
Akhirnya Amelia kembali ke rumah dengan wajah yang di tekuk. Ia bisa mengerti semua yang di jelaskan oleh Anita dan Ia juga bisa menerimanya. Meskipun begitu, hatinya masih ragu akan Marcell.
Sesampainya di dalam rumah, dokter farel sudah duduk di ruang tamu. Ia terlihat tersenyum melihat kedatangan Amelia dan menyambutnya dengan bahagia.
"Mel, akhirnya kamu pulang juga! Aku sudah lama menunggumu disini." Tuturnya sambil menghampiri.
Amelia yang melihatnya nampak kesal, Ia memutar bola matanya karena malas melihat wajah dokter Farel.
"Ngapain lagi kamu kesini?" Tanyanya ketus.
Dokter Farel menggenggam tangan Amelia. "Mel, aku kesini ingin menjadi penghibur di hatimu. Aku tahu, saat ini hatimu begitu hancur. Aku kesini datang sebagai lem yang akan memperbaiki kepingan-kepingan di hatimu." Tuturnya yang gombal.
Amelia menghempaskan tangannya. "Sudahlah! Lebih baik kamu pergi, kedatangan mu malah membuat mood ku semakin buruk." Jawabnya sambil duduk di sofa.
"Mel, kesalahanku tidak seberapa! Dan Marcel lebih fatal dari diriku, jadi sebaiknya kamu kembali padaku menjadi istriku dan aku akan menjadi suami terbaik di hidupmu." Tuturnya dengan sombongnya.
Amelia nampak memijat keningnya karena ucapan dokter farel malah membuatnya pusing. Dokter Farel yang melihat semua itu langsung refleks, Ia memijat kepala Amelia.
"Biar aku saja! Aku pandai dalam memijat." Ucapnya sambil memijat dengan pelan.
"Baiklah! Tapi aku tidak ingin kau bicara!" Tuturnya ketus.
Dokter Farel menyetujui dan Ia mulai memijat dengan penuh perasaan. Amelia nampak tenang, setidaknya dokter Farel sudah berhenti bicara.
Dokter Farel yang kepedean malah menyangka Amelia sudah mulai membuka hatinya untuk dirinya. Ia begitu bahagia dan terlihat senyumnya merekah.
"Mel, aku tahu perjalanan cinta kita sangat rumit! Tapi aku yakin, kisah cinta kita akan abadi sampai maut memisahkan." Tuturnya.
Dokter Farel nampak heran, Amelia tak menjawab ucapannya. Tapi Ia tersenyum karena menganggap diamnya Amelia pertanda setuju.
"Aku tahu, kau pasti akan luluh oleh hatiku." Batinnya yang terlihat bahagia.
__ADS_1
20 menit telah berlalu, Dokter farel nampak pegal karena tangannya terus memijat. Ia melihat wajah Amelia dan ternyata Amelia tertidur lelap.
Dokter Farel nampak kesal dan menghentikan pijatannya. "Ternyata Amelia tidur, tapi dari kapan? Apa mungkin ucapku tidak di dengarnya?" Batinnya yang terus bertanya-tanya.
Akhirnya dokter Farel menyerah, Ia membaringkan tubuh Amelia di sofa dan pergi.
"Mungkin kamu kecapean seharian! Aku pergi dulu yah, mimpi yang indah sayang." Tuturnya sambil melenggang pergi.
Amelia nampak mengintip dengan mata kecil, Ia tersenyum dan bangkit.
"Akhirnya, dia pergi juga! Siapa juga yang mau kembali bersamanya." Gerutunya kesal.
Amelia pergi ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Ia meraih handphone dan menatap foto saat bersama dengan Marcell dan Ziana.
"Ziana sayang, ternyata kamu anak mama Nak! Kamu cantik sekali, Mama akan melakukan apapun agar bisa bersamamu." Tuturnya sambil menitikkan air mata.
Tapi moodnya berubah saat melihat Foto Marcell. Ada rasa kecewa di hatinya yang tak bisa hilang. Ia bingung, apa yang harus dilakukan agar bisa bersama Ziana tapi tidak dengan Marcell.
"Tante Anita memang baik dan perkataannya ada benarnya juga! Tapi bagaimana mungkin, aku bersama dengan Marcell disaat hatiku terluka seperti ini." Tuturnya yang bingung.
Akhirnya mata Amelia terlelap, Ia tertidur pulas karena merasa capek dengan hari ini. Ia berharap semoga hari esok, bisa lebih baik dan lebih indah.
Keesokan harinya...
Amelia nampak sedang bermalas-malasan, Ia tak ingin pergi bekerja ataupun beraktivitas lainnya. Ia hanya menonton tv dan memakan cemilan.
Dimas yang melihatnya nampak heran, tak biasanya sang kakak seperti itu. Ia menghampiri dan duduk di sampingnya.
"Kak, apakah aku seseorang yang berharga di hidupmu?" Tanyanya.
Amelia yang mendengarnya nampak tersenyum sekaligus heran. "Dimas, tumben kamu bertanya seperti itu! Oh iya, mungkin kakak lupa kalau kamu sudah bukan anak kecil lagi." Jawabnya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kak, aku serius! Sekarang umurku sudah 12 tahun, aku ini seorang laki-laki dan kewajiban ku untuk melindungi mu." Ucapnya dengan serius.
Amelia yang melihat keseriusan adiknya nampak terdiam, Ia menghela nafas panjang.
"Apa yang ingin kamu tahu?" Tanyanya dengan serius.
"Aku ingin kakak terbuka kepadaku, jika ada masalah tolong katakanlah. Dulu aku masih kecil dan tak mengerti, tapi sekarang aku sudah besar dan otakku berfungsi dengan baik." Jawab Dimas dengan meyakinkan.
Amelia tersenyum dan memeluk sang adik. Ia mengelus kepalanya dengan lembut.
"Dimas, kakak tak tahu jika kamu bisa merasakannya. Tapi untuk kali ini, maaf kakak tidak bisa cerita. Kakak tidak ingin membebani otak kecilmu itu." Tutur Amelia.
Dimas melepaskan pelukannya dan bangkit. "Sampai kapan kakak bersikap seperti ini kepadaku, aku ini sudah besar. Meskipun aku mungkin tidak bisa membantumu, tapi setidaknya beban di hatimu berkurang." Ucap Dimas sambil menangis.
Amelia yang melihatnya nampak terharu dan bangkit. Ia memeluk sang adik dan mencium keningnya.
"Sayang, kakak tahu kamu sudah besar dan peduli! Kakak hanya ingin kamu fokus belajar dan tidak memikirkan urusan kakak. Kakak tidak ingin, kamu jadi kepikiran." Ucap Amelia.
Dimas melepaskan pelukannya dan menatap wajah Amelia. "Kak, apakah kakak seperti ini tidak menjadi masalah untukku! Aku hanya ingin kakak bahagia, jika kakak sedih aku juga ikut sedih." Tutur Dimas dengan air mata yang tak bisa di bendung lagi.
"Sayang, untuk kali ini kakak tidak bisa cerita tapi kakak janji besok semua masalah yang ada di kepala ini akan tuntas." Jawabnya sambil tersenyum.
"Tapi kak..."
"Sssttt! Anak baik, kakak sayang sama kamu. Kakak tidak ingin kamu seperti ini dan kakak harap kamu juga bisa mengerti." Ucap Amelia menyela pembicaraan.
"Baiklah, tapi kakak janji aku tidak ingin melihat kakak bersedih seperti ini lagi." Jawabnya sambil memberikan jari kelingkingnya.
Amelia melakukan janji jari kelingking bersama sang adik. Ia selalu melakukannya disaat mereka masih kecil sampai sekarang.
Akhirnya Dimas pergi dan Amelia kembali ke kamarnya. Ia tak ingin membuat Dimas cemas dan menambah beban pikirannya.
__ADS_1
"Dimas, tidak semua hal bisa kamu mengerti! Masalah ini terlalu besar dan sebaiknya kamu tidak mengetahuinya. Aku tak ingin, suatu hari nanti kamu akan membenci Marcell." Batinnya.