
Amelia dan Anita nampak saling menatap. Mata keduanya terlihat berkaca-kaca dan air mata pun jatuh.
Amelia dan Anita saling mendekat, Ia langsung saling memeluk. Anita melepaskan pelukan dan memberikan ciuman yang tak terhitung jumlahnya.
"Sayang, Tante pikir kamu sudah meninggal! Kenapa kamu melakukan semua ini kepada Tante!" Tuturnya sambil menangis.
"Tante, aku baik-baik saja!" Jawabnya sambil tersenyum.
Ziana yang melihat semua itu hanya diam dan terpaku. Anita langsung memeluk Ziana dan menangis. "Sayang, ibumu masih hidup! Dia ada di hadapanmu." Batinnya.
"Nenek, apakah nenek mengenal Tante bidadari?" Tanya Ziana dengan suara yang khas.
Anita menganggukkan kepalanya. "Tentu saja! Tante Amelia sudah nenek anggap sebagai anak sendiri." Jawab Anita.
Akhirnya Anita mengajak Amelia ke ruang tamu dan menyiapkan minuman sendiri. Amelia menatap sekeliling rumah, Ia tersenyum melihat nuansa rumah yang khas dengan gaya Eropa.
Ia nampak mengerutkan keningnya melihat foto keluarga. "Ternyata Bu Anita itu adalah Tante Anita. Dan berarti Pak Marcell itu adalah anaknya." Batinnya.
Ziana menghampiri Amelia yang tengah melamun, Ia tidur di paha Amelia. "Tante, apakah Tante menyukai rumah ini!" Tutur Ziana.
"Iya, rumah indah dan kamu juga pasti betah di rumah ini." Jawab Amelia.
__ADS_1
Ziana menggelengkan kepalanya. "Aku tidak betah di rumah ini, makannya aku selalu pergi ke taman." Jawab Ziana.
"Loh, memangnya kenapa?"
"Rumah ini terlalu besar dan sepi. Semua orang yang ada di sini selalu sibuk. Andai saja, Tante bersedia tinggal di sini dan menjadi mamaku." Ucap Ziana.
Amelia tersenyum dan mengelus rambutnya dengan lembut. "Kamu jangan bicara seperti itu, banyak anak yang menginginkan rumah mewah dan serba berkecukupan." Jawab Amelia.
"Aku tidak membutuhkan semua ini, aku hanya butuh Tante sebagai Mamaku!" Ucap Ziana sambil menatap Amelia.
Amelia tersenyum dan mencoba untuk tidak menanggapi ucapan Ziana. "Memangnya kemana Mamamu?"
Ziana menggelengkan kepalanya. "Tidak ada, Mana sudah meninggal. Tante sebenarnya aku adalah anak yang tidak beruntung di dunia ini. Tidak bisa mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu." Jawab Ziana sambil menangis.
Akhirnya Anita kembali dan membawa jus dan makanan ringan. Tanpa mereka ketahui, Anita mendengar semua pembicaraan antara Ziana dan Amelia.
Hatinya benar-benar terpukul mendengar ucapan Ziana. "Andai saja nenek bisa memberitahumu, jika wanita yang sedang berada di sisimu adalah ibumu." Batinnya sambil meneteskan air mata.
Ziana terlihat tiidur di pangkuan Amelia. Ia tersenyum dan mulai berbincang dengan Anita.
"Tante, bagaimana kabarmu?" Tanya Amelia.
__ADS_1
"Seperti yang kamu lihat, Tante baik-baik saja. Tapi Tante sekarang sudah tua." Jawabnya sambil tersenyum.
Anita duduk di samping Amelia dan menggenggam tangannya. "Sayang, Tante ingin tahu cerita tentang kebakaran yang menimpa kalian." Ucap Anita.
"Masalah kebakaran itu yah! Sebenarnya aku sengaja membakarnya!" Jawab Amelia.
Anita terkejut. "Memangnya kenapa?"
"Aku hanya ingin menjauh dari kehidupan burukku. Aku tidak ingin ada korban lain di rumah itu seperti diriku. Aku yakin, rumah itu rumah terkutuk karena menyimpan kehidupan yang kelam." Jawab Amelia mengutuk rumah tersebut.
Anita nampak tersinggung, rumah itu adalah saksi dari kebahagiaan keluarga kecil mereka. Meskipun Ayah Marcell meninggal di rumah itu dan meninggalkan luka di hati Anita.
"Apakah menurut kamu semua itu benar? Dan bagaimana pemiliknya jika tahu semua ucapan mu ini." Tutur Anita dengan nada gemetar.
Amelia tersenyum. "Sebenarnya aku tidak ingin melakukan semua ini, hanya saja lelaki bertopeng itu memberikan rumah tersebut kepadaku. Atas dasar pembelian anak secara paksa." Tuturnya.
Anita mulai meluluh, Ia mengerti apa yang dijalani Amelia sangatlah berat. "Apakah kamu masih dendam kepada lelaki itu?"
"Iya, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri yang terlahir miskin. Jika aku bertemu dengannya, mungkin aku akan membuat lelaki itu membayar semua yang telah dia berikan." Jawab Amelia dengan mata yang merah.
Anita mulai terpuruk kembali dan tanpa disadari Marcell mendengar semua itu.
__ADS_1
"Amelia andai saja aku bisa mengulang semuanya, pasti akan kulakukan yang terbaik untuk bisa bahagia bersama kalian. Tanpa ada dendam dan air mata." Batin Marcell yang sedih.