Rahim Bayaran Mr. M

Rahim Bayaran Mr. M
Bab 76


__ADS_3

Dokter Farel tersenyum melihat kepergian Amelia. Ada niatan jahat di hatinya yang nampak jelas dari raut wajahnya.


"Aku akan merahasiakan semua ini dari adikmu untuk sementara waktu. Tapi setelah dewasa nanti, akan ku buat adik mu menjadi penghancur di rumah tangga kalian." Tuturnya.


Sedangkan Amelia melajukan mobilnya dengan cukup kencang, Ia tak ingin jika dokter Farel mengejarnya.


"Aku tidak ingin kau merusak segalanya!" Batin Amelia sambil melihat kaca spion.


Setelah melajukan mobil cukup lama, akhirnya Amelia menghentikan mobilnya karena mereka sudah sampai. Mereka turun dan Dimas nampak melotot melihat rumah yang besar dan indah.


"Ini rumah baru kakak!" Ucapnya.


"Iya, ini rumah baru kita." Jawabnya.


Ziana langsung menarik tangan dinas dan mengajaknya untuk masuk. "Ayo om kita masuk, nenek pasti senang melihat kedatangan kita." Ajaknya.


Mereka masuk ke dalam rumah dan terlihat Marcell dan Anita sudah menunggu mereka sedari tadi.


"Alhamdulillah, akhirnya kalian datang juga!" Ucapnya sambil bernafas lega.

__ADS_1


Anita dan Marcell menghampiri, mereka nampak menyambut hangat kedatangan Dimas.


"Selamat datang di keluarga kami, saya senang akhirnya kami bersedia tinggal disini." Ucap Anita sambil tersenyum.


"Terimakasih, Bu!" Jawab Dimas.


Dimas menatap wajah Marcell, Ia terlihat canggung karena Ia pernah mengancam Marcell saat Amelia sedang pacaran.


"Sore kakak ipar!" Sapa Dimas dengan raut wajah tak menentu


"Iya!" Jawab Marcell sambil memainkan alisnya.


Ziana yang melihat semua itu nampak tak senang, Ia langsung mencubit Marcell.


"Sakit sayang, Papa tidak seperti itu kok!" Jawab Marcell.


Anita dan Amelia nampak tersenyum melihat keduanya yang sulit untuk akur. Akhirnya Amelia mengajak Dimas untuk ke kamarnya, Ia membawa koper dan masuk ke dalam.


"Sayang, ini kamar kamu!" Ucapnya sambil membuka pintu.

__ADS_1


Dimas tersenyum. "Terimakasih kak, kamar besar dan nyaman." Jawabnya.


Dimas duduk di ranjang dan Amelia mengelus rambutnya. "Sayang, mama Anita itu baik! Jadi kami tidak perlu canggung dan untuk Marcell orangnya suka iseng jadi kami tidak perlu khawatir." Tutur Amelia.


"Iya kak, aku tahu. Jika kakak bahagia disini, aku juga pasti akan bahagia." Jawab Dimas.


Amelia tersenyum dan bahagia. Ia menyuruh Dimas untuk beristirahat karena Amelia ingin menyiapkan makanan untuk makan malam. Amelia meninggalkan kamar Dimas dan menghampiri Marcell yang sedang duduk santai di balkon.


"Aku peringatkan sama kamu, jika adikku tak betah disini kami tanggung akibatnya." Tuturnya ketus.


Marcell nampak heran dan mengerutkan keningnya. "Kamu sama Ziana janjian! Gak ibu, gak anak kedua ngancam Mulu. Memangnya di wajahku tertulis lelaki gak bener." Jawab Marcell.


Amelia mendelikan matanya. "Pokoknya aku tidak mau tahu, jika kamu melakukan semua itu akan ku jitak kepala kamu sampai botak." Ucapnya.


"Oh jangan dong, memangnya kamu mau punya suami botak."


Amelia menggelengkan kepalanya dan Ia pun pergi. "Ngomong sama dia, tidak akan ada akhirnya."


Marcell menatap kepergian Amelia dengan senyuman. Meskipun Amelia masih terlihat dingin, tapi Ia sudah mulai mau bicara dan bercanda kepada Marcell.

__ADS_1


Marcell teringat kembali akan kelakuan Dimas, meskipun usianya baru 10 tahun tapi Ia rela melakukan segalanya demi sang Kakak.


"Dimas, aku akan memperlakukanmu dengan baik. Karena kamu adalah kunci dari kebahagiaan Amelia." Batinnya sambil tersenyum.


__ADS_2