Rain Poor

Rain Poor
45


__ADS_3

"Jadi Yuki..daripada memendam semua sendiri lebih baik Kau katakan padaku. Apa yang terjadi ?" Bangsawan Voldermon duduk di sampingku. Mengusap daguku dengan kain yang di basahi air hangat. Mungkin karena beban pikiran. Aku mengalami muntah hebat pagi ini. Badanku terasa lemas. Aku sedang berbaring di taman, di sebuah bangku panjang untuk mencari udara segar ketika Bangsawan Voldermon datang.


"Ini adalah hal yang biasa bagi orang hamil" Kilahku padanya.


Bangsawan Voldermon mengikat rambutku sehingga angin dapat menerpa tengkukku dengan bebas.


"Kami datang" Aku berbalik. Bangsawan Asry muncul bersama Pangeran Riana dan Bangsawan Xasfir. "Apa Putri baik-baik saja"


Aku bergegas bangun dari tidurku dan duduk dengan canggung. Pangeran Riana duduk di sampingku. Dia meletakan bungkusan berisi berbagai makanan dan Bangsawan Asry meletakan keranjang penuh buah di sampingnya.


"Kami membawa banyak makanan. Putri mau mencoba ?" Tawar Bangsawan Asry senang.


Aku melihat ada berbagai makanan yang dibawakan mereka di keluarkan satu persatu diatas meja. Bangsawan Voldermon membuka salah satunya dan memakannya di sampingku. Melihatku tidak ada reaksi Bangsawan Asry kembali berkata. "Putri kan sedang hamil. Jika Putri ingin sesuatu katakan saja biar Kami yang akan mencari".


Aku diam. Menggigit bibirku. Memang ada makanan yang sangat ingin ku makan. Tapi itu tidak ada di sini. Aku khawatir jika Aku mengatakannya malah akan dianggap tidak sopan. Bangsawan Asry melihat reaksiku. "Jadi benar. Ada yang Putri inginkan. Katakan saja. Tidak perlu cemas...Pikirkan anak dalam kandungan Putri. Pasti Dia sangat menginginkannya"


"Katakan saja apa maumu. Jangan menyusahkan dirimu sendiri" Timpal Bangsawan Voldermon sambil memakan makanannya.


"Aku...Aku menginginkan telur mata sapi" Kataku akhirnya.


"Hanya itu ?" Tanya Bangsawan Voldermon tak percaya. "Kau menahan diri seperti sekarang hanya karena telur mata sapi"

__ADS_1


"Panggil pelayan untuk membuatkannya" Perintah Pangeran di sampingku.


Bangsawan Asry berdiri hendak memanggil pelayan.


"Tapi yang di masak sendiri oleh Raja" Kataku cepat.


Serentak semua memandangku tak percaya. Aku langsung menundukkan kepala pasrah. "Maafkan Aku.." Kataku menyesal.


Kami semua berkumpul di dapur kerajaan. Ibu Suri duduk di sampingku berdampingan dengan Bangsawan Voldermon. Sementara Pangeran Riana berdiri di belakangku. Raja menggulung lengannya. Beberapa pelayan mengintip dari cendela dengan wajah penasaran. Sementara itu seorang pelayan senior di bantu dua pelayan muda berdiri di dekat Raja. Penggorengan sudah di letakan di atas kompor. Minyak sudah di tuang.


"Biar Aku saja. Kalian dengarkan, cucuku ingin memakan masakanku. Jadi kalian jangan mengganguku" Kata Raja mengusir pergi para pelayan yang hendak membantu.


Telur dipecahkan. Raja agak berjenggit terkena minyak panas. Dia buru-buru menaburkan sejumput garam ke atas telur lalu membalikkan.


"Setengah matang" Jawabku sambil fokus memperhatikan telur yang sedang di goreng. Raja mengangkat telur itu. Meletakkannya di atas piring lalu memberikannya padaku.


Aku mengambil sendok di meja. Setelah meniup agar dingin, Aku memasukkan potongan pertama ke mulutku. Hatiku tampak lega dan senang karena keinginanku terwujud. Dalam waktu sekejap telur itu telah habis di piringku.


"Kau mau lagi ?"


Aku menganggukan kepala.

__ADS_1


"Aku memakan delapan butir telur yang di goreng oleh Raja. Akhirnya ada sesuatu yang bisa masuk ke dalam perutku. Setelah selesai makan. Kami memohon izin kembali ke istana Pangeran Riana untuk mempersiapkan keberangkatan besok.


"Katakan saja jika Kau ingin masakanku lain kali. Jangan sungkan-sungkan padaku" Kata Raja ketika mengantar Kami sampai gerbang istana. "Besok kalian akan berangkat. Jaga istri dan anakmu baik-baik"


Aku membuka mulut hendak memprotes tapi Pangeran mempererat genggaman tangannya di pergelangan tanganku.


"Ya Ayah. Sekarang Kami pergi dulu"


Kami menaiki kereta kuda berdua. Aku memandang ke cendela. Menghindari berbicara dengannya. Tangan Pangeran masih saja mencekal tanganku. Dia seperti takut jika Dia melepaskan pegangannya Aku akan menghilang tiba-tiba seperti tempo hari.


Setibanya di Istana, Pangeran langsung pergi untuk mempersiapkan keperluan untuk keberangkatan besok pagi. Rencananya Kami akan melalui jalur udara agar lebih cepat sampai tujuan. Coracal-burung besar milik Lekky telah tiba. Malam ini baik Bangsawan Voldermon, Bangsawan Xasfir dan Bangsawan Asry akan menginap di istana Raja.


Aku merasa bersimpati kepada Bangsawan Xasfir. Besok adalah hari penting baginya. Putri Marsha akan menjalani hukumannya besok. Tapi Dia masih dengan setia bertahan pada negaranya. Ada kabar yang mengatakan dulu sebenarnya Bangsawan Xasfir menyukai Putri Marsha. Namun karena Putri Marsha terus menolak dan malah mengejar Pangeran Riana. Bangsawan Xasfir akhirnya mengalah dan menjodohkan Putri Marsha dengan Pangeran.


Jika...Jika Putri Marsha cukup pintar. Dia seharusnya memilih Bangsawan Xasfir daripada mengejar Pangeran Riana ketika itu. Hidupnya pasti jauh lebih bahagia sekarang mengingat Bangsawan Xasfir sangat baik dalam memperlakukan istrinya. Berbeda dengan Pangeran Riana yang sedingin es. Dia bagaikan buku tertutup. Tidak ada yang bisa.menebak.dirinya. Kadang Dia bisa menjadi sangat baik tapi Kadang juga Dia bisa menjadi seseorang yang dingin dan tidak berperasaan.


Aku terbangun ketika mendapati Pangeran Riana sedang memijat telapak kakiku. Hari sudah larut malam. Sejak kapan Dia kembali. Tampaknya Aku ketiduran ketika sedang membaca buku. Aku menarik kakiku, melepaskan diri darinya.


"Besok kita akan melakukan perjalanan jauh. Setidaknya otot kakimu harus dibuat rileks terlebih dahulu agar tidak mengalami kram"


"Terimakasih. Aku bisa melakukannya sendiri"

__ADS_1


Pangeran berdiri. Berjalan menuju sofa sambil mengambil laporannya. "Di atas meja ada makanan..Makanlah jika Kau lapar" Katanya acuh sembari mulai membaca laporan.


__ADS_2