Rahim Bayaran Mr. M

Rahim Bayaran Mr. M
Bab 87


__ADS_3

2 hari kemudian...


Marcell tidak mau ambil pusing, meskipun Mama Anita menyuruhnya untuk fitting baju pengantin bersama Rachel.


Ia lebih memilih mengajak Amelia sekeluarga ke Surabaya. Marcell bermaksud menemui sahabatnya yang sudah menjadi dokter ternama spesialis tulang.


Setelah 10 jam berlalu, akhirnya mereka sampai di rumah sahabatnya. Sang sahabat nampak menyambut hangat kedatangan Marcell sekeluarga.


Sebelum mereka berbincang, Sang sahabat mengajak mereka untuk makan malam bersama. Mereka terlihat akrab dan berbincang bersama. Apalagi istri dari sahabatnya benar-benar baik dan Amelia terlihat bahagia.


Setelah selesai, mereka duduk di ruang tamu sambil ngeteh. Marcell sudah tak sabar dan memintanya untuk segera memeriksa Ziana.


"Dilan, aku tidak mau basa-basi lagi! Aku ingin kau memeriksa anakku secepatnya." Tutur Marcell serius.


Dokter Dilan nampak tersenyum. "Kau memang tidak berubah Cell, baiklah aku bawa dulu peralatannya." Jawabnya sambil melenggang pergi.


Amelia terlihat sangat cemas, Ia takut jika hasilnya akan membuat Ziana kecewa. Marcell yang melihatnya langsung menenangkan sang istri sambil mengelus lembut punggungnya.


"Sayang, kamu tenang saja! Ziana pasti akan sembuh, aku tahu betul Dilan adalah dokter yang profesional. Dia juga mendapatkan gelar sebagai dokter terbaik ke tiga di Indonesia." Ucapnya.


Amelia membuang nafas panjang dan mencoba untuk tersenyum. Akhirnya dokter Dilan tiba, Ia segera memeriksa keadaan kaki Ziana.

__ADS_1


Semua orang nampak cemas karena raut wajah dokter Dilan terlihat tidak baik. Ia nampak menggelengkan kepalanya sambil terus memperhatikan kaku Ziana.


"Cell, anakmu mengalami kelumpuhan yang tidak wajar. Ada obat terlarang di dunia kedokteran yang sengaja di masukkan untuk melemahkan urat dan tulang." Tuturnya.


Amelia dan Marcel nampak saling menatap. Mereka benar-benar terkejut mendengar semua itu.


"Siapa orangnya yang tega melakukan semua ini kepada Ziana?" Tanya Amelia sambil menangis.


Marcell mencoba menenangkan, meskipun hatinya saat ini benar-benar marah tapi Ia tetap tegar.


"Lalu, apakah anakku bisa sembuh?" Tanya Marcell.


"Sebenarnya ini hal yang sulit, karena kalian terlalu lama menundanya. Tapi aku janji, anakmu pasti akan bisa berjalan kembali meskipun waktunya tidak sebentar." Jawab Dokter Dilan.


Marcell nampak menghampiri sang anak, Ia mengelus lembut rambutnya.


"Sayang, coba kamu bilang sama Papa! Apakah ada orang yang menyuntik kakimu ini?" Tanyanya.


Ziana menganggukkan kepalanya. "Iya pa, Tante Rahel setiap pagi selalu melakukannya. Katanya suntikan itu agar aku cepat sembuh. Tapi setelah aku di suntik, kaki ku serasa berat dan semakin sulit untuk bergerak." Jawabnya.


Marcell yang mendengar semua itu nampak begitu emosi dengan degup jantung berdebar kencang. Emosinya memuncak hingga Ia mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Rachel, ternyata semua ini ada ulah mu. Lihat saja nanti pembalasanku." Batinnya.


Amelia nampak syok, Ia hanya bisa memeluk Ziana sambil terus meminta maaf.


"Maafkan Mama sayang, seharusnya Mama yang jagain kamu. Seharusnya semua ini tidak terjadi, jika Mama tidak teledor." Tuturnya sambil menangis.


Marcell memeluk Amelia dan menyuruhnya untuk tenang. "Kamu tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri, semua ini bukan salahmu."


"Tapi mas...!"


"Sudah, jangan menangis lagi. Yang terpenting Ziana harus sembuh dan aku akan membuat Rachel membayar semua perbuatannya." Ucap Marcell dengan yang merah.


Setelah semuanya tenang, Marcell menyuruh Amelia, Dimas dan Ziana untuk istirahat. Istri dokter Dilan membawa mereka ke kamar. Dan sekarang tinggal Marcell dan Dilan.


"Bagaimana caranya mendapatkan obat terlarang itu?" Tanya Marcell.


"Itu mudah, kamu bisa mendapatkannya di pasar gelap. Tapi kamu harus hati-hati, jika semua ini tercium polisi kamu bisa dalam bahaya." Jawabnya.


"Tapi, apakah bisa efek kelumpuhannya berangsur cepat kepada orang yang sehat."


"Itu bisa saja, asalkan dosisnya di berikan cukup banyak."

__ADS_1


Marcell terlihat tersenyum, Ia menyuruh anak buahnya yang ada di Surabaya untuk mencari obat tersebut dan menyuruhnya untuk hati-hati. Setelah semuanya selesai, akhirnya Marcell bisa bernafas lega.


"Di hari pernikahan nanti, kau akan membayar semuanya!" Batinnya sambil tersenyum.


__ADS_2