Rain Poor

Rain Poor
10


__ADS_3

Lekky duduk di kursi dengan tenang. Aku meletakan cermin yang ku ambil dari kamar di depannya. Hari ini udara cukup panas membuatku berkeringat di dalam pakaian yang ku kenakan. Kami berada di taman belakang yang tidak terlalu ramai orang, Namun tetap saja keberadaan Kami menarik perhatian. Beberapa orang jelas lewat sambil melirik ke arah Kami.


Lekky memintaku untuk merapikan rambutnya. Aku membentangkan kain, mengikatnya pada lehernya agar rambutnya tidak jatuh mengenai bajunya. Menyiapkan gunting dan sisir. Aku menyentuh rambutnya, Halus dan terawat. Dia juga memiliki wajah yang bersih meskipun Kami sering berpergian, Hasil kerja kerasku mengurusnya selama ini. Aku merasa bangga dengan itu. Terkadang Aku merasa Aku memiliki dua anak yang harus kurawat. Ferlay dan Ayahnya.


Aku mengira-ngira seberapa banyak rambut yang harus ku potong, setelah cukup yakin Aku mulai menggunting. Aku memotong dengan hati-hati. Lekky sibuk membaca berita hari ini di tangannya. Ada foto wajahku dan Lekky di sana. Kami berdiri begitu dekat, tersenyum lebar. Aku ingat itu adalah foto yang diambil Ferlay di rumahnya.


Aku sudah membacanya saat sarapan. Dari Curly akhirnya Aku tahu bagaimana bisa foto itu sekarang terpapang di seluruh berita hari ini. Lekky memajang foto itu di dompetnya. Seorang Putri yang kebetulan pernah satu kelas denganku, yang saat itu sedang bersama Lekky tanpa sengaja melihatnya dan mengenaliku. Dia mengambil foto itu dan menyebarkannya ke teman-teman yang lain. Akhirnya Gosip kembali beredar. Mereka mengaitkan Lekky dengan menghilangnya Aku secara misterius di kapal yang sedang berlayar di tengah laut lima tahun lalu. Apalagi jelas, Lekky muncul sebelum Kami berangkat berlayar. Dalam berita itu terpampang tulisan dengan judul yang dibuat cukup besar, mengabarkan ada dugaan hubungan terlarang antara Aku dan Lekky. Mereka menyebut Lekky kembali mengulang kisah lamanya dengan merebut istri orang namun Kali ini Dia merebut istri perwaris tahtah kerajaan Argueda.


Lekky sendiri bersikap sangat acuh terhadap gosip yang beredar, sehingga semakin membuat orang yakin bahwa Kami memiliki hubungan khusus.


Aku baru selesai memotong rambut Lekky, meniup rambut di bahunya untuk menyingkirkan sisa rambut yang berjatuhan ketika Raja Bardansah dan Pangeran Riana datang. Aku berdiri dengan canggung. Lekky memegang cermin, mengacak-acak rambutnya untuk melihat hasil potonganku. Dia bersikap seolah tidak tahu menahu, padahal Aku cukup yakin Dia mengetahui dengan pasti dari pikiran Raja apa yang membawa Mereka kemari.


"Apa Aku bisa berbicara denganmu ?" Tanya Raja ketika mendekat. Lekky tidak menjawab, Namun Dia meletakan cerminnya ke meja. Aku berdiri di belakang Lekky layaknya seorang pelayan.


Raja dan Pangeran Riana duduk. Raja mengeluarkan surat dari sakunya. Aku menarik nafas tertahan. Itu adalah amplop yang kukirimkan ke kerajaan. Aku menuliskan surat wasiat berjaga-jaga jika Aku pergi nantinya. Aku mengenalinya dari stempel yang ada di sisi kanan surat. Dalam surat itu setelah memberikan warisan untuk para pelayan yang setia di kediaman Ayah, Aku membagi lima puluh persen harta kekayaanku untuk Lekky dan anaknya Ferlay dan lima puluh persen untuk Pangeran Sera suamiku. Aku tidak menyangka, Sekarang Raja sendiri yang datang menunjukannya pada Lekky.

__ADS_1


Lekky mengambil surat yang di serahkan Raja dan membacanya. Kemudian Dia melemparkan surat itu.


"Tampaknya ada yang bersiap untuk mati"


Aku hanya berjaga-jaga.


Jawabku dalam pikiranku. Lekky terdiam sejenak. Dia kemudian menatap Raja dan Pangeran Riana bergantian.


"Tidak ada yang bisa memaksa Yuki untuk kembali selama Dia bersamaku" Perkataan Lekky membuatku sadar, Dia sedang menjawab pikiran Raja atau Pangeran Riana.


"Bukankah Dia sudah berada di negeri ini. Perkara Dia tidak ingin berada di istana, itu adalah urusannya. Harus kuingatkan Raja Bardansah" Lekky menekankan kata di bagian Raja Bardansah sedemikian rupa. "Dia bukan lagi orangmu. Sudah ada Riana dan Sera yang bisa mengatasi iblis ini. Keberadaanya di sini tidak terlalu penting"


"Bagaimana Yuki bisa mengenalmu ?" Tanya Raja Bardansah langsung.


"Apa urusannya denganmu. Apakah masalah dalam negerimu cukup kurang sehingga Kau sampai repot mengurusi kenapa seorang gadis bisa mengenalku ?"

__ADS_1


"Jaga ucapanmu" Kata Pangeran Riana dingin. Aku memandang Mereka dengan tegang. Lekky terlalu jauh memancing emosi Mereka. Aku meremas bahu Lekky, mencoba mengingatkannya agar tidak bertindak berlebihan. Dia sudah berjanji padaku tidak membuat gara-gara dengan Pangeran Sera maupun Pangeran Riana. Namun, belum selesai satu permasalahan, Pangeran Sera muncul. Dia berhenti sejenak ketika mata Kami bertemu. Aku langsung menundukkan kepala.


Pangeran Sera datang dan mencekal kerah baju Lekky. Menarik Lekky agar berdiri. Di belakangnya para prajurit Pangeran Sera dan Garduete bersiap jika Lekky melakukan perlawanan.


"Dimana Dia...Dimana Yuki ?" Tanya Pangeran Sera langsung dengan penuh emosi.


"Ada..Tapi Dia tidak ingin bertemu denganmu" Jawab Lekky dengan nada mengejek.


"Jadi selama ini Kaulah yang menyembunyikannya"


"Kau seharusnya mengenalnya cukup baik Pangeran. Yuki tidak akan mau ikut bersamaku jika Dia tidak mempercayaiku"


Lekky melepaskan cekalan Pangeran Sera kasar. Mendorong Pangeran untuk mundur ke belakang.


Lekky berbalik ke arahku yang menatapnya penuh ketakutan. Dia merentangkan tangannya dan merangkul bahuku. Sesaat kemudian Kami sudah berada di atas udara. Di bawah Kami, Aku melihat Pangeran Sera tampak kesal karena Lekky menghilang.

__ADS_1


"Cari Dia !" Kata Pangeran Sera kepada prajuritnya.


__ADS_2