
Acara penguburan berjalan lancar, semuanya ada termasuk Indira. Ia menggunakan pakaian serba hitam dengan kaca mata hitam.
Marcell dan Anita nampak bersedih, tapi tidak dengan Indira. Ia begitu bahagia, hingga ekspresi wajah disadari semua orang. Indira hanya acuh, tak ada yang lebih baik daripada hati ini.
"Akhirnya Amelia mati juga, setelah ini tidak ada lagi yang bisa merebut Marcell dariku!" Batinnya sambil tersenyum.
Setelah selesai, Anita dan Marcell menaburi bunga di atas makamnya. Anita nampak berat meninggalkan Amelia dan Dimas.
"Maafkan Tante!" Tuturnya sambil menangis.
Indira mendekati sang mertua. "Ma, tidak seharusnya kita menangisi orang yang tidak kita kenal. Meskipun mereka mati di rumah kita, tapi semua ini bukan salah kita." Ucap Indira yang tak tahu.
Indira tak tahu, jika mertuanya kenal baik dengan Amelia tapi Anita hanya diam dan beranjak pergi. Ia benar-benar muak, mendengar ucapan Indira yang sudah tidak ada harganya di matanya.
Mereka akhirnya pulang ke rumah, terdengar suara tangisan bayi yang memecah kesedihan. Anita langsung berlari menuju arah suara dan sesampainya di sana Ia langsung memeluk bayi mungil itu.
"Sayang, maafkan nenek! Kamu pasti merasakan kehilangan, tapi nenek janji kami tidak akan merasa kesepian meskipun tanpa mamamu!" Tuturnya sambil mencium bayi tersebut.
Sang bayi terdiam, menatap Anita dengan mata yang masih bersih. Tak lama, bayi itu pun mulai tersenyum melihat Anita.
Anita memberikan senyuman tulusnya dan menciumnya lagi. "Sayang, hanya kami yang bisa menenangkan hatiku!"
__ADS_1
Indira mengikuti Anita dan masuk ke ruangan yang sama. Ia tersenyum melihat sang mertua begitu menyayangi anaknya.
"Ma, biar aku saja!" Tutur Indira.
"Tidak usah, lagi pula kami bisa apa! Jangankan memberikan kasih sayang, kasih ASI juga gak bisa." Tutur Anita dengan ketus.
"Ma, semua ini bukan salahku! Mungkin Tuhan punya rencana lain, tak memberikan susu di payudara ku." Jawab Indira.
Anita mendelikan matanya. "Jangan bawa-bawa Tuhan karena kesalahanmu! Itu semua mungkin karena dosamu terlalu besar." Ucap Anita dengan kesal.
Indira nampak terdiam, Ia tak mengerti dengan sifat mertuanya yang berubah 180°. Ia merasa setelah bayi itu tiba, mertuanya jadi dingin dan tak perhatian lagi.
Anita keluar dari ruangan dan membawa bayinya. Indira hanya diam membeku dan Marcel pun tiba.
Marcell tak menjawab, Ia nampak malas melihat Indira dan mulai menjauh. Indira mengejar dan memegang tangannya. "Sayang, ada apa denganmu?" Tanya Indira.
Marcell menghempaskan tangannya. "Jangan sentuh aku...! Jika kau tidak menyuruhku untuk melakukan semua hal gila ini, mungkin semua ini tidak akan terjadi." Jawabnya dengan kesal.
"Semua ini bukan salah kita, ini semua kecelakaan! Dan kamu tidak perlu banyak berpikir, yang terpenting sekarang keluarga kita lengkap." Ucap Indira sambil tersenyum.
"Picik...! Aku nyesel nikah sama kamu!" Jawab Marcell sambil melenggang pergi.
__ADS_1
Deg...Deg...
Dada Indira serasa sesak, mendengar jawaban dari Marcell. Hatinya begitu sakit hanya dengan satu kaca, tak terasa air mata mulai jatuh.
"Kenapa, kenapa rumah tangga kita jadi seperti ini? Aku pikir setelah kita punya anak, rumah tangga kita akan semakin harmonis." Batin Indira.
...
Beberapa hari kemudian...
Marcell dan Anita tak pernah berinteraksi dengan Indira. Mereka selalu bungkam saat Indira bertanya dan memilih untuk pergi. Mereka hanya mempermainkan sang bayi sambil tersenyum riang.
Pikiran dan hati Indira mulai kacau, Ia tak berselera makan menghadapi kedua orang yang disayanginya diam. Akhirnya kepalanya mulai pusing dan wajah pun terlihat pucat. Indira berjalan dengan sempoyongan dan menghampiri Marcell.
"Sayang, sepertinya penyakit ku kambuh!" Ucap Indira.
"Ya terus aku harus bagaimana! Kami jangan manja, lebih baik kamu segera pergi ke rumah sakit dan jangan menggangguku." Jawab Marcell.
Indira nampak meneteskan air mata. "Sayang, apakah kamu sudah tidak peduli lagi kepadaku!" Tuturnya.
"Untuk apa aku peduli sama kamu, kalau kamu juga tidak pernah peduli kepada perasaan ku. Dulu aku berbuat semua ini karena ingin kamu sembuh, tapi setelah kamu sembuh aku sudah tidak mengenalmu lagi. Kamu menjadi wanita jahat dan lupa daratan." Teriak Marcell
__ADS_1
"Itu semua kulakukan demi kebahagiaan kita!" Jawab Indira.
"Bukan kita tapi kamu!" Ucap Marcell sambil melenggang pergi.