
2 tahun kemudian...
Tak terasa waktu cepat berlalu, Ziana sekarang tumbuh menjadi anak yang lucu dan cantik. Ia menjadi anak yang pintar dan aktif. Ziana sudah bisa berjalan bahkan berlari, Ia juga sudah bisa bicara.
Anita begitu sangat menyayangi cucunya. Tapi Ziana selalu sedih karena sang Papa masih dingin kepadanya. Marcell juga lebih sering memarahi Ziana dari pada menyayanginya.
"Papa...! Aku mau ke taman piknik seperti mereka." Ucapnya dengan suara yang khas.
Marcell menatap tajam. "Kalau kamu mau pergi, pergi saja sendiri. Kami bisa ajak pelayan ataupun nenek!" Bentak Marcell.
Ziana yang mendengar semua itu hanya bisa menahan air matanya. Ia tak berani menangis di hadapan Marcell karena Ia tak ingin Papanya semakin marah.
Marah melirik ke arah anaknya. Ia nampak tersenyum melihat anaknya dengan mata yang merah dan hidungnya juga terlihat merah.
"Ah..., sudahlah menangis saja! Kenapa harus di tahan, lagipula kamu di mataku masih seperti anak cengeng lainnya. Jika kami ingin mendapatkan kasih sayangku, kamu harus tegar dan tidak boleh cengeng." Ledek Marcell.
Ziana tersenyum. "Iya pa! Aku akan menjadi anak yang papa inginkan." Jawabnya dengan Sura yang lucu.
Deg...Deg...
Marcell menatap Ziana, Ia begitu kagum dengan kegigihannya. Tapi sayang, semua yang dilakukannya tidak bisa merubah sifat Marcell untuk saat ini.
...
__ADS_1
Di kafe...
Terlihat seorang wanita berjalan dengan langkah yang anggun. Ia nampak mengunakan baju dress dengan rambut di gerai. Semua pengunjung nampak menatap takjub melihat kecantikan wanita itu.
Dan terlihat seorang lelaki tengah duduk di salah satu kursi. Ia nampak tersenyum dan menyambut kedatangan wanita itu.
"Mel...!" Sapanya.
Wanita itu tersenyum dengan manis. "Sudah lama tak jumpa, Dokter farel!" Tutur wanita itu.
"Sudahlah jangan sungkan seperti itu! Status kita sama dan sekarang kamu lebih sukses dari diriku. Kalau di luaran panggil saja aku farel." Jawab Dokter farel.
"Baiklah!"
"Terimakasih...!"
"Untuk apa?" Tanya Dokter farel.
"Untuk semuanya, terima kasih karena kamu dulu telah menolongku. Dan terima kasih, karena kami juga telah membuatku jadi seperti ini." Ucap Amelia.
Dokter farel menggenggam tangan Amelia. "Mel, bukan aku yang merubah mu. Tapi kamu sendiri yang berubah menjadi wanita kuat, tegar dan lebih cantik."
Amelia tersenyum dan menatap dokter farel. Ia mengingat kembali masa lalunya.
__ADS_1
Flashback...
Amelia berlari dari kobaran api, dengan hati kecewa dan cemar. Terlihat seorang lelaki datang menghampirinya dan langsung memeluknya.
"Mel, tenanglah!"
Amelia menatap lelaki tersebut. "Dokter Farel...! Kenapa kamu disini?" Tanyanya.
"Aku disini untukmu dan aku akan selalu ada untukmu." Jawabnya.
"Terimakasih!"
Dokter Farel masuk ke dalam kobaran api. Ia meletakkan kantong plastik besar. Ia menaruh dia mayat di sana.
"Maafkan aku! Seharusnya aku tidak seperti ini menjadi dokter, tapi semua ini kulakukan untuk wanita yang sangat kucintai." Tuturnya sambil melihat jenazah yang perlahan terbakar.
Setelah selesai, dokter Farel menghampiri Amelia kembali. Ia langsung mengajaknya masuk ke dalam mobil. Dokter Farel langsung melajukan mobilnya dan membawa Amelia ke tempat yang aman.
Amelia dan Dimas nampak saling berpelukan. Ia akhirnya lega bisa pergi dari kehidupannya yang kelam.
"Sekarang aku mengalah dan pergi, tapi suatu saat nanti aku akan kembali untuk mengambil anakku!" Batinnya sambil mengepalkan tangannya.
Flash off...
__ADS_1