
Mama Anita keluar dari ruangan dan duduk di kursi. Ia nampak termenung, meratapi nasib sang cucu, air matanya pun jatuh dan tak tertahankan.
Tiba-tiba, seorang wanita datang menghampiri dan menyapanya.
"Tante Anita...!" Sapanya.
Mama Anita menoleh ke arah suara dan Ia menghapus air matanya. Senyumnya terlihat merekah dan Ia pun bangkit dari duduknya.
"Rachel, kamu ada di sini!" Jawabnya.
"Iya Tante, aku di pindahkan ke rumah sakit ini. Apa kabar Tante dan kenapa Tante ads disini? Siapa yang sakit." Tanya Rachel.
"Tante baik-baik saja, hanya saja Ziana cucu Tante baru saja mengalami kecelakaan!" Jawabnya dengan raut wajah sedih.
Rachel langsung memeluk Mama Anita dan menenangkan.
"Yang sabar yah Tante, semoga semuanya baik-baik saja!" Tuturnya.
Mama Anita melepaskan pelukannya. "Semuanya tidak baik-baik saja! Ziana lumpuh dan dokter bilang hanya sementara." Ucapnya.
Rachel memberikan senyumnya. "Tante yang sabar yah, jika dokter mengatakan untuk sementara. Itu berarti Ziana akan sembuh lagi, Ziana tinggal mengikuti terapi dan minum obat secara teratur." Jawabnya.
"Iya semoga saja! Oh iya Rachel, kami mau kan bantu Tante?" Tanya Mana Anita penuh harapan.
"Bantu apa Tante?"
"Tante ingin kamu menjadi dokter pribadi untuk Ziana. Tante ingin dia cepat sembuh karena mendapatkan perawatan darimu." Jawabnya.
__ADS_1
"Tentu saja Tante, Rachel senang bisa membantu Tante." Ucapnya.
Akhirnya Mama Anita merasa lega dan Ia mengajak Rachel untuk makan siang bersama. Sedangkan Marcell dan Amelia tetap setia bersama dengan sang anak.
Ziana nampak masih sedih, Ia tak bicara ataupun bergerak. Dunianya serasa runtuh menerima kenyataan ini. Dimas nampak menghampiri dan menggenggam tangan Ziana.
"Ziana, maafin Om Dimas yah! Karena Om Dimas, Ziana jadi seperti ini." Ucapnya sedih.
Ziana tersenyum. "Ini semua bukan salam Om Dimas, aku saja yang nakal tidak mau mendengarkan ucapan Om Dimas." Jawabnya.
Marcell menghampiri dan mengelus rambut di dengan lembut.
"Semua ini bukanlah salahmu, ini semua kecelakaan. Dan kamu tidak perlu menyalakan dirimu sendiri." Tutur Marcell.
Dimas langsung memeluk Marcell dan Ia tak bisa membendung air matanya. Dimas pun akhirnya menangis dengan tersedu-sedu.
"Mas, aku minta maaf! Aku belum bisa jadi istri sekaligus ibu yang baik untuk kalian." Tuturnya sambil menangis.
"Sayang, aku ngerti kok! Tapi sekarang aku bahagia, disaat duka seperti ini kita semua bisa bersatu kembali menjadi keluarga yang utuh. Aku janji, kesedihan ini hanyalah sementara." Jawabnya.
Ziana yang mendengar semua itu nampak bangkit dari tidurnya, Ia memeluk keluarganya.
"Ma, pa dan Om Dimas! Ziana sangat menyayangi kalian semua, jika kalian sedih seperti ini bagaimana dengan ku. Aku akan menerima semua ini, karena ini semua adalah takdir." Ucapnya.
Amelia dan Marcel nampak sedih mendengar ucapan dari Ziana. Meskipun Ziana terlihat tegar, tapi mereka tahu jika hatinya sangat sedih dan sulit melewati semua ini. Mereka akhirnya saling memeluk dan Ziana terlihat bahagia.
Beberapa hari kemudian...
__ADS_1
Akhirnya Ziana berangsur pulih, dokter telah mengizinkan Ziana untuk pulang. Ziana terlihat bahagia, karena Ia merasa bosan tinggal di rumah sakit terus.
Marcell mengurus administrasi dan Amelia membereskan barang-barang Ziana. Setelah selesai, Ziana di bawa pulang dengan menggunakan kursi roda. Dimas mendorongnya dengan hati-hati dan membopong tubuh Ziana masuk ke dalam mobil.
"Mulai sekarang, Om Dimas akan menjadi pelayan setia untukmu. Sekaligus menjadi kaki untukmu dan kami tinggal mengatakan saja jika butuh apa-apa." Ucapnya sambil duduk di samping Ziana.
"Terimakasih Om Dimas!"
Amelia dan Marcel terlihat bahagia, karena Dimas selalu membuat Ziana tersenyum. Marcell segera melajukan mobilnya dengan hati-hati.
20 menit kemudian...
Akhirnya mereka sampai dan Dimas segera mengambil kursi roda di belakang. Setelah selesai, Ia juga menurunkan Ziana dan mendorongnya masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di dalam, Mama Anita terlihat tengah mengobrol dengan Rachel. Mereka langsung mendekatinya.
"Nenek...!" Ucap Ziana dengan senang.
Mama Anita nampak menatap Ziana yang tengah duduk di kursi roda. Hatinya terlihat sedih dan Ia langsung menghampiri.
"Ziana, akhirnya kami pulang juga. Oh iya, mulai hari ini kami akan di urus sama Tante Rachel. Dia akan menyiapkan obat dan terapi yang tepat untukmu agar cepat sembuh." Ucapnya.
Marcell dan Amelia nampak keberatan. "Ma, aku juga bisa mengurus Ziana sendiri!" Tutur Amelia.
"Tidak boleh, mulai sekarang kami tidak punya urusan untuk Ziana. Lebih baik kami fokus kepada suamimu saja. Mama ingin punya cucu secepatnya." Jawabnya.
"Ma, Ziana masih kecil dan dia baru saja kecelakaan." Jawab Marcell.
__ADS_1
"Iya mama tahu, jadi Amelia dan Dimas tidak boleh menyentuh Ziana. Aku tidak ingin, dia kena sial lagi. Dan ingat, kalian berdua fokus untuk membuat anak. Mama ingin cucu laki-laki yang lucu dan sehat." Tuturnya dengan dingin.