Rain Poor

Rain Poor
51


__ADS_3

"Mama apa Aku tidak boleh ikut ?" Tanya Ferlay sembari menatapku dengan matanya yang besar. Aku membungkuk dan memeluknya penuh sayang.


"Mama dan Ayahmu pergi untuk menyelamatkan dunia. Kau lebih baik tinggal di sini menunggu Kami"


"Apakah sangat berbahaya di sana ?"


"Tidak tahu sayang. Dengarkan Mama.." Kataku saat Ferlay kembali akan merajuk. "Ini adalah tugas Kami semua untuk menyelamatkan Dunia. Nanti Jika Kau sudah dewasa, Maka itu akan jadi tugasmu untuk melakukannya. Sekarang Apa Kau paham kenapa Kau tidak boleh ikut ?"


"Ya Mama"


"Bagus. Jadilah anak baik seperti biasanya. Kami akan segera menghubungimu begitu Kami bisa" Aku mengelus rambut Ferlay. Mengecup pipinya. Lekky menghampiri anaknya dan hanya mengusap rambut Ferlay. Aku mendengus marah. Dia benar-benar tidak bisa menunjukan rasa sayangnya pada anaknya.


Aku menaiki punggung Lekky. Merasa beruntung karena tidak harus bersama Pangeran Riana saat nanti bertemu Pangeran Sera. Lekky mengembangkan sayapnya lebar. Curly mengikutinya dari belakang. Kami terbang menuju langit.


Sepanjang perjalanan pikiranku kacau karena persoalan Pangeran Sera. Aku memeluk Lekky erat di belakang. Berharap mendapat kenyamanan yang Aku butuhkan. Lekky tiba-tiba menukik tajam. Turun ke bawah. Kabut perlahan memudar. Aku melihat hutan yang begitu lebat di bawahku. Dengan manuver ringan, Dia memasuki hutan. Awalnya Aku tidak melihat apapun. Hanya pepohonan yang menutupi jalan Kami. Namun perlahan, Aku melihat perkemahan yang tersembunyi. Lekky menjejakkan kakinya ke tanah. Kami telah sampai. Di belakang Pangeran Riana dan rombongannya menyusul Kami.


Aku bertatapan tanpa sengaja dengan Pangeran Sera yang berdiri tak jauh dariku. Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Kakiku seolah membeku. Pangeran Sera berpaling. Seolaj tidak melihatku dan pergi.


Aku memegang dadaku. Terasa sakit. Dia tidak pernah mengacuhkanku sebelumnya. Lekky memegang bahuku. Meremasnya untuk menguatkanku. Ternyata Dia mengikuti apa yang terjadi disini. Aku menghela nafas. Aku tidak bisa berbuat apapun. Aku lah yang salah bukan Dia. Jika Dia tidak bisa memaafkanku. Aku tidak bisa memaksanya.

__ADS_1


Aku duduk di atas tempat tidur. Di dalam tenda. Air mata mengalir deras di pipiku. Perasaan sedih dan hancur merayapiku dengan sedemikian rupa. Untungnya, Keadaanku yang seperti ini tidak di ketahui siapapun selain Lekky. Berkat Dia tidak ada yang berani memasuki tenda ini. Meskipun itu adalah Pangeran Riana sekalipun.


Mataku telah sembab. Entah sudah berapa lama Aku menangis seperti ini. Pangeran Sera mengacuhkanku. Menganggapku tidak ada. Dia bahkan ikut dengan yang lain pergi ke desa yang tak jauh dari sini untuk bersenang-senang. Aku tidak punya hak melarangnya. Hanya menyaksikan dari jauh Dia pergi.


Perasaanku sedikit lega saat Aku menceritakan semuanya kepada Lekky. Walaupun itu tidak perlu. Lekky pasti mengetahui lebih baik dari pikiranku daripada ketika Aku menceritakannya. Setelah Aku selesai bercerita dan cukup tenang, Dia meninggalkanku sendiri di tenda. Membiarkanku untuk merenungi dan meratapi kesedihanku seorang diri.


Terdengar langkah kaki mendekat. Aku bisa merasakan pintu tenda dibuka. Aku tidak beranjak dari posisiku atau membuka mataku. Aku tidur terlentang dengan punggung tangan menutup mataku.


"Kau sudah pulang Lekky.." Kataku dengan suara serak.


Tidak ada yang akan berani masuk kamar ini selain Dia. Aku tidak perlu membuka mata untuk mengetahuinya.


Aku terkejut saat merasakan sesuatu yang manis dan hangat di bibirku. Sontak Aku membuka mata dan mendapati rambut pirang keemasan didepanku.


Aku tidak percaya apa yang kulihat. Pangeran Sera di depanku. Dia menciumku lembut. Aku hendak bergerak melepaskan diri. Tapi Dia langsung menahannya. Tanganku di cekal di atas tempat tidur. Pangeran menciumku lama.


Saat Dia melepaskan ciumannya. Aku mendapati matanya menatapku lembut. "Maaf...Maaf Aku datang terlambat" Bisik Pangeran sembari mengusap sisa air mata di pipiku. Sontak Air mata kembali menyeruak keluar. Aku kembali menangis. Pangeran memelukku erat. "Jangan menangis Yuki...Maafkan Aku..."


Aku membalas pelukan Pangeran Sera. Menangis di dadanya.

__ADS_1


Setelah Aku cukup tenang. Aku menatap Pangeran Sera masih tidak percaya. Aku menyadari pakaiannya kotor penuh lumpur. Ada luka gores di lengannya.


Bagaimana Pangeran ada di sini. Bukankah Dia pergi ke desa untuk bersenang-senang. Seolah dapat membaca pikiranku. Pangeran merengkuhku hangat.


"Lekky datang saat Aku berada di desa. Dia membiarkan Mahkluk hijau yang biasa bersamamu itu menunjukan kebenarannya padaku. Aku sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi juga perasaanmu. Maaf karena Aku sempat meragukanmu"


Aku tidak menyangka Lekky pergi menyusul Pangeran Sera. Curly memang punya kemampuan lain untuk menunjukan kenangan-kenangan yang dipikirkan seseorang kepada orang lain. Aku harus berterimakasih kepada Mereka berdua.


"Aku minta maaf Aku tidak bisa menjaga diri. Aku..."


Pangeran Sera kembali menciumku. Menghentikan ucapanku.


"Anak ini..Selama anak ini adalah Anakmu...Selama Kau menginginkannya, Maka Aku akan menerimanya dan mencintainya sebagai Anakku sendiri." Kata Pangeran Sera sembari menyentuh perutku.


"Kenapa.." Bisikku tidak percaya.


"Aku pernah begitu egois sehingga Kau kehilangan anakmu. Sebagai hukuman atas perbuatanku itu Aku kehilanganmu lima tahun ini. Aku tidak ingin mengulang lagi kesalahan seperti itu Yuki" Pangeran menggengam tanganku. Meletakkannya di wajahnya. "Aku tidak peduli anak siapa yang Kau kandung. Selama Kau adalah istriku...Anak itu adalah anakku. Kita akan menghadapi hal ini bersama-sama. Aku berjanji"


Aku menghampiri Pangeran Sera dan memeluknya kuat.

__ADS_1


__ADS_2