
Aku membiarkan diriku berada dalam pelukan Putri duyung. Dia membuat gelembung udara besar yang membuatku dapat bernafas dalam air. Kami menyusuri sungai. Mengikuti derasnya aliran air. Aku berusaha mengindahkan kanan kiriku ketika para Putri yang lain sibuk memangsa tubuh dari para prajurit penjaga kuil.
Entah sudah berapa lama Kami menyusuri sungai. Ketika akhirnya para Putri duyung membawa Kami ke permukaan. Kami berada di lautan lepas.
"Kita sudah sampai" Kata Putri duyung yang membawaku.
Aku melihat sekeliling. Hanya lautan lepas. Tidak ada daratan sama sekali. Apa tidak salah.
Baru Aku ingin mengatakan sesuatu pada Lekky yang berada paling dekat denganku. Terdengar lonceng keras yang bergema nyaring. Sontak terlihat Daratan besar di depan Kami. Ombak berdebur di pinggir pantai. Di tengah daratan itu ada Bangunan yang cukup besar berwarna putih di kelilingi oleh hutan yang lebat dan luas. Cahaya matahari hampir memenuhi seluruh bangunan.
Kuil suci.
Inikah wujudnya. Kami berjalan menuju bibir pantai. Sementara itu yang lain mengangkat tiga kantong berisi masing-masing pendeta suci, Murid pengkhianat dan Bangsawan Xasfir.
Dua baris murid pendeta berpakaian putih muncul. Mereka datang menyambut Kami. Pendeta suci dibangunkan oleh Pendeta Serfa. Begitu juga Bangsawan Xasfir. Bangsawan Xasfir mengerang begitu Dia terbangun. Dengan cepat berguling keluar dari kantong.
"Di dalam sana seperti bau mayat" Gerutunya kesal.
"Kami sudah mempersiapkan Kamar untuk beristirahat" Kata Salah seorang murid dengan sikap takjim.
"Putri Yuki" Aku berbalik ketika Jasmine memanggilku. Dia memandangku misterius. Lekky memutar bola matanya tak suka.
__ADS_1
"Sampai bertemu dalam waktu dekat ini"
Jasmine berbalik. Dia tidak menunggu reaksiku. Dan langsung menghilang ke dalam lautan.
Aku duduk di dalam kamar. Melihat ke luar cendela. Pangeran Sera masih tidur di sampingku. Sudah empat bulan Aku berada di sini. Kami terus mengumpulkan kekuatan sementara di luar yang lain sibuk bertarung nyawa untuk mempertahankan diri. Karena pengkhianatan Murid pendeta itu, Rencana Kami berantakan. Pendeta suci memutuskan untuk mempercepat ritual. Ada kemungkinan Aku akan membawa anakku dalam pertempuran terakhir.
Aku mengusap perutku yang membesar. Usia kandunganku sudah menginjak delapan bulan yang artinya sebentar lagi Aku akan melahirkan. Aku hanya berharap Aku sudah melahirkannya saat pertempuran itu. Aku tidak ingin Bayiku ikut menjadi korban. Jika Aku harus mati setidaknya Bayiku selamat. Pangeran Sera dan Pangeran Riana bisa mengasuhnya.
Aku tidak ingin Dia dibesarkan dengan orang tua yang tidak lengkap. Tapi keadaan yang memaksaku untuk melakukannya. Aku berharap Dia akan mengerti suatu saat nanti.
Setidaknya, Aku bisa menyelamatkan orang-orang yang ku cintai.
Aku menatap Pangeran Sera. Dia tidur dengan pulasnya. Sebenarnya Aku berharap bisa membangun sebuah keluarga kecil dengannya. Memulai semua dari awal. Empat orang anak. Bagaimana anak Kami nanti. Apakah Dia seperti ayahnya ?.
Pangeran sedikit bergerak. Aku menyentuh rambutnya. Jika anak keduaku bersamanya. Aku berharap Dia akan memiliki rambut dan warna mata seperti dirinya. Jika...
Hari ini setelah selesai berdoa, Aku kembali lebih awal daripada rencana. Setiap hari Kami harus mengalami ketegangan. Kami hanya dapat mengalahkan iblis itu jika bumi, bulan dan matahari berada dalam satu garis lurus. Itu di perkirakan masih delapan bulan lagi. Selama itu Kami hanya bertempur untuk bertahan agar Iblis itu tidak sampai ke pohon suci sebelum waktunya. Hari-hari Kami lalui dengan berita siapa saja yang kembali dan tidak kembali. Perutku terasa tidak enak. Mungkin karena Aku terlalu banyak berpikir akhir-akhir ini. Aku memutuskan untuk menuju kamar. Namun betapa terkejutnya Aku saat mendapati Pangeran Sera berdiri berdua dengan Pendeta Serfa. Wajah Pangeran tampak tegang. Aku melihat Keduanya dari kejauhan. Apa yang sedang terjadi.
"Putri Yuki" Pendeta Serfa menyadari kehadiranku. Dia menunduk untuk memberi hormat. Aku menatap keduanya bergantian. Pendeta Serfa membungkuk lagi untuk memberi hormat dan berlalu pergi.
"Kau cepat sekali kembali" Sapa Pangeran Sera sembari tersenyum lembut di sampingku.
__ADS_1
"Apa terjadi masalah ?" Tanyaku was-was. Selama disini hampir kedua Pangeran dan para pengikutnya tidak saling bertegur sapa. Aku merasa aneh jika sekarang Pendeta Serfa berbicara berdua dengan Pangeran Sera di tempat sunyi seperti ini.
"Ada sedikit hal yang harus ku diskusikan. Mengapa Kau tidak menjawab pertanyaanku"
"Pertanyaan yang mana ?" Kataku binggung.
"Kenapa Kau cepat sekali kembali ?"
"Perutku terasa tidak enak" Kataku sembari memegang perutku yang semakin membesar. Dari tabib saat kemarin Aku memeriksa ada kemungkinan Aku akan melahirkan tujuh hari dari sekarang.
"Apa Aku perlu panggilkan tabib ?" Tanya Pangeran Sera cemas.
"Tidak perlu. Aku hanya butuh sedikit istirahat" Kataku menenangkan. Pangeran mendesah. Dia menarikku ke dalam pelukannya.
"Hari ini Aku akan pergi ke hutan untuk merencanakan pertempuran. Jika ada sesuatu Kau langsung menghubungiku"
"Ya, Jangan khawatir"
Pangeran mencium keningku. Dia menatap lurus. Seperti ada sesuatu yang di pikirkannya. Keningnya berkerut. Aku merasakan Dia memelukku erat.
"Sesak" Kataku ketika Dia semakin memelukku.
__ADS_1
Pangeran terkejut. Dia melepaskan pelukannya seperti tersadar.
"Aku pergi dulu" Pamitnya sembari mengelus pipiku. Pangeran pergi. Aku melihat ada suatu beban di pundaknya. Perasaanku menjadi tidak enak.