
1 hari telah berlalu, akhirnya utusan Marcell tiba dengan membawa barang yang diinginkan. Marcell memperlihatkannya kepada dokter Dilan. Dan ia pun menyatakan jika ini adalah obat yang sama yang diberikan kepada Ziana.
Setelah mengetahui semua itu, Marcell memutuskan untuk pulang. Sedangkan Amelia, Ziana dan Dimas di suruh tinggal di apartemen yang tak jauh dari kediaman Dokter Dilan.
Marcell langsung melanjutkan rencananya, Ia menyuruh anak buahnya yang di Jakarta untuk membawa Rachel. Ia menyuruh mereka menculiknya dan di bawa ke tempat yang sudah di janjikan.
"Rachel, aku tidak melepaskan mu!" Ucapnya yang kesal.
Setelah Marcell melajukan mobilnya dengan cukup lama, akhirnya Ia sampai di tempat perjanjian. Dan ternyata anak buahnya sudah membawa Rachel ke gedung tua dan Ia terlihat tak sadarkan diri.
Marcell langsung menghampiri dan segera menyuntikkan obat terlarang tersebut dengan dosis tinggi. Ia terlihat tersenyum puas, melihat kaki Rachel yang terus di suntikan cairan tersebut.
"Kita bertemu di pernikahan, aku janji kau akan menjadi wanita paling menderita di saat itu." Ucapnya sambil melenggang pergi.
Marcell menyuruh anak buahnya untuk mengembalikan Rachel ke rumahnya tanpa ada yang tahu. Dan tugas itu di laksanakan dengan baik, setelah beberapa jam Rachel tak sadarkan diri. Akhirnya Ia membuka matanya, Ia nampak terkejut karena seingatnya Ia ada di rumah sakit.
"Eem, kenapa kepalaku sakit? Dan kenapa aku ada di rumah, bukannya ada di rumah sakit. Dan seingat ku, ada orang yang menculik ku. Apakah semuanya mimpi?" Tanyanya sambil melihat jam di dinding.
Jam menunjukkan pukul 06 pagi, Ia yakin jika hari itu adalah mimpi. Rachel bangkit dari ranjang dan kakinya terasa lemas.
__ADS_1
"Kenapa dengan kakiku, apakah terlalu kecapean mengurus persiapan pernikahan?" Tanyanya tanpa curiga.
Ia tak ingin ambil pusing, Rachel langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, Ia menggunakan pakaian rapi dan berdandan dengan cantik.
"Hari ini aku ingin menemui Marcell, aku yakin sekarang dia sudah ada di rumah." Tuturnya sambil tersenyum.
Setelah selesai, Ia segera melajukan mobilnya menuju kediaman Marcell. Di perjalanan terlihat hatinya begitu bahagia, tapi kakinya terasa ada yang berbeda.
"Sebenarnya, kenapa dengan kakiku! Aku merasa kebas dan kakiku serasa mati rasa!" Tuturnya heran.
Akhirnya setelah perjalanan cukup panjang, Ia sampai dan segera masuk ke dalam. Mama Anita nampak menyambutnya dengan hangat, Ia mengajaknya untuk sarapan bersama.
Di meja makan terlihat Marcell desa menikmati sarapannya, Ia menyambut kedatangan Rachel sambil tersenyum.
Rachel yang mendengar semua itu nampak seperti mimpi, Ia tak menyangka jika Marcell bisa menyapanya semanis itu.
"Pa..pagi!" Jawabnya gugup.
Mama Anita nampak tersenyum bahagia melihat mereka semakin dekat, akhirnya Rachel duduk dan segera makan. Ia terus menatap wajah Marcell dan Ia benar-benar tak sabar ingin merasakan tubuh dan wajahnya itu.
__ADS_1
"Besok kita akan menikah! Aku berharap kamu benar-benar bisa menerimaku." Tutur Rachel.
"Kenapa tidak, pilihan Mama adalah yang terbaik. Lagi pula setelah ku pikir-pikir semua ucapan Mama ada benarnya!" Jawab Marcell dengan lembut.
Rachel pipinya nampak memerah, Ia benar-benar tak menyangka perubahan sifat Marcell begitu drastis. Setelah selesai, Ia membereskan piring dan membawanya. Tapi kakinya terasa lemas dan Ia pun terjatuh.
"Ah...!" Teriaknya.
Mama Anita dan Rachel langsung menghampiri.
"Rachel, kamu kenapa?" Tanya Mama Anita panik.
"Aku tidak apa-apa Tante, hanya saja kakiku terasa lemas!" Jawabnya.
Marcell membantu Rachel untuk berdiri dan membantunya duduk. "Mungkin kamu kecapean, lebih baik kamu istirahat besok kan hari pernikahan kita." Tuturnya.
Rachel menganggukkan kepalanya dengan bahagia.
"Iya, terima kasih atas perhatian kamu."
__ADS_1
Marcell juga membalas senyumnya, lain di bibir lain di hati.
"Aku juga sudah tidak sabar, menunggu hari pernikahan kita. Aku ingin secepatnya melihat kami menangis histeris karena kakimu itu." Batin Marcell yang bahagia.