Rahim Bayaran Mr. M

Rahim Bayaran Mr. M
Bab 42


__ADS_3

Marcell yang mendengar kabar itu bagaikan di sambar petir di siang hari. Dunianya terasa runtuh. mendengar kematian dari istrinya. Ia mulai menatap bayi yang di gendong oleh asistennya.


"Semua ini gara-gara kau! Ibumu meninggalkan dan sekarang istriku meninggalkan. Dasar bayi pembawa sial, aku tidak sudi melihatmu." Teriak Marcell dengan begitu emosi.


Asisten tersebut melindungi bayi itu dan Anita pergi menghampiri Marcell yang tengah menyakiti cucunya. Ia menampar Marcell dan mencoba untuk menyadarkannya.


"Kamu gila...! Dia masih bayi, dan mana tidak suka kamu bilang Ziana anak pembawa sial!" Teriaknya.


Marcell tersenyum sambil menangis. "Lalu aku harus menyalahkan siapa? Mana tahu, semenjak kedatangan bayi ini keluarga kita jadi hancur!" Jawabnya.


"Kamu yang seharusnya sadar, semua ini terjadi karena kamu. Indira juga mendapatkan tekanan berat dari kamu!" Teriak Mama Anita.


"Jadi semua ini salahku?" Tanya Marcell sambil tersenyum ketir.


"Iya!"


Marcell menganggukkan kepalanya. "Iya semua ini memang salahku! Aku tidak bisa menjaga Amelia dan secara tidak langsung aku juga telah membunuh Indira. Tapi satu hal yang pasti, semua ini gara-gara bayi sialan ini." Teriak Marcell.

__ADS_1


Baby Ziana menangis dengan keras, melihat Marcell yang menatapnya penuh amarah. Anita langsung mengambilnya dan menenangkan sang bayi.


"Cup, sayang...! Papamu tidak bermaksud seperti itu." Tuturnya menenangkan.


Pak Ardi melihat kedua majikannya sedang kacau, Ia berinisiatif untuk segera melakukan persiapan untuk penguburan Indira.


Sedangkan Marcell, Ia semakin terpuruk. Kehilangan Indira membuatnya semakin jatuh dan menyalahkan dirinya sendiri. Dan dalam hati Marcell, timbul rasa tak suka kepada Baby Ziana. Ia sangat membencinya dan Ia tak ingin melihat wajahnya.


...


Waktu telah berlalu, Indira sudah di kuburkan. Marcell menaburi bunga di atas makamnya. Ia tak henti-hentinya meminta maaf. Ia juga memeluk batu nisan dengan erat.


Anita menghampiri dan memeluk sang anak. "Sayang, kamu jangan seperti ini terus! Kami harus kuat demi anakmu." Tuturnya.


Marcell mendorong tubuh Anita. "Jangan sebut anak itu lagi, dia pembawa sial. Lebih baik Mama buang bayi sialan itu." Teriak Marcell.


"Tidak! Kalau kamu tidak menginginkan bayi itu, Mama yang akan mengurusnya. Dan jika kamu ingin bayi itu pergi, Mama juga akan pergi dari rumah." Jawab Anita sambil melenggang pergi.

__ADS_1


Marcell menatap kepergian Mama Anita, Ia merasa bersalah karena baru kali ini Ia berlaku buruk pada sang Mama. Akhirnya Marcell memutuskan untuk pulang, karena takut Mamanya akan pergi meninggalkannya.


...


Di rumah...


Anita nampak sedang berkemas, Ia tak henti-hentinya menghapus air mata. Rasa kecewa yang dirasakan, membuatnya sakit hati dan nekad untuk pergi.


Marcell pergi menemui Anita, Ia menatapnya dengan kesedihan melihat Mamanya sedang memasukkan pakaian ke dalam koper. Ia berjalan dan memeluk sang Mama dari belakang.


"Ma, maafkan Marcell! Marcell tak bermaksud seperti itu, Marcell mohon jangan tinggalkan aku sendiri." Tuturnya.


Anita tak bisa menghentikan air matanya, Ia begitu sangat menyayangi Marcell. "Maaf, Mama harus pergi!" Jawab dengan berat.


Marcell menunduk di hadapan Anita dan memegang kakinya.


"Jangan tinggalkan aku...! Aku mohon, aku tidak ingin kehilangan orang yang ku sayangi lagi." Tuturnya.

__ADS_1


Anita menatap iba kepada sang anak, Ia langsung memeluknya dengan erat.


"Mama juga sayang sama kamu, Mama tidak ingin kamu terpuruk seperti ini. Jangan ada yang ketiga kalinya, jangan biarkan baby Ziana menjadi korban dari keegoisan mu. Sudah cukup Amelia dan Indira yang pergi." Ucap Anita.


__ADS_2