
Amelia masuk ke dalam rumah dan terlihat dokter Farel tengah duduk santai di ruang tamu sambil menghisap rokok. Amelia yang melihatnya nampak heran karena dokter farel tidak pernah merokok sebelumnya.
"Kamu ngapain disini? Dan ada angin apa hingga kamu merokok seperti itu!" Tanyanya ketus.
"Aku sedang menunggumu. Kamu tahu, ternyata merokok itu bisa membuat kita bahagia." Jawabnya sambil mengepulkan asap rokok.
Amelia duduk dan menatap dokter farel dengan tajam. "Ada apa kamu datang kesini, cepat waktuku terbatas." Jawabnya ketus.
Dokter Farel menatap Amelia yang menggunakan gaun dan terlihat cantik.
"Kamu cantik banget hari ini tapi sayang, semua kecantikan mu terbuang sia-sia." Tuturnya.
Amelia mengepalkan tangannya karena kesal. "Aku muak dengan ucapan mu itu, lebih baik kamu pergi dari sini." Teriak Amelia sambil bangkit.
Dokter Farel nampak tersenyum dan hanya menanggapinya dengan santai.
"Sebentar lagi, kamu akan berterima kasih kepadaku!"
"Apa maksudmu?" Tanya Amelia yang sudah geram dan mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Aku tahu, siapa lelaki bertopeng yang telah menghancurkan hidupmu!" Tuturnya.
Amelia yang tadi malas meladeni dokter Farel langsung duduk kembali. Ia penasaran dengan lelaki itu.
"Cepat katakan dimana lelaki itu, siapa orangnya? Aku ingin menghajarnya dan merebut anakku kembali." Tanya Amelia dengan serius.
ha...ha...
Dokter Farel tersenyum mendengar Jawaban dari Amelia. "Apakah kamu serius dengan ucapan mu itu?"
"Farel, cepat katakan kalau tidak lebih baik kamu pergi dari rumah ku." Teriak Amelia yang sudah habis kesabarannya.
Amelia nampak terdiam, Ia benar-benar tak mengerti apa yang di maksud dokter Farel. Ia mencoba mengingat tapi tak ada yang melintas di pikirannya.
"To the points saja! Jangan bertele-tele seperti ini." Tutur Amelia kesal.
Dokter Farel tersenyum. "Lelaki itu adalah Marcell tunangan mu!"
Bagaikan petir di siang hari, Amelia terdiam dan tubuhnya gemetar. Ia tak percaya dengan apa yang di dengarnya, tak terasa air mata pun jatuh dari kelopak matanya.
__ADS_1
"Aku tahu, kau sengaja mengatakan semua ini agar aku menyudahi hubungan ku dengan Marcell. Kau sengaja karena cemburu melihat aku bersamanya." Jawab Amelia sambil tersenyum ketir.
Dokter Farel menghela nafas panjang. "Awalnya aku tak terima tapi aku mencoba untuk ikhlas asalkan kamu bahagia. Dan akhirnya, aku memutuskan untuk datang di acara pertunangan mu untuk memberikan selamat." Jawabnya.
"Lalu?"
"Sebenarnya, aku terkejut melihat tunangan mu adalah orang yang telah memukuliku."
"Tidak mungkin, pasti kamu salah orang!" Teriak Amelia.
"Kau masih ingat waktu aku bertemu untuk pertama kalinya setelah sekian lama kita tidak bertemu. Kau mengaku telah menikah dan saat itu sedang hamil. Dan disaat aku akan pulang, Marcell mengaku sebagai suamimu dan melarang ku untuk menemui mu lagi sambil menghajar ku tanpa ampun," Jawab Dokter farel dengan serius.
Amelia masih tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Ia menarik tangan dokter Farel dan mengusirnya dari rumah.
"Lebih kamu pergi, aku tidak ingin bertemu lagi denganmu." Teriaknya dengan air mata yang terus mengalir.
"Mel, aku memberitahumu karena aku kasihan sama kamu. Aku tidak ingin, kalau kamu disakiti untuk yang kedua kalinya. Percaya atau tidak, semua itu adalah kenyataan. Meskipun kamu menampiknya, semua ini pasti akan terungkap cepat atau lambat." Jawab Dokter Farel sambil melenggang pergi.
Amelia menutup pintu dan tubuhnya terjatuh ke lantai. Ia mencoba untuk tidak mempercayainya tapi hatinya tak bisa memungkiri.
__ADS_1
"Mungkinkah semua itu benar, kalau memang benar kenapa... kenapa harus kamu Cell! Aku sangat mencintaimu, aku tidak bisa menerima semua ini." Tuturnya sambil menangis.