
Beberapa hari kemudian...
Amelia terlihat masih terpuruk, Ia membatalkan kerja samanya dengan perusahaan Marcell. Dan itu membuat Amelia kena denda yang besar. Meskipun begitu, Amelia rela dari pada melihat Marcell setiap hari.
Amelia juga telah mentransferkan uang yang dulu pernah di berikan oleh Marcell. Ia juga meminta Ziana untuk bersamanya.
Marcell saat itu pasrah dan bermaksud untuk memberikan Ziana. Tapi Anita menolak keras, karena dialah yang telah membesarkan sang cucu.
Akhirnya Anita mengajak Amelia untuk bertemu di sebuah kafe yang sudah di sewa selama sehari. Agar tidak ada orang lain yang mendengarkan pembicaraan mereka.
Anita nampak menunggu dengan cukup lama dan Amelia akhirnya tiba, tatapannya terlihat dingin dan Ia pun mulai duduk.
"Kenapa Ziana tidak di bawa?" Tanyanya ketus.
"Mel, apakah ini balasan atas perlakuan ku terhadap dirimu!" Jawab Anita dengan mata berkaca-kaca.
Amelia nampak membulatkan matanya. "Apa maksud anda? Bukankah ini yang anda mau, anda mempermainkan perasaan saya dan anda juga telah memisahkan saya dengan Ziana." Tutur Amelia.
Anita menyunggingkan senyumnya. "Aku tidak akan pernah memberikan Ziana kepadamu karena aku yang mengurusnya."
__ADS_1
Brakkk...
Amelia menggebrak meja karena kesal mendengar Jawaban dari Anita. "Aku tak menyangka, ternyata anda lebih kejam dari pada Marcell."
"Marcell melakukan semua ini karena dia cinta sama kamu, kau tahu betapa menderitanya dia saat di tinggalkan kamu." Teriak Anita yang sudah kesal.
"Cukup, mungkin kita tidak akan dapat jalur tengah untuk semua pembicaraan ini." Tuturnya sambil melenggang pergi.
Anita menarik tangan Amelia dan menjatuhkannya ke lantai.
"Kau tahu, aku sangat menderita melihat Marcell tak berdaya." Teriaknya
"Aku melakukan ini karena aku seorang ibu. Apa bedanya kau dengan Marcell? Marcell merampas anakmu karena kalian sudah melakukan perjanjian di atas materai dan sekarang kau malah menyalahkan Marcell!" Teriak Anita yang sudah tak bisa menahan kesabarannya lagi.
Amelia terdiam dan Ia hanya bisa menangis. Anita terduduk di lantai dan menatapnya.
"Apakah kau tahu, aku sengaja mendekatimu karena aku kasihan sama kamu yang telah di permainkan oleh Indira dan Marcell. Aku berada di sampingmu hanya untuk memberikan kasih sayang yang tak di berikan oleh Marcell." Tuturnya dengan suara pelan.
Amelia terdiam, Ia tak menyangka jika inilah yang di sembunyikan Anita. Akhirnya Anita melanjutkan perkataannya.
__ADS_1
"Tante sayang banget sama kamu, Mel! Apalagi waktu Marcell merampas Ziana dari tanganmu. Hati Tante terasa tersayat, hingga Tante menampar Marcell dan bersikap diam kepada Indira." Tuturnya sambil menangis.
Amelia akhirnya luluh, Ia memeluk Anita. "Maafkan Amelia Tante!" Tuturnya sambil menangis.
Anita tak membalas pelukannya, Ia lebih memilih untuk menceritakan kebenaran.
"Dalang dari semua adalah Indira. Marcell terpaksa merampas anakmu Karena Ia tahu watak dari istrinya. Ia mengancam akan menyakitimu." Tutur Anita kembali.
Deg...
Detak jantung Amelia serasa terhenti mendengar kenyataan yang di lontarkan oleh Anita. Ia nampak menyesal tidak mendengarkan penjelasan dari Marcell.
Anita tersenyum. "Seharusnya Tante marah sama kamu atas insiden pembakaran rumah. Kamu justru menipu kami hingga kami dirundung rasa bersalah yang besar. Terutama Marcell, Ia sampai benci kepada dirinya sendiri dan terpuruk. Ia tak ingin keluar rumah ataupun menghampiri Indira. Hingga akhirnya Indira meninggal karena diam kami. Dan seharusnya kami yang marah sama kamu karena menipu kami." Ucapnya dengan tatapan kosong.
Amelia terus menangis sambil meminta maaf. Anita pun akhirnya tersenyum.
"Mel, Marcell sangat mencintaimu! Marcell menutupi semua ini karena takut akan kehilanganmu untuk kedua kalinya." Ucapnya dengan lembut.
Akhirnya mereka bangkit dan saling berpelukan. "Mel, Tante akan memberikan waktu untukmu! Aku tahu semua ini sulit untukmu, tapi mengalah lah demi Ziana." Ucapnya dengan penuh harapan.
__ADS_1