Rahim Bayaran Mr. M

Rahim Bayaran Mr. M
Bab 41


__ADS_3

Waktu berlalu tanpa terasa, 2 bulan sudah Indira mengalami perang dingin bersama dengan suami dan mertuanya.


Penyakitnya mulai menyebar dengan luas, tubuh lemas dan wajah pucat. Rasa sakit yang dialami Indira bukan karena penyakitnya saja, tapi juga karena perlakuan dari dua orang yang dia sayangi.


Hari ini Indira tak bisa pergi dari tempat tidur, hidungnya mengeluarkan banyak darah. Ia memanggil asisten setianya untuk kemari.


"Bi, tolong panggilkan Marcell dan Mama!" Pintanya dengan suara lemas.


"Baik!" Jawabnya sambil melenggang pergi.


Bibi pergi mencari keberadaan Marcell yang tidak pernah keluar dari kamar. Ia mencoba untuk membujuknya. Meskipun Marcell merasa malas, tapi Ia tidak ingin membuat Indira menjadi banyak pikiran.


Setelah Marcell bersedia menemui Indira. Bibi pergi untuk menemui Nyonya Anita. Anita nampak menolak, tapi bibi mencoba meyakinkannya dengan memohon sambil bersujud di kakinya.


"Nyonya, saya mohon unt kali ini saja!" Tutur Bibi.


Anita menyunggingkan senyumnya. "Kamu dibayar berapa sama wanita ular itu?" Tanya nya.


"Nyonya saya tida di bayar sepeserpun! Tapi saya benar-benar tak tega melihat Nona Indira seperti itu." Jawabnya.


"Baiklah, semua ini kulakukan untukmu!" Jawab Anita dengan malas.


Anita pergi dengan membawa baby Ziana. Ia nampak berjalan dengan malas dan Anita membuang nafas dengan kasar.

__ADS_1


Akhirnya Anita dan Marcell bertemu di depan pintu Indira. Ia masuk dengan bersamaan. Mata mereka nampak membulat sempurna, melihat wajah Indira yang begitu pucat.


Mereka berjalan dengan pelan, ada rasa bersalah melihat Indira yang tak berdaya.


"Kamu kenapa?" Tanya Marcell.


Indira tersenyum tipis. "Aku baik-baik saja! Hanya merasa pusing sedikit." Jawab Indira.


Marcell duduk di samping ranjang, Ia menggenggam tangan Indira yang sudah terasa dingin.


"Maafkan aku, karena seharusnya aku tidak berbuat seperti ini!" Ujar Marcell.


Air mata Indira nampak menetes dan menggenggam tangan Marcell.


Indira menoleh ke arah Anita dan tersenyum. "Ma...!" Ucapnya dengan pelan.


Anita memberikan bayi kepada asisten rumah tangga. Ia mendekati Indira dengan penuh rasa iba.


"Ma, maafkan Indira! Indira tahu Mama sudah mengetahui kebenarannya jadi Mama bersikap seperti ini sama Indira." Tuturnya dengan air mata.


Mata Anita mulai memerah, Ia menyesal karena telah memperlakukan menantunya seperti itu. "Sayang, Mana minta maaf! Mama gelap mata, hingga sulit untuk bisa memaafkan kamu." Jawabnya.


Indira tersenyum dengan bibir pucat. "Iya, semua ini memang salahku! Tapi aku berharap kalian bisa memaafkan ku." Ucap Indira.

__ADS_1


Anita dan Marcell memeluk Indira. Mereka meminta maaf karena perlakuannya membuat Indira kembali sakit dan malah lebih parah.


Indira tersenyum bahagia, akhirnya kesalahan pahaman antara mereka bisa teratasi. Indira mulai memejamkan matanya sambil meneteskan air mata.


Marcell mencium Indira dan terus meminta maaf. Hingga Marcell merasa ada yang aneh dengan Indira. Ia menatap wajah Indira dan mencoba membangunkannya.


"Indira....! Sayang, bangun...!" Pinta Marcell sambil menangis dan panik.


Anita begitu terkejut dan mencoba membangun Indira. Tapi Indira sudah tak bergerak, Marcell berteriak memanggil Pak Ardi.


Para Ardi bergegas menghampiri dan mendekati tubuh Indira. Ia mengecek nadinya dan wajah pak Ardi mulai pucat.


"Tuan muda, Nona sudah meninggal!" Tutur Pak Ardi.


Anita dan Marcell nampak tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Marcell begitu emosi dan menarik kerah baju Pak Ardi.


"Kamu jangan bercanda, tidak mungkin Indira meninggal." Teriaknya.


Pak Ardi tak melawan, Marcell melepaskan dan tubuhnya terjatuh ke lantai. "Pasti semua ini salah, cepat panggil dokter!" Teriak Marcell.


Asisten yang datang menghampiri langsung bergegas untuk menelpon dokter. Tak lama dokter pun tiba, Ia langsung mengecek keadaan Indira.


"Maaf tuan muda...! Nona sudah meninggal."

__ADS_1


__ADS_2