
3 tahun kemudian...
Hari, bulan dan tahun terus berganti. Tak terasa 3 tahun telah berlalu, kondisi Ziana masih saja sama. Meskipun Rachel telah memberikan terapi dan obat-obatan.
Sekarang usia Ziana sudah menginjak 6 tahun, Marcell menyekolahkan Ziana meskipun gurunya di panggil ke rumah. Ia tak ingin jika sang anak buta akan huruf dan menjadi anak yang bodoh.
Sedangkan Amelia masih saja belum hamil, meskipun Ia dan Marcell sudah melakukan yang terbaik. Bahkan mereka sudah pergi ke dokter untuk mempercepat kehamilan.
Mama Anita nampak ilfil dengan menantu dan cucunya sendiri. Ia merasa jika hidupnya sial dan ada rasa malu di hatinya.
Hari bertepatan dengan ada arisan di rumah, semua teman-teman mama Anita datang ke rumah. Ziana yang penasaran, keluar dari kamarnya. Ia menghampiri sang nenek sambil menggerakkan kursi rodanya.
"Nenek...!" Sapa Ziana.
Mama Anita dan teman-teman menoleh. Semua orang nampak bergunjing dan melihat Ziana dengan tatapan heran.
"Jeng, itu Ziana cucu kamu yah! Sayang sekali, dia lumpuh padahal anak itu cantik dan manis." Tutur salah satu temannya.
__ADS_1
Pipi Mama Anita nampak memerah, Ia bangkit dan mendorong kursi roda Ziana dengan kasar. Ia membawanya ke dapur dan Amelia juga terlihat ada di sana.
"Ziana, kenapa kamu malah keluar dari kamar? Apa kamu ingin melihat nenek malu!" Bentaknya dengan keras.
Ziana terlihat sedih dan Ia pun menangis. Amelia yang melihat semua itu langsung menghampiri dan memeluk sang anak.
"Ma, kenapa harus bentak Ziana?" Tanya Amelia dengan raut wajah sedih.
Mama Anita menatap sinis. "Kamu lagi, seharusnya kamu bisa menjaga anakmu yang cacat ini. Kamu tahu, Mama malu punya cucu cacat seperti Ziana." Ucapnya.
Ziana nampak sedih, hatinya benar-benar terluka. Ia tak menyangka, jika nenek yang selama ini dia sayangi berkata seperti ini. Amelia hanya bisa memeluk sang anak dengan air mata yang tak bisa dihentikan.
Mama Anita memalingkan pandangannya. "Itu dulu, sekarang Ziana hanyalah aib bagi keluarga ini." Jawabnya.
"Ma, aku mohon jangan bicara seperti ini! Seharusnya, Mama support Ziana bukan menghina seperti ini!" Ucap Amelia.
"Mama kurang support apa sama Ziana! Ini sudah 3 tahun Mel, dokter bilang Ziana hanya lumpuh sementara tapi nyatanya apa. Semua cara sudah Mama lakukan, tapi tidak ada kabar baik yang bisa Mana dengar." Ucapnya.
__ADS_1
"Mama harus sabar!"
"Sabar, sampai kapan Mama harus bersabar. Dan kamu, sampai sekarang belum hamil juga. Mama membutuhkan pewaris yang sempurna bukan cacat seperti dia." Teriaknya kesal
"Cukup Ma, jangan bicara seperti itu lagi!" Ucap Amelia yang sudah tak tahan mendengarnya.
Mama Anita menyunggingkan senyumnya. "Kalau kamu sudah tidak tahan mendengar ucapan Mama, lebih baik kamu pergi dari rumah ini. Kehadiranmu hanya membuat keluarga kerajaan berantakan." Jawab Mama Anita sambil memberi isyarat tangan.
Amelia menggelengkan kepalanya. "Tidak Ma, aku tidak akan pergi dari rumah ini tanpa Ziana." Jawabnya sambil menangis.
Mama Anita tersenyum. "Kalau itu yang kamu mau, bawalah anak cacat itu. Aku tidak membutuhkannya lagi, semua harapan ku hancur karena kakinya." Teriaknya.
Amelia terdiam dan menghela nafas panjang. "Baiklah, jika itu yang Mama mau! Aku tidak ingin jika sakit hati karena ucapan Mama yang pedas itu." Tuturnya sambil melenggang pergi.
Amelia segera memanggil Dimas dan menyuruhnya untuk membantu memasukkan baju Ziana. Dan Ia pun segera pergi ke kamarnya dan mengemas semua pakaiannya.
Ziana hanya bisa menangis dan menyesali semua nasib buruknya. Dimas mencoba menenangkan dan menghapus air mata Ziana.
__ADS_1
"Ziana, mulai sekarang kamu tidak boleh cengeng. Kita bisa hidup tanpa ada hadirnya Nenek Anita dan kita akan bahagia karena punya Mama dan Papa." Ucapnya sambil tersenyum.
Ziana memeluk Dimas dan menganggukkan kepalanya. "Iya, aku harus kuat karena ada Om Dimas yang selalu ada untukku." Jawabnya sambil tersenyum.