
Setelah selesai berkemas, Amelia keluar sambil membawa koper. Ia langsung menuju kamar Ziana dan segera mengajaknya pergi.
"Sayang, ayo kita pergi!" Ajaknya sambil tersenyum.
Ziana menganggukkan kepalanya dan mereka pun pergi. Ziana membawa tas dan koper, sedangkan Dimas mendorong kursi roda sambil membawa tas kecil.
Ia akhirnya sampai di ruang tamu dan terlihat Mama Anita tengah duduk di sofa. Amelia menghampiri dan pamit untuk pergi.
"Ma, Amelia pergi dulu yah!" Tuturnya sambil sungkem.
Mama Anita tak menjawab ataupun melirik wajah Amelia. Tapi Amelia mencoba tenang dan tetap tersenyum.
"Mama baik-baik di rumah yah, doain aku dan Ziana agar bisa sembuh." Tuturnya.
Mama Anita masih diam dan Dimas mendorong kursi roda Ziana ke depannya.
"Nenek, Ziana pergi dulu yah! Oh iya nek, jangan tidur terlalu malam dan jangan terlalu banyak pikiran. Aku tidak ingin nenek sakit, aku janji setelah sembuh nanti aku akan kembali." Tuturnya.
Mama Anita masih diam dan ada rasa kecewa di hati Ziana.
"Nenek sudah tidak menyayangiku lagi!" Batinnya sambil meneteskan air mata.
Akhirnya Ziana menghapus air matanya dan mengajak Dimas untuk pergi.
__ADS_1
"Om Dimas, Ayo kita pergi!" Ajaknya dengan raut wajah sedih.
Dimas mendorong kursi roda menjauh, Amelia yang melihat semua itu nampak sedih.
"Ma, seharusnya Mama tidak melakukan semua ini kepada Ziana. Aku tidak ingin, Mama melampiaskan kebencian Mama kepada Ziana." Tuturnya sambil melenggang pergi.
Amelia pun pergi, Mama Anita nampak terjatuh ke lantai dan Ia pun mulai menangis.
"Kenapa semua jadi seperti ini? Aku begitu sangat menyayangi Ziana, tapi kelumpuhan nya membuatku malu. Aku tidak ingin punya cucu lumpuh, aku tidak ingin pewaris keluarga adalah anak yang tidak berguna." Ucapnya yang sedih.
Setelah Amelia pergi cukup lama, Marcell pun tiba. Ia melihat sang Mama yang sedang terduduk di lantai dengan wajah yang sedih.
"Ma, ada apa ini?" Tanyanya sambil menghampiri.
Marcell tak melihat Amelia, Ia juga pergi ke kamar Ziana dan tak ada seorang pun. Lemari Ziana terbuka dan Marcell nampak terkejut karena semua pakaiannya tidak ada di lemari.
Marcell yang melihat semua itu langsung berlari kembali menuju sang Mama. Ia terus bertanya dan mendesak untuk menanyakan apa yang terjadi.
"Ma, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Amelia, Dimas dan Ziana tidak ada di rumah." Teriaknya.
Mama Anita nampak kesal dan mengatakan segalanya.
"Mereka pergi dan Mama yang mengusirnya!" Jawabnya.
__ADS_1
Marcell nampak terdiam, Ia benar-benar terkejut dan tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Ma, tolong jangan bercanda!" Ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Apa wajah mama terlihat sedang bercanda?" Teriak Mama Anita.
Marcell nampak sedih dan Ia duduk di sofa sambil meremas rambutnya sendiri.
"Kenapa...?" Tanyanya sedih.
Mama Anita menyunggingkan senyumnya. 'Apa yang Mama dapatkan dari mengurus mereka di rumah ini? Semua tidak berguna dan hanya bisa membuat malu." Tuturnya.
"Ma, mereka anak istriku! Kenapa mama begitu kejam kepada mereka? Bukannya dulu, Mama yang selalu menyuruhku untuk menikahi Amelia." Teriaknya sambil menangis.
"Itu dulu, semuanya sudah berbeda. Ziana lumpuh, apa yang bisa Mama dapatkan dari orang lumpuh. Sedangkan Amelia, sudah 3 tahun Mama meminta untuk punya cucu lagi, tapi dia tak kunjung hamil." Teriaknya.
Marcell menggelengkan kepalanya. "Aku kecewa sama Mama!"
"Terserah, apa yang mau kamu katakan! Besok kita akan pergi ke pengadilan agama untuk mengusir perceraian mu dengan Amelia." Tuturnya.
Marcell yang mendengar semua itu nampak meremas tangannya sendiri.
"Aku tidak akan pernah menceraikan Amelia, dia istri sampai kapanpun tetap istriku. Jika Mama melakukan itu, jangan anggap aku sebagai anakmu lagi." Ucapnya sambil melenggang pergi.
__ADS_1