
Anita pergi dari kamar Ziana setelah Ia tertidur. Ia berjalan menuju kamar Marcell dan melihatnya. Tatapannya seketika hancur, melihat anaknya yang tidak seperti biasanya.
Marcell malah suka mabuk-mabukan dan Anita hanya bisa pasrah. Tapi rasa diam Anita serasa cukup, Ia menjadi geram dan masuk ke kamar Marcell. Ia menyeret tubuh Marcell yang sudah tak berdaya ke dalam kamar mandi.
Anita menyalakan shower dan mengguyur tubuh Marcell.
"Sadarlah...! Mama sudah muak melihat kamu seperti ini terus." Teriak Anita sambil meneteskan air mata.
Marcell masih dalam kondisi mabuk. "Aku...aku suami yang gagal. Aku...aku tak pantas untuk mendapatkan cinta." Jawab Marcell.
Plak..plak...plak...
Anita menghujani Marcell dengan tamparan yang tak terhitung jumlahnya.
"Sadarlah...! Sadarlah...!" Teriak Anita dengan histeris.
Marcell tersenyum dan meneteskan air mata. "Ma, mungkinkah Ziana akan membenciku?" Tanya Marcell.
"Iya, dia pasti akan sangat membencimu jika mengetahui semua kebenarannya. Apalagi dengan kamu yang seperti ini, apakah Ziana pantas punya Papa seperti dirimu." Teriaknya.
__ADS_1
"Ma, aku merasa bersalah kepada Ziana. Karena aku, dia tidak punya ibu lagi dan karena aku juga masa kanak-kanaknya tidak pernah dia rasakan." Jawab Marcell.
Anita menarik kerah baju Marcell. "Kalau kamu merasa bersalah seharusnya kamu menyayangi Ziana. Kamu tahu di usia 2 tahun ini, ia berusaha untuk menjadi dewasa. Semua ini dia lakukan hanya untuk mendapatkan kasih sayang darimu." Teriaknya.
Hiks...Hiks...
Marcell menangis sejadi-jadinya. Ia merasa bersalah dan memeluk sang Mama.
"Ma, apakah ada kesempatan kedua untukku?" Tanya Marcell.
"Iya, masih banyak kesempatan untukmu. Jangan sampai kamu menyia-nyiakan anakmu karena rasa bersalah itu. Mama mohon, berjanjilah sama Mama untuk normal kembali." Ucap Anita sambil menatap sang anak.
Dengan seketika hati Marcell luluh, Ia bersujud di bawah kakinya.
"Ma, aku janji akan berubah menjadi lelaki yang normal dan menyayangi Ziana. Tapi tolong, jangan tinggalkan aku sendiri, aku tak bisa hidup tanpa Mama." Pintanya.
Anita melempar pisau dan memeluk sang anak. Ia menangis bahagia dan tersenyum.
"Kembalilah... sayang!" Ucapnya sambil mencium kening Marcell.
__ADS_1
"Iya!" Jawab Marcell sambil memeluk erat.
Keesokan harinya...
Ziana nampak masih tertidur dan Ia mulai membuka matanya. Betapa terkejut Ia mendapati papanya berada di sampingnya.
"Papa...!" Ucap Ziana terkejut.
Marcell memberikan senyum termanisnya dan mencium kening Ziana. "Pagi sayang!" Sapanya.
Ziana nampak menganga, Ia tak percaya dengan apa yang di lihat dan di dengarnya. Ziana mulai mengucek matanya karena mungkin ini mimpi.
"Kenapa matanya harus di kucek terus? Apa mungkin karena Papa tidak pernah melakukan semua ini untukmu." Ucap Marcell.
Ziana tersenyum. "Apakah ini benar-benar Papa? Maaf, semua ini bukan salah Papa. Ziana yang selalu nakal dan tidak nurut jadi papa selalu marah sama Ziana." Jawabnya dengan suara khas.
Marcell langsung memeluk sang anak, Ia terus meminta maaf hingga tidak terhitung jumlahnya.
Ziana hanya diam dan membeku, tak terasa air matanya jatuh dan tersenyum. Ia baru kali ini di peluk oleh Marcell, ia benar-benar merasa bahagia sampai menangis.
__ADS_1
"Mungkinkah ini yang disebut tangisan bahagia!" Batinnya sambil tersenyum.