masakan kamu memang the best sayang." ujar Marcell.
"Terimakasih!" Jawab Amelia yang tersipu malu.
Akhirnya mereka selesai makan dan Amelia nampak membereskan semuanya. Anita langsung menghampiri dan memeluk Amelia.
"Terimakasih sayang, karena kamu bersedia memberikan kami kesempatan kedua!" Ucapnya.
"Iya Tante, semua ini demi Ziana. Aku tak ingin Ziana merasakan kehilangan dan membuatnya terpuruk." Jawab Amelia sambil membalas pelukannya.
__ADS_1
Akhirnya Anita bisa bernafas lega, semua masalah dalam keluarganya bisa berakhir. Anita mengajak Ziana untuk tidur siang karena ingin memberikan waktu untuk Marcell dan Amelia mengobrol.
Marcell mengajak Amelia ke kamarnya dan langsung memeluk Amelia dengan erat.
"Terimakasih sayang, karena kamu bersedia untuk bersamaku." Ucapnya dengan bahagia.
Amelia melepaskan pelukan Marcell dan raut wajahnya mulai dingin. Kehangatan yang Marcell rasakan sekarang berubah.
"Sayang, kenapa? Apa ada yang salah dengan ucapan ku!" Ucapnya tak mengerti.
Amelia menghela nafas panjang dan duduk. Ia mengeluarkan kertas putih yang sudah berisi beberapa perjanjian.
"Kita memang bersatu, tapi kita tidak bisa bersama. Ini yang kau lakukan dulu dan sekarang keadaan nya berbalik. Kau harus mau menandatangi surat perjanjian ini." Tuturnya dingin.
Marcell meraih kertas tersebut dan terlihat Ia nampak tersenyum ketir.
"Benarkah kau setega ini? Kita menikah tapi tidak bersama dan di hadapan mama hubungan kita harus romantis seperti pasangan lainnya." Ucap Marcell yang tak terima.
Amelia melipat kedua tangannya di dada. "Aku tak ingin jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Kau pikir bisa semudah itu aku memaafkan semua kekejian mu itu." Jawabnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Mel...!" Ucap Marcell terhenti.
"Cukup, aku tidak ingin bernegosiasi! Lebih baik kau tanda tangan kertas itu dan satu Minggu lagi kita akan menikah. Aku tak ingin, anakku kehilangan sosok seorang ibu karena keegoisan mu." Tuturnya.
Marcell akhirnya menyetujui semua perjanjian yang ada di kertas tersebut. Meskipun hatinya merasa berat, tapi Marcell yakin suatu hari nanti hati Amelia pasti akan luluh karena cintanya.
"Aku sudah menandatangani surat perjanjian ini! Semoga suatu saat nanti, kau sendiri yang merobek surat ini." Ucap Marcell.
Amelia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Itu semua tidak akan mungkin terjadi karena kau dan aku selamanya akan hidup bagaikan air di daun talas." Ucap Amelia sambil melenggang pergi.
Amelia nampak sedih dan menghapus air matanya. "Semoga saja! Aku bisa mengubur semua rasa cinta ini seiring berjalannya waktu." Batin Amelia.
__ADS_1
Sedangkan Marcell masih terdiam, Ia merasa jika semua yang dilakukannya terhadap Amelia akan Ia rasakan.
"Mungkin semua ini adalah karma untukku! Tapi, aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku pasti akan mendapatkan hati dan ragamu untuk selamanya." Ucapnya sambil tersenyum.