
Dokter Farel yang mengingat semua itu nampak terdiam, tapi Ia tak ingin di pandang salah di mata Amelia.
"Mel, kamu tahu aku di paksa Mama waktu itu. Tapi apakah kamu lihat sekarang, aku ada disini untukmu." Tutur dokter Farel membela dirinya sendiri.
Amelia menyunggingkan senyumnya. "Semudah itu kau berkata, tapi apakah kau pernah memikirkan perasaan ku!" Jawabnya dengan datar.
"Aku mengerti dan kamu tahu betapa sakitnya aku melihat mu pergi waktu itu."
"Cukup aku sudah muak, dengan semua omong kosong mu itu. Aku tahu, kau kembali padaku karena telah di khiyanati dan di campakkan wanita itu." Tutur Amelia seraya meledek.
Dokter Farel akhirnya mengeluarkan aksi jitunya. Ia menggenggam tangan Amelia dan berkata lembut.
"Mel, bagaimana kalau kita mulai hidup baru dengan hubungan yang baru. Aku ingin kita bersama lagi dan tak ada hal seperti itu lagi untuk yang kedua kalinya." Tuturnya dengan penuh harapan.
Amelia menghempaskan tangan Dokter farel. "Iya, kita mulai dengan hidup baru dan dengan pasangan baru. Aku sudah tidak ingin dengan lelaki yang sudah menyakiti hatiku, aku memang sudah memaafkan mu tapi tidak untuk cinta." Jawabnya sambil melenggang pergi.
"Mel, aku mohon beri aku kesempatan. Mel...!" Teriak Dokter farel.
Amelia semakin kesan dan memanggil pembantunya untuk mengusir dokter Farel. Setelah dokter Farel pergi, Amelia membuang nafas kasar.
"Heh, seenaknya saja dia ingin kembali setelah membuat hatiku hancur." Gerutunya.
Amelia pergi ke kamar mandi dan Ia melihat leher bekas gigitan dokter Farel.
"Brengsek...! Bagaimana aku menjelaskan pada Marcell akan tanda merah ini? Apakah aku harus bolos kerja untuk menghindarinya? Dia pasti marah dan tidak akan percaya bila ku jelaskan." Tanya Amelia yang bingung.
__ADS_1
Amelia bingung dan resah, Ia tak ingin jika hubungannya akan berakhir secepat ini. Akhirnya Amelia membersihkan tubuhnya dan menggosok tanda merah itu dengan cukup keras. Dan pada akhirnya, tanda merah itu semakin terlihat jelas.
Amelia membuang nafas kasar dan beranjak pergi. "Sudahlah, biar urusan besok ya besok aja!" Batinnya yang pasrah.
Amelia memutuskan untuk tidur, Ia berharap semoga Marcell bisa menerima penjelasannya. Dan tidak memutuskan untuk mengakhiri hubungannya secepat ini.
Keesokan harinya...
Amelia mulai membuka matanya dan matanya mulai membulat melihat Marcell yang sudah ada di hadapannya.
"Kau...!" Ucap Amelia sambil bangkit dan duduk di ranjang.
Amelia mengucek kedua matanya, Ia tak percaya jika lelaki yang ada di hadapannya adalah kekasihnya. Dan Ia juga mencubit tangannya dan terasa sakit.
"Berarti ini bukan mimpi!" Batinnya sambil melihat kearah Marcell.
"Kenapa..? Kamu pikir, aku adalah pangeran yang hadir di mimpimu!" Ucapnya.
Amelia tersenyum tipis dan Ia menundukkan kepalanya karena menyadari Marcell pasti sudah tahu tanda merah di lehernya.
"Kau sudah melihatnya kan!" Ucap Amelia dingin.
"Lihat apa?"
"Jangan pura-pura lagi, aku yakin kau pasti sudah melihatnya!" Tutur Amelia kesal.
__ADS_1
"Maksudnya tanda merah di lehermu itu. Aku tahu, ada kecoa yang menggigitnya lalu apa masalah nya!" Jawab Marcell.
"Kecoa...! Aku serius, semua ini bukanlah ulah kecoa," Ucap Amelia.
Marcell bangkit dari ranjangnya dan duduk di sofa. "Iya aku tahu, tapi untuk saja calon adik ipar memberikan sebuah Vidio. Jika tidak, mungkin sulit untuk di mengerti dan dijelaskan." Jawab Marcell.
Amelia tersenyum bahagia. "Dimas, ternyata kamu adik yang pengertian. Kakak, bahagia bisa punya adik seperti dirimu!" Batinnya.
Amelia bangkit dan mengikat rambutnya. Ia menghampiri Marcell yang sedang duduk di sofa.
"Lalu sedang apa kau disini, bahkan selagi ini." Tanya Amelia yang heran.
"Aku ingin melihat kekasihku yang sedang tidur dan aku ingin nasi goreng buatan mu." Ucapnya.
Amelia nampak mengerutkan keningnya. "Dari ucapan mu, sepertinya kau telah banyak mengenalku. Dari mana kau tahu, aku bisa masak." Ucapnya.
Marcell nampak terdiam, Ia lupa jika dia harus berpura-pura tidak mengenal Amelia. Kalau seperti ini, Amelia pasti akan mengetahui jika dialah lelaki bertopeng itu.
"Eem, aku hanya nebak-nebak! Aku yakin, kekasihku pasti bisa memasak." Jawab Marcell.
"Apakah kau yakin?"
"Iya, aku yakin! Meskipun nasi gorengnya gosong, aku pasti akan tetap memakannya." Jawab Marcell sambil tersenyum.
Amelia nampak kesal dan memukul Marcell dengan pelan. "Enak saja! Jika masakan ku enak, apa kau akan memberiku hadiah." Tutur Amelia.
__ADS_1
"Tentu saja! Aku akan mencium bibirmu hingga kau lemas." Bisik Marcell seraya menggoda.