
Amelia dan Marcel memilih untuk diam, mereka tidak ingin memperkeruh suasana. Akhirnya setelah lama menunggu, Dokter keluar dari ruangan Ziana dengan keringat yang bercucuran dan wajah lemas.
Mama Anita langsung menghampiri dan menggoyangkan tubuh sang Dokter.
"Dok, bagaimana keadaan cucu saya?" Tanyanya cemas.
"Sulit, pasien mengulurkan banyak darah dan kepadanya kritis. Saya membutuhkan golongan darah yang sama secepatnya." Jawab Dokter.
"Darah!" Mama Anita nampak termenung karena golongan darahnya tidak sama dengan sang cucu. Ia menatap kearah Marcell dan darahnya juga tak sama.
Amelia yang mendengarnya langsung mendekat dengan semangat.
"Dok, ambil saja darah saya! Saya yakin pasti hasilnya cocok karena saya adalah ibu kandungnya." Jawab Amelia.
"Baiklah, ibu ikut saya untuk mengeceknya!" Tutur Dokter.
Akhirnya Amelia pergi bersama dokter dan Dimas nampak masih mematung. Telinganya serasa tidak salah dengar, tapi yang di katakan sang kakak membuatnya sangat heran.
"Ibu kandung, jangan-jangan Ziana adalah anak yang di kandung kakak dan di bawa pergi oleh lelaki bertopeng. Kalau semua itu benar, Kak Marcell berarti lelaki bertopeng itu." Batinnya sambil menatap Marcell.
...
Setelah 10 menit berlalu, Amelia keluar dan dokter membawa hasilnya. Ternyata hasilnya cocok dan Amelia segera di bawa ke ruangan Ziana dan melakukan transfusi darah secara langsung.
Amelia berbaring di samping tempat Ziana, Ia begitu sedih melihat anak kesayangannya tidak berdaya dan tak sadarkan diri.
"Mama akan melakukan apapun untukmu, sayang!" Ucapnya sambil menangis.
Setetes demi setetes darah mengalir dari tubuh Amelia ke tubuh Ziana. Entah sudah berapa lama, akhirnya Ziana kondisinya sudah stabil dan Amelia terlihat lemas karena terlalu banyak darah yang di berikan.
Setelah selesai, Ia keluar tanpa lupa mencium kening Ziana.
__ADS_1
"Kamu harus sembuh sayang!" Ucapnya sambil melenggang pergi.
Amelia keluar dari ruangan dengan wajah pucat, Ia nampak berjalan sempoyongan dan Marcel segera membopongnya.
"Sayang, kamu minum dulu yah!" Ucapnya sambil memberikan air.
Amelia minum sambil duduk, Mama Anita yang melihatnya hanya memalingkan wajahnya. Ia tak merasa kasihan ataupun iba kepada Amelia.
Setelah setengah jam berlalu, dokter keluar dari ruangan Ziana dan memberikan kabar baik.
"Alhamdulillah, keadaan pasien sudah stabil. Mungkin dalam waktu 1 jam lagi dia akan sadarkan diri." Ucap Dokter.
Mereka semua nampak bahagia, Marcell langsung memeluk Amelia dan menciumnya.
"Terimakasih sayang, karena kamu telah menyelamatkan nyawa Ziana." Ucapnya.
"Mas, aku juga ibunya. Sudah kewajiban ku untuk melindunginya." Jawab Amelia sambil tersenyum.
Amelia tak menjawab dan Marcell mencoba menenangkan Amelia sambil menggenggam tangannya. Dimas hanya bisa menundukkan kepalanya dan tak berani berkata.
...
1 jam kemudian...
Akhirnya Ziana membuka matanya, mereka sekeluarga nampak bahagia apalagi Anita. Ia berada di paling depan dan segera mencium kening sang cucu.
"Sayang, akhirnya kamu sadar!" Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Nenek...!" Jawab Ziana pelan.
"Iya, apa ada yang sakit!"
__ADS_1
Ziana menggelengkan kepalanya, tapi kakinya serasa kebas dan terasa berat untuk di gerakan. Jantungnya mulai berdebar kencang dan mencoba menggerakkan kakinya tapi tak bisa.
"Nenek, kenapa kakiku?" Tanyanya sambil menangis.
"Kaki..!" Ucap Anita sambil melihatnya.
Marcell dan Amelia langsung mendekati Ziana. "Kamu tenang dulu, mungkin ini efek obat bius." Jawab Marcell.
Amelia segera berlari keluar ruangan dan memanggil dokter. Akhirnya dokter tiba dan segera memeriksa keadaan Ziana.
Dokter mengetuk kaki Ziana pelan tapi tidak bisa di rasakan oleh Ziana. Dokter terlihat masih penasaran, Ia mengetuk kaki Ziana dengan cukup keras tapi tak ada respon dari Ziana.
Semua orang nampak cemas dan dokter pun terlihat menggelengkan kepalanya.
"Maaf nyonya, sepertinya cucu anda mengalami kelumpuhan di kakinya." Ucap Dokter.
Mama Anita dan semuanya nampak terkejut. Mama Anita nampak histeris yang memukul sang dokter.
"Dokter, pasti anda salah memprediksi! Tolong, cepat Carikan dokter terbaik untuk memeriksa cucuku." Teriaknya.
Dokter tersebut langsung memanggil dokter spesialis tulang. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya dokter tiba dan mengatakan hal yang sama.
"Maaf nyonya, cucu anda akan mengalami kelumpuhan. Tapi tenang saja semua ini hanya sementara." Ucapnya.
Ziana yang mendengarnya nampak menangis dan Amelia mencoba menenangkan sambil memeluknya.
"Kamu dengar itu sayang, semua ini hanya sementara!" Ucap Amelia.
Marcell juga memeluk sang anak. "Iya sayang, kamu pasti akan segera sembuh." Tuturnya.
Sedangkan Mama Anita mendengar semua itu nampak syok dan pergi dari ruangan Ziana. Di hatinya di penuhi amarah dan dendam yang membara.
__ADS_1
"Kenapa semuanya menjadi seperti ini? Aku pikir dengan kehadiran Amelia keluarga kami akan menjadi keluarga paling bahagia tapi ternyata malah sebaliknya. Keluarga kami menjadi sial dan semua ini pasti karena Amelia dan Adiknya." Batinnya yang kesal.