
Bagaimana Dia bisa berada di sini ?.
Aku menatap sosoknya melalui cermin di depanku. Pangeran tampak tenang, memandangku dalam.
Sudah berapa lama Dia berada di sana ?, Kenapa Tak seorangpun menyadarinya ?.
Berbagai pertanyaan terus menghantuiku. Aku ingin mengatakan sesuatu. Tapi mulutku seakan terkunci. Perlahan Aku meletakan sisirku dan berbalik memandangnya.
Pangeran bangun dari duduknya dan langsung berjalan menghampiriku. Aku menahan diri untuk tidak berteriak dan membuat keributan yang menarik perhatian para penjaga di luar. Pangeran menarikku agar berdiri. Tanganku di cengkram kuat.
"Lepaskan Aku" Bisikku tegas. Aku meronta berusaha membebaskan diri.
"Kau bisa berteriak dan memanggil bantuan kalau Kau mau Yuki"
Aku menatap Pangeran kesal. "Kau sudah mendapatkan apa yang Kau mau. Jangan ganggu Aku lagi"
"Siapa yang menyuruhmu pergi dari sana"
"Aku bukan pemuas nafsumu" Kataku geram.
"Memang bukan" Jawab Pangeran Riana cepat. Kami saling bertatapan dalam emosi. Pangeran menarikku mendekat. Aku berusaha mendorongnya tapi justru malah membuatku terdorong duduk ke sofa. Pangeran Mengurung wajahku. Ciuman yang panjang dan sangat menuntut darinya. Aku berusaha keras melepaskan diri tanpa menimbulkan kegaduhan. Aku tidak ingin ada yang tahu apa yang telah terjadi.
"Lepaskan Aku.." Kataku di telinganya ketika Dia menciumi leher dan wajahku berulang-ulang. Tali pakaianku di turunkan ke lengan. Pangeran tidak menjawab permintaanku. Dia terus melakukan aksinya. Aku menutup mulutku rapat, Mencoba fokus dan menahan keinginan untuk berteriak.
Pangeran Riana memakai pakaiannya. Dia duduk di sisi tempat tidur. Aku diam tidak bergerak. Tubuhku hanya tertutup selembar selimut yang di letakkan Pangeran beberapa saat yang lalu. Setelah selesai berpakaian, Pangeran membungkuk ke arah telingaku.
"Jangan Kau kira Kau bisa lolos dariku. Sampai tujuanku tercapai Kau tidak akan bisa menghindar dariku" Bisik Pangeran Riana dengan nada puas.
__ADS_1
Aku diam. Tidak ingin menanggapinya. Pangeran membuka cendela. Dia keluar dari sana dan menghilang kemudian.
Lekky sangat marah saat mengetahui apa yang terjadi dari pikiranku ketika Dia kembali. Aku tidak bisa menyembunyikan apapun darinya dengan kemampuannya membaca pikiran. Namun untungnya Aku bisa membujuk Dia sehingga Dia tidak nekat menyerang Pangeran Riana. Berkali-kali Aku mengingatkan janjinya untuk tidak menyakiti Pangeran Riana maupun Pangeran Sera. Tapi meskipun begitu sikap Lekky jadi sangat menjengkelkan. Dia seolah berusaha memancing emosi Pangeran Riana terus menerus.
Aku duduk didekat Lekky sedang membaca buku, sementara Dia melatih ototnya dengan melakukan push up ketika Bangsawan Voldermon datang bersama teman-temannya.
"Kalian di sini rupanya" Seru Bangsawan Voldermon riang.
"Ada apa ?" Tanyaku saat melihat antusiasnya yang begitu meledak-ledak.
"Aku akan merayakan kesembuhanku. Kalian ikutlah bersama Kami"
"Aku tidak mau kalau Mereka ikut" Seru Putri Marsha melotot tajam ke arahku.
"Aku tidak memaksamu untuk ikut Marsha"
"Malam ini ayo kita berpesta" Bangsawan Voldermon menunjukan dua kantung besar anggur kualitas bagus dengan penuh semangat.
"Ide bagus, Aku butuh beberapa tetes anggur untuk menghangatkan badan" Lekky bangun dari posisinya.
Tanpa dikomando, Kami menarik meja bulat besar yang ada di ruangan itu ke tengah ruangan. Anggur-anggur di letakan di atas meja dengan peganan lainnya. Kami duduk melingkar. Bangsawan Voldermon berada di sebelah kiriku. Sedangkan Lekky duduk di sebelah kananku.
"Bagaimana kalau Kita melakukan permainan hitung lima jari" Tanya Bangsawan Asry memulai pembicaraan.
Aku tahu permainan ini, Seorang pemain yang di tunjuk akan memberi pertanyaan yang akan di jawab oleh pemain lainnya dengan menurunkan jarinya. Barang siapa yang jarinya lebih dulu habis Dia harus minun Anggur satu botol penuh.
"Aku setuju" Jawab Bangsawan Voldermon cepat. Dia mengangkat botol dan meletakannya di tengah meja. "Kita tentukan dengan memutar botol"
__ADS_1
Tidak ada yang membantah semua setuju. Botol mulai di putar. Terdengar suara gesekan yang cepat, kemudian lama kelamaan melambat. Tutup botol itu tepat mengarah ke arah Bangsawan Asry.
"Siapa yang sudah menikah ?"
Semua peserta yang sudah menikah langsung menurunkan jarinya. "Hey Pertanyaan apa itu ?" Kata Bangsawan Xasfir kesal karena Dia juga harus menurunkan satu jarinya.
"Aku bertanya kenapa Kau yang senewen"
Botol kembali di putar. Kali ini berhenti di arah Bangsawan Xasfir. "Oke, Sekarang pertanyaanku". Dia berpikir. Mungkin mencari pertanyaan yang bisa membuat Bangsawan Asry kalah. "Siapa yang dalam tiga tahun ini tidak memiliki hubungan khusus dengan lawan jenisnya ?"
Aku menurunkan tanganku. Bangsawan Xasfir tampak terkejut. Tapi itulah kenyataannya. Aku memang tidak memiliki hubungan khusus dengan siapapun. Dia memandangku dan Lekky bergantian. Bangsawan Asry berwajah masam karena Dia menurunkan jarinya. Diantara Mereka yang paling cuek untuk berhubungan dengan wanita adalah Bangsawan Asry.
Botol kembali berputar mengarah ke Bangsawan Asry kembali. "Siapa yang selalu mempermainkan perasaan lawan jenisnya ?"
"Apa tidak ada pertanyaan lain yang bisa di tanyakan ?" Giliran Bangsawan Voldermon bersungut marah. Dia menurunkan jarinya. Aku menarik tangan Lekky dan menurunkan jarinya. Lekky memandangku penuh arti.
"Apa ?" Tanyaku ketika melihat pandangannya.
"Kau tidak menurunkan jarimu ?"
"Aku ?, Untuk apa ?"
"Bukankah dalam hal mempermainkan perasaan Kau ini ahlinya"
"Apa maksudmu ?" Aku menatap Lekky dengan kening berkerut. "Memang siapa yang kupermainkan ?"
"Coba, Aku akan menghitungnya"
__ADS_1
Lekky menatapku dengan tatapan senang. Dia mulai menghitung dalam hatinya. Jarinya turun satu persatu mengikuti hitungannya. Sampai hitungan ke tujuh, Aku langsung mengambil nampan besi dari tangan seorang pelayan yang baru saja meletakan peganan di dekatku dan memukul wajah Lekky menggunakannya.