
"Bagian dari rencana Pangeran ?" Aku menatap Bangsawan Voldermon kebingungan. Bangsawan Voldermon menarik piring ke depannya. Mengambil sepotong roti isi dan melahapnya dalam tiga kali suap.
"Saat Aku mengatakan padanya Kau hamil anaknya. Dia terkejut. Tapi kemudian Aku melihat kepuasan di matanya. Suatu kemenangan..Saat itulah Aku menyadari Dia memang merencanakan hal ini dari awal. Bahkan mungkin jauh sebelum Kau datang. Semua sikap menjengkelkannya...alasan Dia tidak mau menyentuh wanita manapun selama lima tahun ini. Adalah untuk ini" Bangsawan Voldermon menunjuk perutku. "Satu-satunya jalan membawamu kembali dengan dukungan penuh kerajaan adalah membuatmu hamil sebelum Riana memiliki seorangpun anak dari wanita lain. Untuk itulah Dia menahan diri"
Bangsawan Voldermon meminum teh di cangkirnya.
"Dia tahu jika Kau mengandung anak yang menjadi perwaris tahtah selanjutnya batu amara akan kembali bersinar dan kerajaan mau tidak mau akan membantunya untuk membawamu kembali. Dia juga tahu...Resiko yang akan di hadapinya untuk rencana ini. Karenanya pada pertempuran besar dua kerajaan dengan Romawa kemarin. Dia begitu terfokus untuk memenangkan pertempuran. Tujuannya adalah untuk memiliki kekuatan yang imbang jika nantinya harus menghadapi Argueda dalam memperebutkanmu. Selama lima tahun ini Riana telah mempersiapkannya diam-diam. Dia mengecoh Kami dengan menerima pertunangan dengan Putri Marsha dan segala persiapan pernikahan itu. Mungkin juga untuk memancingmu keluar."
"Aku.."
"Jika Dia tidak bertunangan atau akan melakukan pernikahan apakah Kau akan datang kemari ?"
Aku terdiam. Ya...Aku memutuskan untuk datang kemari karena yakin Pangeran Riana sudah melupakanku. Jika Dia sama seperti Pangeran Sera, Aku akan berpikir seribu kali untuk kembali.
"Ini salah..Kau tau..semua ini salah"
"Tapi Riana tidak peduli salah dan benar. Terhadapmu Dia akan melakukan apapun untuk membawamu kembali. Tidak peduli apakah Kau sekarang bahagia dengan pernikahanmu atau Apakah sekarang Kau lebih mencintai Sera di banding dirinya. Dia tidak akan peduli"
Aku menundukkan kepala sedih. Memutar sendok di dalam cangkir.
__ADS_1
"Riana masih mencintaimu. Aku bisa yakin dengan ini Yuki. Dia tidak pernah melupakanmu. Kau boleh percaya atau tidak...selama lima tahun ini...Dia terlihat biasa saja. Namun Aku merasa berbeda. Dia seperti zombie. Jiwanya kosong. Aku seperti tidak mengenalinya. Dia tidak seperti dirinya yang dulu. Namun ketika Kau kembali...Aku melihat kembali emosi di dalam dirinya. Dan sepertinya kakakmu itu ..Lekky kakakmu kan ?"
Aku menganggukan kepala. "Lekky adalah anak dari kekasih ayah sebelum ayah bertemu mama"
"Apa Dia bisa membaca pikiran atau apa...tampaknya Dia sering sengaja memancing emosi Riana terutama yang berkaitan denganmu. Dia sering sekali memanasi Riana dan membuat cemburu dengan kebersamaan kalian"
"Lekky mempunyai kemampuan membaca pikiran. Terkadang Dia sangat menjengkelkan tapi Percayalah Dia sebenarnya baik"
"Tapi Dia sangat berbahaya. Aku baru sekali itu melihat orang mencabut jantung orang lain dengan mudah dan tanpa ekpresi sepertinya" Kata Bangsawan Voldermon mengernyit. Mengingat bagaimana saat Lekky membunuh Panglima Jafar dengan tangan kosong. "Kembali ke masalah tadi. Riana berubah menjadi manusia dengan segala emosinya saat Kau datang. Bisakah Kau memahami hal itu ?"
Aku merenung. Terpekur dalam pikiranku sendiri. Rasanya mengetahui hal ini semakin membuatku merasa berat.
"Menemaninya makan" Kata Bangsawan Voldermon sembari menunjukan roti isi di depannya. Pangeran menarik kursi dan duduk di sampingku.
"Apa yang akan kita lakukan besok ?" Tanya Bangsawan Voldermon kepada Pangeran Riana sembari membuka obrolan.
"Kita hanya bisa menunggu. Apakah tidak ada kabar sama sekali ?" Tanya Pangeran kepadaku. Aku menggelengkan kepala ringan.
"Tidak masalah. Kita bisa beristirahat lebih lama di sini. Jangan khawatir Yuki. Lekky tidak akan mati dengan mudah"
__ADS_1
Bangsawan Voldermon menguap lebar. "Karena sudah ada Kau. Aku kembali ke kamar"
Tak berapa lama Bangsawan Voldermon pergi. Terdengar suara pintu di tutup.
"Aku juga akan beristirahat" Kataku mencoba melepaskan diri dari situasi canggung yang sekarang terjadi. Pembicaraanku dengan Bangsawan Voldermon mempengaruhi suasana hatiku. Aku tidak tahu apakah Aku senang atau sedih mendengarnya.
Pangeran tidak menjawab. Namun Dia mengikutiku dari belakang. Aku menaiki tangga menuju kamarku.
"Kau tidak akan masuk ke dalam kan ?" Kataku tak yakin.
"Apa ada masalah jika Aku berada di kamar bersamamu ?" Tanya Pangeran Riana balik.
Aku ingin mengatakan sesuatu. Tapi melihatnya membuatku teringat kembali pembicaraanku dengan Bangsawan Voldermon. Akhirnya Aku membiarkan Pangeran masuk ke dalam. Kamarku tidak seluas kamar di istana. Tapi Aku menatanya sesuai kepribadianku. Ada rak berisi beberapa buku yang kupajang di dinding timur dekat perapian dan cendela. Di sudutnya ada sofa kecil tempat Aku sering menghabiskan waktu di sana. Kamar ini memiliki cendela yang menghadap ke taman belakang. Dari sini Aku bisa melihat kebun kecil yang telah kurawat dan kupelihara selama ini.
Aku berbaring di atas tempat tidur kecil. Pangeran Berdiri di pojok melihat foto-foto yang kupajang di dinding. Aku berbaring membelakanginya. Tidak berapa lama Aku merasakan gerakan di atas tempat tidur. Pangeran Riana memelukku dari belakang.
"Lima tahun..Selama lima tahun Aku telah memberi kesempatan kepada kalian. Kenapa kalian tidak memanfaatkannya" Kataku lirih. Aku tidak mengerti jalan pikiran kedua pangeran ini. Untuk apa Mereka terus bertahan menungguku. Selama ini Aku berharap dengan kepergianku Mereka akan bisa melupakanku.
Aku tidak muncul untuk kembali kepada kalian. Aku muncul untuk mati.
__ADS_1
"Tidak peduli apapun Kau ini milikku Yuki" Kata Pangeran di telingaku. Membuatku meradang.