Rahim Bayaran Mr. M

Rahim Bayaran Mr. M
Bab 84


__ADS_3

Marcell pergi meninggalkan Mama Anita yang masih diam membeku. Ia melajukan mobilnya dengan cukup kencang.


"Kenapa semuanya jadi seperti ini? Entah setan apa, yang merasuki Mama hingga bisa berbuat kejam seperti ini." Gerutunya kesal.


Marcell tak tahu keberadaan Amelia, tapi Ia menduga jika dia akan pulang ke rumah lamanya.


Setelah 20 menit di perjalanan, Marcell akhirnya sampai dan segera masuk ke dalam rumah. Dan ternyata dugaannya benar, Amelia ada di rumah ini.


Amelia yang saat ini sedang mendorong kursi roda Ziana, Marcell segera menghampiri dan memeluknya dari belakang.


"Maafkan aku!" Ucapnya sambil meneteskan air mata.


Amelia menoleh dan Ia pun tersenyum. "Kenapa kamu terlihat sedih, aku baik-baik saja?" Tanya Amelia.


Marcell menatap wajah sang istri, Ia menyunggingkan senyumnya dan menghapus air mata Amelia yang terus mengalir.


"Sayang, kamu jangan sok kuat! Aku mengerti, semua ucapan Mama pasti sudah menyakiti hatimu." Tuturnya.


Akhirnya Amelia tak bisa menahan air matanya, Ia memeluk Marcell dan menangis tersedu-sedu.


"Aku memang istri dan ibu yang gak becus. Aku sudah berusaha keras, tapi semuanya tidak berguna di hadapan Mama. Entah apa kesalahan Ku, hingga Mama benar-benar membenciku." Ucapnya sambil menangis.


Marcell mengelus lembut rambut Amelia dan matanya mulai berkaca-kaca.


"Sayang semua ini bukan salahmu, Mama akhir-akhir ini nampak terpuruk hingga melakukan semua ini." Jawabnya.


"Ya aku mengerti, tapi aku sakit hati! Mama mengatai Ziana anak tidak berguna karena lumpuh. Dan Mama bilang, dia Mali punya cucu seperti Ziana." Ucapnya sambil menangis.


Marcell terdiam dan tangannya nampak gemetar.

__ADS_1


"Ternyata ini alasan kepergian Amelia, aku tidak habis pikir dengan Mama. Ziana cucunya dan dia juga yang membesarkannya dengan kasih sayang. Tapi kenapa, dengan kaki Ziana yang lumpuh Mama menjadi seperti ini." Batinnya sambil menatap sang anak.


Ziana terlihat sedih, Ia murung dan menundukkan kepalanya. Marcell melepaskan pelukan dari Amelia dan menghampiri Ziana. Ia menekuk lututnya di lantai dan menghapus air matanya.


"Sayang, apapun yang terjadi kamu harus kuat. Hidup tak selamanya indah, pasti ada suka dan duka. Tapi satu hal yang pasti, Papa, dan Om Dimas akan selalu ada untukmu." Tuturnya sambil menggenggam tangan sang anak.


Ziana langsung memeluk Marcell, Ia akhirnya bisa merasa lega karena Papa nya mau bersamanya. Ziana tak tahu, jika Amelia adalah ibu kandungnya jadi meskipun ada Amelia Ziana merasa sendiri.


"Pa, bukan inginku untuk menjadi beban di keluarga ini. Aku tidak jika menolong kucing, akan berakhir jadi seperti ini." Ucapnya sambil menangis.


"Tenanglah sayang, semuanya akan baik-baik saja! Papa yakin kamu pasti akan sembuh, asalkan kamu ada kemauan." Ucap Marcell menenangkan.


Ziana melepaskan pelukannya dan Ia mulai tersenyum kembali. "Papa benar, aku harus semangat demi kesembuhan ku." Ucapnya.


Marcell dan Amelia nampak bahagia, akhirnya Ziana ada semangat untuk sembuh. Mereka memeluk Ziana dan mencium pipinya.


"Hidupku memang sempurna, meskipun keadaanku seperti ini. Tapi aku punya Mama dan Papa." Batinnya.


Di kediaman Marcell...


Mama Anita nampak masih terpuruk, Ia menatap rumahnya yang besar nampak sepi. Ia mengingat kembali masa-masa di mana rumah ini ramai dengan senyuman dan candaan.


"Aku tidak egois, semua ini demi pewaris keluarga. Aku melakukan hal yang benar, meskipun Marcell menentang tapi aku tidak ingin keluarga ini akan hancur karena punya pewaris yang lumpuh." Pekiknya.


Tanpa di sadari, Rachel sudah ada di belakang Mama Anita. Ia mendengar semuanya dan terlihat senyum lebar terpancar dari wajahnya.


"Tante ..!" Sapanya.


Mama Anita menoleh dan segera menghapus air matanya.

__ADS_1


"Rachel, kamu disini!"


"Iya Tante, Maaf aku langsung nyelonong masuk karena pintunya terbuka." Jawabnya sambil duduk di samping Mama Anita.


Rachel menggenggam tangan Mama Anita. "Maaf sebelumnya Tante, aku menguping ucapan Tante. Dan kenapa rumah terasa sepi, kemana semua orang!" Ucapnya sambil melihat sekitar.


"Mereka semua pergi!"


Rachel memasang ekspresi wajah terkejut. "Pergi kemana? Apa mungkin mereka tidak ingin tinggal lagi di rumah ini." Ucapnya.


"Tante yang mengusirnya!"


"Loh, memangnya kenapa Tante?"


Mama Anita bangkit sambil melipat tangannya di dada.


"Rachel, apa Tante salah jika menginginkan pewaris yang sempurna?" Tanyanya.


Rachel tersenyum tipis. "Tante tidak salah, semua orang pasti menginginkan yang terbaik untuk keluarganya termasuk Tante. Sebenarnya, aku berat hati mengatakannya." Ucapnya sambil menundukkan kepalanya.


"Mengatakan apa?" Tanyanya penasaran.


"Sebenarnya Ziana tidak bisa sembuh lagi, dia akan menjadi gadis yang lumpuh seumur hidup." Jawabnya sedih.


Mama Anita menganggukkan kepalanya. "Iya, Tante juga punya pemikiran seperti itu. Dan coba kamu bayangkan, jika ada di posisi Tante. Ziana lumpuh dan Amelia tidak bisa memberikan cucu lagi untuk Tante." Tuturnya sedih.


Rachel bangkit dan memeluk Mama Anita. "Tante andai saja aku bisa membantu, semuanya pasti akan kulakukan." Ucapnya.


"Rachel, kamu sudah banyak membantu Tante! Andai saja, kamu bisa menjadi menantu Tante. Mungkin Tante akan menjadi mertua paling bahagia di dunia ini." Ucapnya sambil mengelus lembut pipi Rachel.

__ADS_1


Rachel tersenyum. "Iya andai saja! Sebenarnya aku sangat mencintai Marcell dari dulu tapi dia tidak pernah menoleh ataupun membalas cintaku."


Mama Anita nampak bahagia. "Kebetulan sekali, Tante bahagia mendengarnya. Tante janji, keinginanmu akan terpenuhi. Kamu akan menjadi istri Marcell." Jawabnya.


__ADS_2