
"Kapan lagi Aku bisa bermanja-manja denganmu"
Aku kembali menyuapkan sesendok nasi kepada Bangsawan Voldermon ketika Pangeran Riana datang bersama Bangsawan Xasfir. Semenjak kejadian itu Putri Marsha tidak pernah muncul kemari. Aku merasa lebih tenang karenanya. Apa Pangeran melarang Putri Marsha kemari ?.
"Aku ingin bicara denganmu" Kata Pangeran, Dia langsung duduk di depanku. Aku beringsut hendak pergi. Tapi Bangsawan Voldermon memegang tanganku. Mencegahku pergi. Aku tidak ingin berdebat. Jadi Aku kembali duduk.
"Ada apa ?"
"Apa yang Kau sembunyikan dari ku. Penyerangan terhadapmu, Kemungkinan besar karena rahasia yang Kau sembunyikan"
"Aku tidak mengerti maksudmu" Kata Bangsawan Voldermon berkilah. Dia mengambil gelas di depannya dan meminumnya.
"Kita sudah cukup lama bersama, Aku mengenalmu dengan baik dan tahu Kau sedang berbohong padaku"
"Kalau begitu Kau juga tau Aku tidak akan menceritakan apapun padamu"
"Kau adalah saudaraku Vold. Jika terjadi sesuatu padamu.."
"Tenang saja Riana, Aku akan lebih berhati-hati lain kali" Potong Bangsawan Voldermon cepat. bangsawan Voldermon kembali berpaling padaku. Dia menyenggol lenganku. Membuatku tersentak. "Kalau Kau berniat jadi pelayanku, Jadilah pelayan yang baik" Bangsawan Voldermon memberiku kode untuk melanjutkan menyuapinya. Pangeran Riana hanya diam memandangi Kami.
Aku berdandan dengan gaun yang ku ambil dari istana ayah. Memakai sepatu hak tinggi dan kemudian pergi diantar Curly menuju sebuah bar. Hari sudah larut malam. Tapi suasana di dalam Bar masih begitu meriah. Aku melihat Bangsawan Voldermon bersama seorang wanita. Di sebelahnya ada Pangeran Riana dan Putri Marsha. Putri Marsha langsung menatapku tak suka.
"Yuki, Jika Aku tahu Kau akan ke sini seharusnya Aku mengajakmu" Sapa Bangsawan Voldermon ketika menyadari kehadiranku sembari berjalan mendekat.
__ADS_1
"Apa Kau melihat Lekky ?"
"Ya, Dia ada di ruangan itu" Tunjuk Bangsawan Voldermon pada sebuah ruangan yang pintunya tertutup. Aku segera berjalan menuju tempat yang di maksud. "Tapi Yuki..Dia.."
Aku sudah keburu membuka pintu lebar ketika Bangsawan Voldermon meneriakiku. Di dalam ruangan Aku melihat Lekky bersama seorang Putri. Mereka sedang berciuman dengan liarnya. Aku langsung menutup pintu dan kembali ke arah Bangsawan Voldermon berada.
"Apa Kau tidak apa-apa ?" Tanya Bangsawan Voldermon saat melihat ekspresiku.
"Ya, Tapi Aku butuh minum"
Bangsawan Voldermon menuntunku untuk duduk di sebuah meja kecil. "Kau mau apa ?" Tanya Bangsawan Voldermon sembari menyodorkan buku menu padaku. Wanita yang tadi bersamanya memasang wajah masam, memandangi Kami dari jauh.
"Apa Kau tidak masalah meninggalkan pasanganmu ?"
Aku diam. Tidak ingin melanjutkan perdebatan dengan lelaki yang jelas sering mempermainkan wanita ini. Dia dan Lekky sama. Sama-sama penjahat wanita.
Aku menyebutkan menu yang kuinginkan. Bangsawan Voldermon memanggil pelayan dan memesannya. Tak lama minuman sudah diantar ke meja.
"Untuk apa Kau kemari ?" Bangsawan Voldermon meletakan gelas minuman di depanku. Musik dimainkan. Beberapa pasangan sedang berdansa.
"Lazzar menghubungiku, Dia mengabarkan Lekky perlu di awasi"
"Karena apa ?"
__ADS_1
"Kau pasti pernah mendengar mengenai Lekky yang nyaris tertangkap di Argueda. Ada seorang gadis yang pernah menjadi kekasih Lekky, yang menjadi otak penangkapan Lekky. Sekarang gadis itu mencari Lekky"
Bangsawan Voldermon menganggukan kepala mengerti. Pintu ruangan tempat Lekky berada terbuka, Seorang Putri keluar. Mata Kami bertemu. Dia langsung mengalihkan pandangan seolah tidak melihatku. Aku kembali menunduk, memperhatikan gelas di depanku ketika terdengar suara teriakan dari seberang.
Putri yang bersama Lekky berdiri dengan marahnya pada seorang Putri di depannya. Teriakan itu berasal dari Putri yang baru saja datang. "Dasar jalang, Kau sahabatku tapi menusukku dari belakang. Sudah jelas Lekky itu milikku tapi Kau masih saja menggodanya"
"Jalang ??, Kau yang Jalang. Lekky tidak suka padamu. Dia lebih memilihku. Harusnya Kau tau diri"
"Astaga" Decakku kesal. Mereka bertengkar demi seorang Lekky. Putri yang bersama Lekky menarik rambut Putri di depannya. Keduanya terlibat perkelahian. Aku buru-buru turun untuk melerai Mereka. Pangeran Riana dan Bangsawan Voldermon datang membantuku yang kepayahan. Dia akhirnya berhasil memisahkan keduanya.
"Apa Kalian waras, Kalian bertengkar hanya demi Lekky ?" Tanyaku tak percaya pada keduanya.
"Jangan munafik Putri, Kau sendiri juga sama. Siapa yang tidak tahu dirimu. Kau meninggalkan suamimu demi bersama dengannya bukan"
"Dia tidak mencintai kalian. Dia hanya mempermainkan kalian. Untuk apa Kalian bertengkar seperti ini hanya demi dirinya" Kataku mengindahkan sindiran Putri yang bersama Lekky tadi. Dia di tahan oleh seorang Bangsawan agar tidak maju menyerang.
"Lalu Dia mencintai siapa ?, Dirimu ?" Ejek Putri itu lagi.
"Biarkan saja Mereka bertengkar Yuki. Untuk apa Kau mengurusi hal tidak berguna seperti ini" Lekky muncul. Berjalan dengan tenangnya menuju kerumunan. Dia memperhatikan kedua Putri itu bergantian ketika sudah berdiri cukup dekat dari UU Kami. "Yuki benar, Aku tidak tertarik dengan Kalian. Kalian hanya pengisi senggangku"
"Sialan Kau Lekky" Putri yang tadi bersama dengannya menyambar timba berisi es batu. Dengan cepat Dia menghantamkannya ke arah Lekky. Refleks Aku maju dan menamengkan diriku untuk melindungi Lekky walaupun sebenarnya itu tidak perlu. Lekky lebih pandai melindungi diri ketimbang Aku. Tapi tubuhku sendiri lah yang merespon untuk melindungi Lekky. Sebuah hantaman keras disertai rasa dingin terasa begitu cepat menyerangku. Aku meringis. Lekky meraihku agar Aku tidak jatuh ke lantai.
"Heyy!!" Teriak Lekky nyaring kepada para Putri. Lekky memandang kedua Putri dengan tatapan dingin dan kejam.
__ADS_1