Rahim Bayaran Mr. M

Rahim Bayaran Mr. M
Bab 75


__ADS_3

Hati sudah menjelang sore, Amelia menyiapkan semua pakaian Dimas dan memasukkannya ke koper. Dimas yang tak tahu tentang kepindahannya nampak heran dan menghampiri sang Kakak.


"Kak, bajuku mau di bawa ke mana?" Tanyanya.


Amelia tersenyum sambil mengelus lembut rambut sang adik.


"Sayang, kamu akan tinggal bersama Kakak dan Ziana di rumah Kak Marcell." Jawabnya.


Dimas nampak terdiam, Ia duduk di tepi ranjang. "Kak, aku mau disini saja! Aku tidak ingin menjadi beban di kelurga baru kakak. Dan aku juga tidak tega meninggalkan bibi sendiri di sini." Tutur Dimas yang terlihat sedih.


Amelia tersenyum. "Sayang, kamu bukan beban untuk Kakak! Kamu ini adalah semangat hidup kakak di dunia ini, jika kamu tidak ikut kakak akan khawatir sama kamu." Jawabnya dengan lembut.


Dimas menatap sang kakak dengan penuh kerinduan. Dia ingin sekali bersamanya, tapi dia juga tidak ingin menjadi alasan untuk kakak bersedih.


"Kak, aku disini saja! Lagi pula disini juga ada bibi, jika aku pergi bibi akan kesepian." Ucapnya.


"Kamu tenang saja, besok Pak Maman akan menjemput keluarga bibi jadi dia tidak sendiri dan mendapatkan kehidupan yang layak. Kita juga bisa menemui bibi, jika kamu rindu." Tutur Amelia.


Ziana yang mendengarkan dari tadi langsung menghampiri, Ia menggenggam tangan Dimas.

__ADS_1


"Om Dimas, ikut aja sama kita! Aku di rumah kesepian dan aku merasa betah bersama Om Dimas." Tuturnya dengan polos.


Dimas nampak tersenyum, Ia membelai rambut Ziana dengan lembut.


"Ziana, apa kamu yakin akan mengajak Om Dimas ke rumah! Kamu tahu, Om Dimas ini nakal dan setiap hari pasti akan ngisengin kamu." Jawab Dimas.


"Gak apa-apa kok! Lagi pula, aku tuh lebih nakal dari pada Om Dimas. Aku akan menjadi alarm di setiap pagi untuk membangunkan Om Dimas." Ucap Ziana.


Amelia dan Dimas nampak tersenyum, mereka akhirnya memeluk Ziana.


"Baiklah, Om Dimas akan ikut sama kamu!"


Amelia yang mendengar semua itu nampak bahagia, Ia mencium kening Dimas dan Ziana.


Akhirnya mereka bermaksud untuk pulang, tak lupa mereka pamit kepada Bibi. Bibi nampak sedih, Ia memeluk Amelia dan Dimas.


"Non...den! Jangan lupakan bibi yah!" Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Tentu saja bi, bibi sudah kami anggap sebagai ibu kami. Kalau ada waktu luang, kami akan datang kemari!" Tutur Amelia.

__ADS_1


"Iya!" Jawab bibi sambil mengangguk.


Dimas merasa berat untuk pergi, Ia mencium pipi bibi dan tersenyum.


"Bibi, Dimas pergi dulu! Maaf, aku tidak bisa pijat bibi lagi jika kaki bibi sakit." Ucapnya dengan air mata yang mengalir.


Bibi tersenyum dan menghapus air mata Dimas. "Den, semoga kalian selalu bahagia. Bibi akan sangat merindukan kalian." Tuturnya.


Akhirnya Amelia dan Dimas pergi, meskipun rasanya sulit untuk melangkah. Dan di luar, mereka di hadapan oleh dokter Farel yang membawa bingkisan.


"Kalian mau kemana?" Tanyanya sambil melihat koper yang di tenteng Amelia.


"Kami mau pergi ke rumah suamiku! Dan kenapa kami ada disini." Jawab Amelia dengan nada dingin.


"Mel, sampai kapan kamu bersikap seperti ini terus kepadaku! Biarkan Dimas tinggal bersamaku, aku sanggup untuk membesarkannya." Ucap Dokter farel.


Amelia menggelengkan kepalanya. "Memangnya kamu siapa! Kamu tidak ads hak untuk Dimas, dimana pun aku berada di sana pasti ada Dimas." Jawab Amelia.


Dokter Farel menyunggingkan senyumnya. "Mel, hanya aku yang bisa menerima Dimas! Aku tidak yakin, jika Marcell tidak keberatan akan keberadaannya. Dan anak ini pasti..." Ucap dokter Farel terhenti sambil menatap Ziana.

__ADS_1


Amelia menyela ucapannya dan menarik mereka untuk pergi menjauh. "Aku muak mendengar omong kosong mu!" Ucapnya sambil melenggang pergi.


Amelia bergegas membawa mereka masuk ke dalam mobil, Ia tak ingin jika dokter Farel berkata yang tidak-tidak di hadapan Dimas dan Ziana.


__ADS_2