
"Kenapa wajahmu seperti itu ?" Tanya Bangsawan Voldermon ketika menemaniku mengantarkan kepergian Pangeran Sera dan pasukannya. Hari ini hampir semua orang pergi menjalankan tugas. Hanya ada beberapa orang di kuil suci. Aku berbalik dan menatap Bangsawan Voldermon, tidak bisa menyembunyikan kecemasanku.
"Apakah Kau melihat sesuatu yang berbeda dengan Pangeran Sera ?"
"Sesuatu yang berbeda ?"
"Ya...Dia menjadi aneh sejak semalam. Aku menemukannya duduk di pinggir tempat tidur sembari melihatku. Dia...Ada sesuatu yang Dia sembunyikan. Dia tampak berbeda"
"Semua orang tegang karena pertempuran ini Yuki. Begitu juga dengan dirinya. Kau jangan terlalu berpikir berat"
Aku terdiam.
Aku harap semua ini hanya perasaanku saja.
Aku merasakan sakit di perutku. Entah kenapa, Semenjak semalam sakitnya hilang timbul. Dan bahkan semakin lama menjadi lebih sering. Aku mencengkram lengan Bangsawan Voldermon. Aku sudah berusaha menahannya di depan Pangeran Sera agar Dia tidak cemas. Namun sekarang Aku tidak bisa menyembunyikan rasa tidak nyaman ini.
"Ada apa ?"
"Entahlah perutku"
Ada dua gulir cairan merembes di sela kakiku. Aku menunduk dan menyentuh cairan itu. Membauinya. Ini bukan air seni. Semakin besar perutku semakin sering Aku buang air kecil. Tapi ini, Aku sangat yakin bukan air seniku.
Aku mengernyit. Apakah yang kurasakan ini adalah yang di sebut kontraksi ?.
"Apa Kau tidak apa-apa ?"
"Bawa Aku ke kamar. Sepertinya Aku akan melahirkan ?"
"Melahirkan ?" Bangsawan Voldermon melotot tajam ke arahku dengan wajah tidak percaya. "Apa Kau serius ?, Sekarang ?"
__ADS_1
"Bukan Aku yang memintanya"
Bangsawan Voldermon langsung mengendongku. Dia tampak gugup. Seperti seorang suami yang mengantarkan istrinya melahirkan. Melihatnya membuatku tertawa.
"Kenapa Kau tertawa ?"
"Aku hanya merasa Kau sudah pantas menjadi seorang Suami"
"Jangan mimpi"
Aku dibaringkan ke atas ranjang. "Tunggu Aku akan mencari bantuan" Bangsawan Voldermon berlari keluar kamar. Aku merasakan perasaan mulas yang sangat hebat tiap beberapa saat. Jangan-jangan dari semalam Aku sudah berkontraksi tapi Aku tidak menyadarinya. Rasanya tidak nyaman.
Aku bolak balik diatas ranjang. Menahan sakit.
Tak berapa lama Bangsawan Voldermon datang dengan tabib dan perawat wanita. Tabib memeriksa keadaanku. Dia menganggukan kepala. "Putri Akan segera melahirkan. Siapkan semuanya"
"Bisakah Kau tidak pergi kemana mana" Kataku memegang tangan Bangsawan Voldermon. Aku sangat ketakutan. Apakah Aku bisa melahirkan seorang bayi. Aku tidak punya kesiapan mental apapun. Rasa sakit terus menjadi.
Bangsawan Voldermon duduk di sampingku. Dia menemaniku ketika kontraksi semakin sering terjadi. Aku berteriak kencang ketika tidak mampu menahan sakitnya. Semua tulangku serasa dipatahkan dari dalam. Berbaring ke kiri, ke kanan atau terlentangpun salah. Dua orang perawat terus menemaniku Memberiku arahan. Matahari terus bergeser. Hari sudah sore. Aku tidak tahu kapan rasa sakit ini terus menderaku.
Hingga pada akhirnya Kedua perawat mengangkat ke dua kakiku. Memposisikan sedemikian rupa.
"Putri ikuti petunjuk Kami. Fokus pada persalinan ini. Sebentar lagi anak ini akan keluar. Kami butuh bantuan Putri"
Aku menganggukan kepala. Tanganku menggengam erat Bangsawan Voldermon di sampingku. Aku mulai mengejan. Mengikuti petunjuk perawat. Aku sedikit kehabisan nafas tapi Mengetahui anakku sudah setengah jalan Aku berusaha keras mengeluarkannya.
"Aaa..." Teriakku ketika Aku merasakan kepalanya keluar. Disusul sensasi rasa licin yang meluncur keluar. Perasaan lega menyelimutiku. Semua rasa sakit yang kurasakan lebih dari sembilan jam, Semenjak pagi hilang sudah. Badanku terasa lemas. Aku melihat bayiku dibawa ke meja tak jauh dari tempatku. Tidak terdengar suara tangisan. Para perawat menepuk-nepuk dengan wajah cemas. Aku jadi panik.
"Lihat...Lihatlah Nara.." Pintaku lirih kepada Bangsawan Voldermon. Aku sudah memikirkan nama untuk bayiku semenjak lama. Nara...Aku ambil dari nama Pangeran Riana dan Sera. Aku berharap kehadirannya menyatukan keduanya saat Aku mati nanti.
__ADS_1
Bangsawan Voldermon menganggukan kepala. Dia berjalan cepat kearah para perawat. Tapi baru melangkah tiga langkah terdengar tangisan bayi yang terdengar nyaring. Aku menangis mendengar suaranya. Suara terindah yang kudengar di dunia ini. Aku menggapaikan kedua tanganku.
"Aku ingin melihatnya.."
Perawat mengendong Nara yang masih berwarna merah. Bayiku menangis kencang. Meletakkannya di dadaku. Bangsawan Voldermon berada di jarak jauh saat perawat mengeluarkan payudaraku untuk memberikan asi pertama bagi Nara. Nara menggerakan kepalanya, mencari putingku. Sementara perawat yang lain membersihkan bekas-bekas kelahiran di tubuhku.
"Anakku Nara..."
Terdengar suara pintu dibuka. Pangeran Riana masuk. Wajahnya tampak tegang. Tampaknya Dia sudah mendengar soal persalinanku. Dia masih mengenakan pakaian perangnya. Perlahan Dia mendekat. Bayiku menguap lebar. Dia mengantuk setelah meminum asi. Perawat mengangkat bayiku.
"Putri kami akan membersihkannya terlebih dahulu"
Pangeran melihat Nara dengan pandangan tidak percaya. Aku melihat tangannya mengapai seolah ingin segera memeluk Nara. Kemudian Dia beralih kepadaku.
"Apa Kau baik-baik saja"
"Ya..." Bisikku lirih.
Perawat telah selesai membersihkan Nara. Memakaikannya pakaian hangat dan menyerahkannya kepada Pangeran. Pangeran tampak kebingungan saat harus mengendong Nara. Akhirnya Perawat mengajarkannya. Aku ingin tertawa saat melihat betapa kakunya Dia mengendong bayi.
Pangeran duduk di dekatku. Menunjukan Nara padaku. Dia memiliki hidung yang mancung dan bibir tipis melengkung sempurna seperti ayahnya. Rambutnya milik Raja Bardansah.
"Terimakasih sudah berjuang untuk melahirkannya" Ujar Pangeran Riana tulus.
"Dia mirip denganmu Riana" Kata Bangsawan Voldermon didekat Pangeran Riana.
"Kau sudah jadi paman yang baik bahkan sebelum Dia lahir" Pujiku pada Bangsawan Voldermon.
"Aku bisa jadi apapun selain seorang suami"
__ADS_1
Aku melihat sebuah gerakan. Ketika berpaling Aku menemukan Pangeran Sera berdiri di depan pintu. Dia diam ditempatnya. Menatap Kami dengan pandangan penuh makna.