Rain Poor

Rain Poor
14


__ADS_3

Babak pertama berlangsung dengan sambutan yang luar biasa. Tepuk tangan membahana terdengar di akhir babak pertama. Lekky seperti seorang bintang papan atas. Pesonanya dan semangatnya mampu mempengaruhi para penonton. Mungkin jika Dia berada di duniaku yang lama Dia bisa menjadi Artis yang hebat ketimbang harus menjadi seorang pembunuh yang sangat diincar kepalanya.


Aku melepaskan mantelku, meletakkannya di bangku di belakangku. Pakaianku ringan tertiup angin. Warna merah yang berani, warna kesukaan Lekky. Aku sedang membenahi rambutku ketika mendongak, Aku terkejut saat mendapati wajahku terpampang cukup jelas di keempat layar. Aku berpaling dan mendapati Varmount telah menggeser posisi prajurit yang bertugas mengatur layar tak jauh dari tempatku.


"Aku hanya menerima perintah sayangku" Teriak Varmount ketika Aku mendelik marah padanya.


Sekarang seluruh penonton jadi mengetahui Aku berada di sini. Aku tidak bisa mundur lagi. Aku menghela nafas, melangkahkan kaki ke barisan. Di sana, Ada Raja, Ada Pangeran Riana dan seluruh petinggi kerajaan yang menyaksikannya. Aku tidak punya pilihan lagi. Bukankah Aku sudah meniatkan ini dari awal. Untuk apa memikirkan orang lain, ini adalah perayaan Jambaran, Aku bisa bersenang-senang sesukaku.


Aku maju memimpin barisan. Menari di tengah lapangan. Membiarkan perasaanku bebas, lepas, Tanpa adanya ikatan. Seperti seorang merak betina yang menarik perhatian sang jantan. Agar Dia dipilih menjadi pasangannya. Keringat membasahiku, Namun Aku merasa puas. Tepuk tangan dan sorak-sorak membahana. Seolah melupakan pertempuran yang menanti setelah ini.


Musik berhenti. Kami para betina berdiri dengan dagu terdongak.


Lekky menunjuk ke arahku dengan gaya menantang. Genderang berbunyi bersahutan, musik di kumandangkan. Babak ketiga dimulai. Lekky menjadi pasanganku. Kami menari memimpin yang lain.


Di tengah tarian, Lekky membuat tingkah yang memicu histeria. Dia mengecup bibirku. Para wanita menjerit histeris.


Acara berjalan dengan sukses. Lekky mendengkur kepuasan. Dia memang tidak pernah setengah-setengah jika mengerjakan sesuatu. Meriam berisi bubuk berwarna-warni di tembakan ke udara. Merah, kuning,hijau, biru, Ungu dan warna terang lainnya mewarnai apa saja yang ada di dalam lapangan. rambut dan bajuku penuh dengan warna. Babak keempat di mulai. Semua menari, mengikuti irama musik. Wajah-wajah kegembiraan terlihat. Aku terbawa suasana.


Melompat, jalan dua langkah, mundur ke kiri.

__ADS_1


Aku merentangkan tanganku lebar. Tertawa diantara keramaian. Rasanya menyenangkan.


Angkat kaki kiri, hentakan, Maju dua langkah mundur ke kanan lalu berputar.


Aku berhenti. Waktu seolah berhenti berputar dengan tiba-tiba. Di depanku, Pangeran Sera berdiri.


Dia tidak mengatakan apapun. Hanya diam memandangku. Kapan Dia kembali ?, Kenapa Aku tidak mengetahuinya. Sejak kapan Dia ada di sini ?. Berbagai pertanyaan terlintas jelas dalam benakku. Namun Aku tidak tahu harus bertanya pada siapa.


Seseorang menabrakku dari belakang. Dia baru saja akan memprotes ketika mengenali Kami. Sontak Dia menyingkir, berbisik pada pasangannya. Dalam waktu sekejap semua orang sudah menghentikan tariannya. Menyadari ada sesuatu yang salah di lapangan. Musik berhenti. Semua tampak diam menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Mulutku seakan terkunci. Aku tidak menduga akan bertemu dengan Pangeran Sera secepat ini. Mata Kami terus bertatapan dalam diam. Aku belum siap bertemu dengannya dengan rasa bersalah yang harus kutanggung selama ini.


Lekky berdiri di depan Kami. Menatap Pangeran Sera dengan bibir tersenyum. Pisau itu diempar olehnya.


"Biarkan Kami pergi" Kata Pangeran Sera dengan wajah dingin.


"Kami itu tanpa Dia" Jawab Lekky sembari menunjukku dengan dagunya.


"Apa maumu Lekky ?"

__ADS_1


"Menurutmu ?"


Pangeran Sera mencabut pedangnya. Dari sudut mata Aku melihat Varmount melompat masuk ke lapangan. Berlari ke arah Kami.


"Sudah hentikan kalian berdua.." Teriak Varmount mencoba melerai.


Namun terlambat, Ketegangan sudah terjadi. Pangeran Sera maju untuk menyerang Lekky. Keduanya terlibat perkelahian. Teriakan histeris dari para pengunjung dan penari terdengar menggantikan sorak-sorak kebahagiaan. Orang-orang di lapangan berlarian menyelamatkan diri. Para Prajurit Argueda masuk mengepung area.


"Yuki pergilah, Aku akan mengurus di sini" Kata Varmount sambil meregangkan ototnya lalu Dia menghantam prajurit Argueda yang menyerangnya. Prajurit itu pingsan dalam sekali pukulan. Aku menatap Pangeran Sera dan Lekky yang masih bertarung. Aku berharap Lekky ingat janjinya untuk tidak menyakiti Pangeran Sera.


Aku berlari menjauh saat Prajurit Argueda semakin banyak berdatangan. Menghindari Mereka sedemikian rupa dengan kemampuan bertarungku yang ku pelajari selama lima tahun Aku menghilang. Aku menaiki pagar pembatas, Melompat masuk ke tribun penonton. Curly sudah ikut bergabung dengan pertempuran. Dia terus berputar di sekitar Lekky, menghentikan prajurit yang berusaha memanfaatkan pertempuran antara Pangeran Sera dan Lekky untuk menyerang Lekky.


Aku berkelit dari seorang penjaga yang datang, Melayangkan pukulanku hingga Dia terjerembab jatuh. Aku tidak ingin tertangkap sekarang. Aku terus berlari menaiki trimbun penonton, berbaur dengan penonton yang berlarian keluar. Namun para Prajurit itu semakin banyak saja. Mereka mengepung semua tempat. Seorang prajurit lain datang dan berhasil mencekal tanganku ketika Aku berlari. Aku tergelincir.


"Tidakk !!" Teriakku nyaring.


Wajahku hampir saja menghantam bangku penonton ketika sebuah tangan berhasil menangkapku. Memelukku sedemikian rupa sehingga Aku selamat dari ancaman gegar otak akibat benturan keras di kepalaku.


"Bangsawan Voldermon" Kataku terkejut ketika melihat siapa pemilik tangan yang telah menolongku.

__ADS_1


__ADS_2