
Marcell melepaskan pelukannya dan menghapus air mata di pipi Ziana. "Kenapa kamu menangis? Meskipun Papa akan berubah, tapi tetap air mata tidak boleh jatuh dari mata indah mu!" Ucapnya.
Ziana tersenyum. "Papa...air mata ini adalah tangisan bahagia." Jawabnya.
Marcell tersenyum sambil mengelus rambut Ziana. "Memangnya kamu tahu dari mana? Semua air mata itu sama dan tak ada yang namanya tangisan bahagia." Tanyanya.
"Papa...! Dulu aku tak percaya tapi Tante bidadari yang mengatakannya. Dan aku sendiri telah membuktikannya." Jawab Ziana.
"Tante bidadari!"
Ziana menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Iya, pah! Tante bidadari adalah wanita cantik dan baik. Jika Papa bertemu dengannya pasti Papa langsung jatuh cinta kepadanya." Jawab Ziana dengan suara yang khas.
Marcell nampak terdiam, Ia penasaran dengan yang di katakan oleh sang anak.
"Siapa wanita itu...? Tidak biasanya Ziana akrab dengan orang luar." Batinnya.
Anita yang memperhatikan sedari tadi, nampak meneteskan air mata. Ia langsung berlari masuk dan memeluk mereka berdua.
"Kalian adalah kebanggaan Mama! Semoga keluarga kita bisa bahagia seperti ini." Ucapnya sambil mencium Marcell dan Ziana.
Ziana tersenyum bahagia, Ia nampak menepuk tangan sang nenek sambil batuk-batuk.
"Nenek, aku ke cekik!" Ucapnya.
Anita langsung melepaskan. "Maaf sayang, Nenek tak sadar dak Ng bahagianya." Jawab Anita.
Ziana tersenyum dan Anita saling menatap dengan Marcell. Marcell memeluk sang Mama dan mencium keningnya.
"Terimakasih karena Mama telah menyadarkan ku!" Ucapnya.
__ADS_1
Mereka akhirnya pergi untuk sarapan. Marcell nampak menyuapi Ziana, saking tak terbiasanya Ia nampak protes.
"Papa, aku bisa sendiri! Aku tidak terbiasa dengan perlakuan papa seperti ini." Ucapnya.
Marcell menatap tajam. "Mulai sekarang kamu harus terbiasa, karena Papa akan melakukan setiap hari." Jawabnya.
Ziana mengangguk bahagia, Ia kembali memeluk Marcell dengan erat. "Terimakasih Papa!"
Marcell tersenyum dan mencium kening Ziana. "Jadi ini yang disebut dicintai oleh abak, aku bahagia bisa merasakannya sebelum terlambat." Batinnya yang bahagia.
...
Amelia nampak sedang bersiap, Ia sedang menggunakan pakaian dengan sedikit riasan di wajahnya.
"Gawat, aku sudah terlambat!" Keluhnya.
"Kak, kamu tidak boleh seperti ini! Kalau kamu jatuh bagaimana?" Tuturnya.
Amelia mencium kening Dinas dan berlari. "Sayang, kakak sudah terlambat! Kamu jangan lupa makan dan ingat jangan kemana-mana!" Teriak Amelia.
Amelia masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kencang. Meskipun Ia ngebut, tapi Ia tetap hati-hati.
Amelia menjadi wanita yang sibuk, Ia sekarang sedang ada meeting untuk peluncuran restoran terbarunya. Meeting ini sangat penting karena ia akan bertemu dengan investor.
Akhirnya Amelia tiba dan ternyata Ia datang terlalu pagi. Belum ada yang datang di sana, yang ada hanyalah manager restoran sekaligus sahabatnya.
"Pagi Bu bos!" Sapanya.
Amelia memeluk Dea sang sahabat dan mencium pipinya.
__ADS_1
"Kamu kok bicara seperti itu! Aku tidak suka jika status menjadi pemisah untuk persahabatan kita." Tuturnya.
Dea tersenyum dan melepaskan pelukannya. "Aku sangat merindukanmu! 2 tahun sudah kira berpisah dan kamu menjadi wanita yang kaya raya."
"Sudahlah jangan bicara seperti itu! Kamu tuh sahabat terbaikku." Ucap Amelia sambil duduk.
"Tumben kamu datang kemari! Apakah meeting nya benar-benar sangat penting. Biasanya kamu sekalu menyuruhku untuk turun tangan." Ucap Dea.
"Iya, meeting ini benar-benar penting. Dan aku akan menjalin kerjasama dengan perusahaan terbesar di kota ini. Aku akan meyakinkan dia agar bersedia menjadi investor di restoran yang akan dibuat ini." Tuturnya.
"Semoga sukses, aku pasti akan selalu mendoakan mu!" Ucap Sang sahabat.
"Apakah semuanya sudah siap?" Tanya Amelia.
"Tentu saja, aku tidak akan mengecewakanmu."
Disaat mereka berbincang, seorang wanita cantik datang dan mengaku sebagai sekertaris dari perusahaan yang akan bekerja sama dengannya.
"Selamat pagi!" Sapanya sambil berjabat tangan.
Amelia tersenyum dan menyapanya. Ia menyuruhnya untuk duduk dan menyuruh Dea membawa minuman spesial.
Setelah sekertaris nya duduk, Ia mengutarakan maksud kedatangannya. "Sebelumnya saya minta maaf karena keterlambatannya. Dan saya juga di untuk meminta waktu Bu Amelia." Tuturnya.
"Iya tidak apa-apa! Lalu kemana pemilik perusahaannya, apakah dia tidak jadi datang kesini." Tanyanya sambil melihat kebelakang.
"Itu maksud kedatangan saya! Kebetulan Bu Anita tidak bisa hadir, dan dua mengutus anaknya yang datang. Tapi karena anaknya baru sembuh dari sakit, jadi Ia membutuhkan waktu untuk datang kemari." Ujarnya.
Amelia tersenyum. "Tidak apa-apa! Waktu saya sangat banyak untuk kalian."
__ADS_1