Rahim Bayaran Mr. M

Rahim Bayaran Mr. M
Bab 51


__ADS_3

Amelia mengajak makan Ziana siang di kafe yang dekat dengan tangan. Amelia memilih makan ayam goreng berserta nasi dan Ziana pun memilih hal yang sama.


"Tante, kenapa selera kita sama yah!" Tutur Ziana.


Amelia tersenyum. "Tante juga tidak tahu, mungkin karena semua orang suka dengan ayam goreng." Jawabnya.


Akhirnya pesanan mereka tiba, dan ternyata cara makan Ziana juga sama persis dengan Amelia. Amelia selalu menggunakan tangan kiri untuk melakukan semuanya dan begitupun juga dengan makan.


Amelia nampak terdiam, karena kebetulan ini terlalu banyak. "Aku harus mencari tahu tentang Ziana, aku yakin ada ikatan batin yang kuat antara aku dan dia." Batinnya.


Ziana nampak lahap, meskipun usianya masih 2 tahun tapi ia makan sendiri dan mandiri. Sifat inilah yang di kagumi oleh Amelia.


"Ziana boleh Tante tanya?" Tanya Amelia.


Ziana menggelengkan kepalanya. "Tidak boleh! Tante tidak boleh bicara sambil makan, itu yang Papa katakan. Kita bicarakan nanti setelah selesai makan." Jawab Ziana yang penuh dengan makanan di mulut.


"Iya!" Jawab Amelia sambil tersenyum.


Amelia menyantap makanannya, Ia benar-benar kagum dengan Ziana yang memegang kuat semua kata-kata dari Papanya.


"Papanya pasti orang yang dermawan, Ia bisa mendidik Ziana menjadi anak yang seperti ini. Aku jadi penasaran, lelaki mana yang melakukan ini." Batinnya sambil tersenyum.


Akhirnya mereka selesai makan, Amelia membayar semua makanannya. Tapi Ziana menolak, Ia mengeluarkan tas kecil dan mengambil uang.

__ADS_1


"Tante bayarnya masing-masing yah!" Ucap Ziana.


Amelia mengelus rambut Ziana dengan lembut. "Biar Tante yang terakhir yah!" Jawabnya.


Ziana menggelengkan kepalanya. "Tidak Tante, Papa bilang kita tidak boleh bergantung pada orang lain dan kita tidak boleh berhutang Budi." Tuturnya.


"Baiklah!"


Setelah selesai membayar, akhirnya mereka pergi dan Amelia mengantarkan Ziana untuk pulang ke rumahnya.


Ziana terlihat tersenyum saat perjalanan. Amelia menoleh dan menanyakan apa yang membuatnya bahagia.


"Kenapa kamu sebahagia ini?"


Amelia mengerutkan keningnya. "Kenapa karena Tante?"


"Karena kehadiran Tante selalu membuat ku bahagia, entah apa tapi aku merasa nyaman berada di samping Tante." Jawab Ziana sambil menoleh.


"Tante juga bahagia bisa bareng sama kamu!" Jawab Amelia sambil tersenyum.


Akhirnya mereka sampai di depan rumah, Amelia menghentikan mobilnya dan mengintip dari jendela.


"Ternyata rumah Ziana mewah, pantas saja prinsip nya sangat kuat!" Batinnya.

__ADS_1


Ziana menarik tangan Amelia. "Tante bidadari, ayo masuk dulu! Aku kenalin sama Nenek dan Papa." Ajaknya.


"Eem, lain kali saja yah! Tante masih ads urusan." Jawab Amelia.


Ziana nampak manyun dan kecewa. Amelia yang melihat semua itu nampak tak tega dan akhirnya luluh. "Baiklah, tapi cuma sebentar yah!"


"Oke!" Jawab Ziana dengan riang.


Ziana dan Amelia keluar dari mobil. Ia berjalan masuk sambil bergandengan tangan. Tanpa di sadari 2 bola mata sedang memperhatikan mereka dengan raut wajah cemas.


"Nona Amelia, masih hidup!" Batinnya.


Lelaki itu ialah Pak Ardi, Ia sengaja bersembunyi karena tak ingin Amelia tahu.


Akhirnya mereka sampai di dalam rumah yang terlihat sepi. Amelia melihat sekeliling dan tak ada siapa pun. "Sepertinya tidak ada orang!"


"Ada, ayo kita temui nenek!" Ajak Ziana.


Tok...Tok...


Ziana mengetuk pintu kamar sang nenek. "Masuk!" Teriaknya dari dalam.


Amelia dan Ziana masuk. Ziana langsung berlari dan memeluk sang nenek. "Nenek aku ngenalin Tante bidadari!"

__ADS_1


Nenek Ziana menoleh dan menatap wanita yang ada di hadapannya. Matanya mulai berkaca-kaca dan tersenyum. "Amelia!"


__ADS_2