Rahim Bayaran Mr. M

Rahim Bayaran Mr. M
Bab 50


__ADS_3

Dokter Farel nampak kecewa dengan ucapan Amelia, Ia menatap wajah Amelia dengan penuh harapan. "Apakah bisa lebih dari sahabat?"


Amelia mulai menjauh dan melepaskan genggaman tangannya. "Ak..aku tidak bisa memberikan hubungan lebih dari sahabat. Kau tahu, persahabatan tidak akan ada batasnya sedangkan pernikahan pasti ada masalah dan perpisahan." Jawab Amelia.


"Apakah hanya karena itu?" Tanya Dokter farel.


Amelia terdiam, sebenarnya ada perasaan lain di hatinya. Yang tak bisa di utarakan, Amelia mencoba untuk tersenyum. "Iya, kau tahu aku punya pengalaman buruk dan itu selalu berbekas di hatiku." Ucap Amelia.


"Kalau waktu itu kamu menerima bantuan ku, mungkin hidup kamu tidak sehancur ini. Apakah sudah tidak ada cinta untukku di hatimu?" Tanyanya kesal.


"Rel, tolong jangan mendesak aku seperti ini! Semua penghinaan Mamamu masih berbekas di hatiku dan itu tidak mungkin bisa hilang."


Dokter Farel geram, rasa sabarnya seakan sudah tidak tertahankan lagi. Ia menarik tubuh Amelia dan langsung menciumnya bibirnya dengan paksa.


Air mata Amelia mulai menetes dan Ia berontak. Ia benar-benar kecewa dengan kelakuan dokter Farel.


Plakk...

__ADS_1


Amelia melayangkan tamparan keras di pipi dokter Farel. "Aku kecewa sama kamu!" Teriaknya.


Dokter Farel mengelus pipinya dan tersenyum. "Seharusnya aku yang kecewa sama kamu, aku selalu ada untukmu disaat susah. Tapi kamu tidak pernah menghargai kehadiranku. Kamu lebih menjadi pelacur dari pada menikah dengan ku." Teriaknya dengan kesal.


Air mata Amelia tak berhenti mengalir, perkataan Amelia Selasa membekas di hati dan pikirannya. "Aku harap kita tidak akan bertemu lagi." Ucapnya dengan nada di tekan.


Amelia pergi berlari menjauhi dokter Farel. Ia tak habis pikir dengan apa yang di pikirkan sahabatnya. Sedangkan dokter Farel nampak diam terpaku, Ia tak menyangka jika unek-unek dihatinya selama ini akan keluar juga.


"Mel, aku minta maaf! Aku juga punya perasaan, aku tidak ingin kau menganggap ku sebagai sahabat terus. Aku yakin kau akan kembali dan bersedia menjadi istriku." Ucapnya sambil tersenyum dan menangis.


Amelia pergi ke sebuah taman, Ia terus mengelap bibirnya yang masih basah karena kelakuan dokter Farel. Bibirnya juga terlihat berdarah karena tergigit olehnya.


"Kenapa hubungan kita jadi seperti ini? Aku tidak berharap hubungan ini akan hancur karena sebuah kata-kata. Maafkan aku tidak bisa menjadi yang seperti kamu mau. Karena aku telah mencintai lelaki lain." Tuturnya sambil menangis.


Disaat Amelia telah menutup wajahnya dengan tangan, terlihat tangan mungil memberikan tisu kepadanya.


"Tante...! Aku pikir Tante hanya bisa tersenyum, aku tidak suka melihat Tante menangis seperti ini." Tutur anak itu.

__ADS_1


Amelia menoleh ke arah suara dan Ia langsung menghapus air matanya. "Ziana!" Ucapnya sambil tersenyum.


"Ini Tante, hapus dulu air matanya! Tante tahu akan juga tidak pernah menangis, kenapa Tante yang sudah dewasa harus menangis." Tutur Ziana yang tak henti-hentinya bicara.


Amelia seketika langsung tersenyum, melihat Ziana yang bicara dengan ekspresi wajah yang lucu. "Boleh Tante peluk kamu!" Tuturnya.


Ziana merebahkan tangannya. "Tentu saja Tante! Pelukanku terbuka untuk Tante."


Amelia memeluk Ziana dengan erat, Ia merasakan kehangatan yang tidak pernah Ia dapatkan. "Mungkin kalau anakku ada disini, aku bisa membagi susah bersama."


Begitupun juga dengan Ziana, Ia merasa bahagia dan nyaman. "Tante, apakah Tante membawa obor!" Ucapnya.


Amelia melepaskan pelukannya dan mengerutkan keningnya. "Apa maksudnya?"


Ziana tersenyum. "Aku merasa ada kehangatan di tubuhku dan hatiku serasa bahagia."


Amelia terdiam. "Kenapa Ziana merasakan hal yang sama? Mungkinkah dia itu anakku yang di bawa oleh lelaki bertopeng itu." Batinnya.

__ADS_1


__ADS_2