Rahim Bayaran Mr. M

Rahim Bayaran Mr. M
Bab 38


__ADS_3

Beberapa hari kemudian...


Amelia sudah berangsur pulih, Ia diizinkan untuk meninggalkan rumah sakit. Anita dengan setia, selalu menjaganya dan mengantar Amelia untuk pulang.


Sesampainya di rumah, Amelia nampak diam. Dunianya serasa hilang dengan hilangnya bayi dari pelukannya. Dimas menghampiri dan langsung memeluk sang kakak.


Ia tahu betul, jika hati kakaknya sedang hancur.


"Kak, tolong jangan seperti ini! Aku tidak ingin kehilangan, kakak!" Rengek nya sambil menangis.


Amelia tersadar dan mulai meneteskan air mata. Ia memeluk sang adik dan mencium keningnya.


"Aku harus kuat, kalau aku seperti ini terus bagaimana dengan nasib Dimas." Batin Amelia yang mulai tergerak.


Anita menggenggam tangan Amelia. "Kamu harus kuat, Tante percaya kamu bisa melewati semua ini!" Tuturnya.


Amelia tersenyum. "Terima kasih Tante, selama ini Tante sudah ada untukku!" Jawab Amelia.


Anita tersenyum dan memeluk keduanya. Ia merasakan kehangatan sebagai seorang ibu. Ia tak ingin, jika Amelia menghadapi masalah seperti ini lagi.

__ADS_1


Tak terasa waktu sudah beranjak petang, Anita pamit dan pergi meninggalkan rumah tersebut. Belum lama Anita pergi, Marcell datang dengan topeng kebanggaannya.


Ia langsung masuk ke dalam dan menuju kamar atas. Tak perlu ketuk pintu, Marcell langsung masuk ke dalam dan terlihat Amelia tengah duduk di sofa menatap kedatangannya.


Amelia menatap Marcell dengan tatapan kecewa, tubuhnya gemetar dan rasanya ingin meluapkan semua amarah yang di pendam. Tapi Ia berusaha kuat dan hanya menundukkan kepalanya.


Marcell menghampiri dan melemparkan map berwarna biru ke meja. Karena rasa bersalahnya cukup besar, Ia tak berani untuk berkata dengan lembut.


"Tanda tangan map itu dan mulai sekarang kamu bebas. Didalamnya, ada sertifikat rumah ini yang sudah kurubah atas namamu dan cek senilai 1 Miliar." Tutur Marcell.


Tak ada jawaban dari Amelia. Ia meremas tangannya sendiri untuk menahan amarahnya. Amelia langsung membuka map tersebut dan menandatanganinya.


"Terimakasih atas kebaikan tuan muda! Saya menerima semua ini dan jangan pandang saya sebagai wanita matre." Tutur Amelia.


Amelia tersenyum. "Saya tidak akan melupakan rasa sakit yang anda berikan dan saya ingin minta satu hal lagi dari anda." Pinta Amelia.


"Katakan saja!"


Amelia menatap Marcell yang sedang berdiri di hadapannya. "Jangan pernah muncul lagi di hadapanku! Jika itu terjadi, jangan salahkan aku semua ini akan anda rasakan." Jawab Amelia.

__ADS_1


Marcell nampak tercengang, melihat Amelia yang begitu marah. Akhirnya Ia memutuskan untuk pergi dan Amelia menghentikan langkahnya.


"Tunggu...!"


Marcell berhenti dan menoleh. "Ada apa lagi?" Tanyanya.


"Tolong bawa semua pelayan dan satpam yang ada di rumah ini!" Tutur Amelia.


"Kamu tidak perlu cemas, semua pelayan dan satpam aku yang akan membayarnya!" Jawab Marcell.


"Tidak perlu, aku ingin semuanya pergi dari rumah ini. Rumah ini milikku dan aku berhak untuk mengaturnya." Ucap Amelia dengan tegas.


"Baiklah, jika itu yang kamu mau!" Jawab Marcell sambil melenggang pergi.


Marcell pergi membawa pelayan dan satpam, sejujurnya Ia ragu tapi ini adalah keinginan Amelia.


Setelah Marcell pergi, Amelia mengeluarkan 2 derigen bensin dan menumpahkan ke seluruh ruangan. Dimas yang melihat semua itu langsung menghampiri Amelia dan memeluknya.


"Kak, apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Dimas sambil menangis.

__ADS_1


"Kamu bantu kakak saja! Kita harus secepatnya pergi dari penderitaan ini" Tutur Amelia sambil menyalakan api.


Api mulai berkobar dan keduanya tersenyum. "Aku akan ikut kakak, dimana pun kakak berada." Tutur Dimas.


__ADS_2