
Api mulai berkobar dengan merah, para tetangga mulai ramai dan menatap kebakaran itu. Kabar itu langsung terdengar oleh keluarga Marcell. Marcell dan Anita bergegas menuju rumah tersebut.
Tak lama mereka tiba, Anita begitu histeris melihat kobaran api yang begitu merah.
"Amelia...! Tolong selamatkan Amelia!" Teriaknya sambil menangis.
Marcell menatapnya dengan penuh penyesalan, Ia menyesal membuat Amelia menderita. Akhirnya Ia berlari menuju kobaran api yang begitu besar.
Semua orang nampak menjerit, apalagi Anita. Ia tak bisa menahan kesedihannya dan akhirnya pingsan.
Tak lama, pemadam kebakaran datang. Dan mereka langsung melakukan gerakan. Yang lainnya pergi menyusul Marcell untuk menyelamatkan korban.
Uhuukk...
Marcell masuk ke dalam dengan asap yang membuatnya tersedak. Ia terus menerobos api dengan hati-hati. Ia pergi ke kamar atas mencari keberadaan Amelia.
"Amelia, kamu dimana?" Teriaknya.
Marcell terus mencari menyusuri setiap ruangan. Ia tak mendapati Amelia, petugas datang dan membujuk Marcell untuk meninggalkan rumah ini.
"Pak, sebaiknya kita pergi! Saya takut puing-puing bangunan dari atas akan jatuh!" Tutur salah seorang pemadam kebakaran.
__ADS_1
"Tidak...! Saya harus mencari keberadaan istri saya!" Jawab Marcell sambil berontak.
Akhirnya para petugas membawa Marcell dengan paksa. Ia tak bisa melawan, karena tubuhnya mulai lemas menghisap asap dari kebakaran tersebut.
Marcell tiba di luar dan dengan seketika atap rumah mulai runtuh. Tak ada yang tersisa, api telah melahap rumah itu dengan lahap.
Marcell menatapnya dengan linangan air mata. Kakinya terasa lemas dan terjatuh ke lantai.
"Amelia... Amelia...! Hiks...Hiks..." Rintihannya.
Keesokan harinya...
Marcell kembali ke rumah itu, dan para warga juga ikut mencari korban. Marcell masih tak percaya, jika Amelia akan mati di kobaran api.
"Disini...! Disini ada 2 orang!" Teriaknya.
Marcell dan warga lainnya langsung berlari dan menghampiri. Mata Marcell mulai membulat melihat korban yang sedang berpelukan.
"Tidak mungkin, tidak mungkin itu Amelia!" Ucapnya tak percaya.
Para warga langsung mengangkat jenazahkeduanya. Marcell memperhatikan kedua jenazah tersebut dan hasilnya nihil. Jenazah yang sudah tak bisa di kenali karena seluruh tubuhnya gosong dan kulit yang mengelupas.
__ADS_1
Petugas pemadam kebakaran memperhatikan kedua jenazah tersebut. "Sepertinya ini jenazah wanita dan anak lelaki!" Tuturnya.
"Tidak...! Tidak mungkin itu Amelia!" Teriak Marcell yang terlihat menggila.
Tak lama, Anita datang dan menangis histeris. Ia tak kuasa melihat kedua jenazah tersebut.
"Amelia...Dimas!" Teriak Anita yang tak bisa membendung air matanya.
Marcell langsung memeluk sang Mama. Keduanya menangis dengan penuh rasa bersalah. Apalagi Marcell, Ia tak bisa memaafkan dirinya sendiri atas kejadian ini.
Para warga memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit, tapi Anita melarangnya. Ia ingin jika Jenazah tersebut segera di urus dan di makamkan.
Marcell mulai beda pada paham dengan Anita. Marcell ingin melakukan tes untuk meyakinkan jika itu adalah Amelia. Tapi Anita menolaknya dan malah memberikan tamparan kepada sang anak.
"Belum puaskan kamu menyakiti Amelia, jika kamu tidak mengambil bayinya mungkin semuanya tidak akan jadi seperti ini!" Teriak Anita.
"Ma, tapi kita harus meyakinkan jika kedua jenazah ini adalah Amelia dan Dimas." Tutur Marcell.
"Cukup...! Mama tidak mau berdebat lagi sama kamu. Memangnya kamu pikir, siapa lagi yang tinggal di rumah ini selain Amelia dan adiknya." Jawab Anita.
Marcell tak bisa menjawab dan mengikuti kemauan sang Mama. Kedua jenazah di bawa masjid terdekat dan segera melakukan pengurusan jenazahnya.
__ADS_1
Marcell hanya diam, Ia terus menatap puing-puing bangunan yang sudah tak berbentuk. Ia mulai mengenal semua kebersamaan bersama Amelia. Ia mulai mengingat senyuman Amelia yang membuatnya nyaman.
"Kenapa...? Kenapa semua ini harus terjadi? Kenapa harus aku yang menjadi alasan kematian mu!" Batin Marcell yang penuh dengan seribu penyesalan.