Rain Poor

Rain Poor
7


__ADS_3

Pergerakan iblis itu semakin meresahkan. Setiap hari diadakan rapat untuk membahas hal apa yang harus dilakukan untuk menahan iblis itu. Desakan akan kemunculanku semakin besar. Aku merasa kasihan dengan Pangeran Sera karena Dia dituding menyembunyikan istrinya walaupun Pendeta suci melindunginya.


Cepat atau lambat Aku harus menampakan diri. Sementara itu Aku dengar Ibu Suri sedang sakit keras. Kabarnya Dia beberapa kali mengigau memanggil namaku. Aku merasa waktunya tidak banyak. Dia menungguku datang. Ada sesuatu yang ingin dikatakannya.


Apa yang harus kulakukan.


Aku baru saja selesai mencuci baju dan akan kembali ke kamar ketika Aku melihat Pangeran Sera tidur seorang diri. Dia bersandar di pohon di taman belakang. Kenapa Dia ada disini ?.


Curly apakah ?


"Tidak ada orang disekitar sini dan Dia benar-benar tidur" sahut Curly ditelingaku menjawab pertanyaan dalam pikiranku. Aku melangkahkan Kakiku dengan sangat berhati-hati. Khawatir akan membangunkannya. Selama ini Aku selalu menghindari berhadapan langsung dengannya. Aku merasa tidak akan bisa menipunya dengan penyamaranku ini. Dia sangat mengenal diriku lebih dari Aku sendiri.


Ketika jarak Kami hanya satu langkah, Aku memperhatikannya dan merasa sedih. Aku merasakan ada beban berat di pundak Pangeran Sera. Raut wajahnya menunjukan seberapa besar Dia bertahan selama ini dengan tekanan yang harus dihadapinya. Aku menjulurkan tanganku. Menyibakkan rambutnya yang menutupi wajahnya.


Padahal Aku berharap Dia dapat hidup lebih baik dan melupakan Aku saat itu. Tapi Pangeran Sera memilih menghentikan waktunya. Dia terus menungguku. Dengan sabar, Tanpa menyerah dan tidak pernah berpaling.


Sebenarnya Cinta seperti apa yang Kau punya. Terbuat dari apa dirimu ini.


Aku menatapnya sembari terus bertanya dalam hati. Melihat Pangeran Sera memberiku ide untuk mengurangi bebannya. Aku tidak perlu membongkar penyamaranku sekarang agar semua orang tahu bahwa Aku sudah berada di Garduete. Aku cukup muncul disuatu tempat di ibukota, dimana ada orang-orang yang mengenaliku. Dengan begitu Mereka akan mengerti bahwa Aku sudah berada di Garduete, Hanya saja Aku belum muncul di istana.

__ADS_1


Aku juga harus menemui Ibu Suri. Dia menungguku. Aku tidak ingin menyesal nantinya.


Lekky sudah pergi entah kemana. Aku menduga Dia pergi ke salah satu wanita bangsawan yang ditemuinya di tempat hiburan. Aku menyogok Curly dengan dua kilo Apel dan Dia langsung bersedia membantuku dengan penuh semangat. Aku berhasil mencuri pakaian pelayan di tempat pelayan. Melepas penyamaranku dan mengenakan pakaian pelayan. Aku tidak mengenakan Make up sama sekali.


"Walau Kau mengenakan Pakaian seperti itu tetap orang akan tau Kau ini bukan pelayan" Kata Curly sambil memakan Apelnya yang ketiga.


"Kalau begitu bantu Aku masuk ke kamar Ibu Suri. Bukankah Kau mendapat lebih dari yang Kau minta" Aku menunjuk dua plastik Apel disampingnya.


"Satu kilo lagi dan Aku akan membantumu sampai akhir"


"Jangan serakah. Lekky akan memarahi kita hanya gara-gara berat badanmu nanti"


"Aku hanya mengingatkanmu"


Curly menggerutu. Aku memperhatikan penampilanku. Setelah cukup yakin, Aku menghampiri Curly yang asik menggerogoti apelnya.


"Sudah. Ayo kita pergi" Ajakku. Curcly mengepakan telinganya, Dia menghampiriku. Sontak Aku merasakan hembusan angin yang menerpa. Ketika membuka mata Aku sudah menaiki punggung Curly, Dia membesarkan tubuhnya sebesar beruang. Terbang melintasi langit.


Bau dupa terasa tajam di ruangan ini. Para pelayan tua baru saja keluar dari kamar Ibu Suri. Aku berhasil menyelinap masuk dengan bantuan Curly. Setelah memastikan kondisi aman. Perlahan Aku melangkahkan kaki mendekati ranjang tempat di mana Ibu Suri berbaring.

__ADS_1


Aku tertegun saat melihatnya. Seluruh tubuhnya seolah hanya diselimuti tulang dan kulit yang telah mengkerut. Ibu suri memejamkan mata. Nafasnya berat seolah tinggal menghitung kapan waktunya akan tiba. Tidak ada ketegasan yang selalu kulihat darinya selama Aku mengenalnya, Hanya perjuangan dan tekad untuk bisa hidup sedikit lebih lama yang terlihat dari dirinya. Aku meraih tangannya dengan gemetar. Menggengamnya lembut.


Tanpa diduga, Ibu Suri membuka matanya. Dia tampak terkejut saat melihatku. Aku langsung menahannya ketika Dia ingin bangun. Ibu Suri meletakkan tangannya di wajahku. Seolah meyakinkan dirinya bahwa ini bukan mimpi. Dia kemudian menepuk lenganku keras dengan tangannya yang ringkih.


"Gadis nakal...kemana saja Kau ini...kenapa tidak mengunjungiku" Kata Ibu Suri sambil memukulku. Aku meringis menerima pukulan darinya. Mata Ibu Suri berkaca-kaca. Aku memeluknya. "Kemana saja Kau ini...dasar gadis bodoh"


"Aku datang nenek" Bisikku ditelinganya. Aku mendengar isak tangis dari Ibu Suri. Aku membiarkannya tetap memelukku. Setelah cukup tenang, Dia melepaskan pelukannya. Tapi tangannya tetap menggengamku.


"Aku sudah kembali, Nenek jagalah kesehatanmu" Pintaku tulus.


"Apakah Dia tau Kau sudah kembali ?" Aku tahu yang dimaksud Ibu Suri pastilah Pangeran Riana. Aku menggelengkan kepalaku.


"Aku harap Nenek tidak mengatakan padanya Aku di sini. Aku ingin merahasiakan kedatanganku pada siapapun sampai Aku siap" Kataku memohon. Ibu Suri menatapku dalam. Ada sesuatu yang coba dibacanya dalam diriku.


"Kunjungilah nenekmu ini sesering mungkin" Pinta Ibu Suri setelah dia terdiam cukup lama. Aku menganggukan kepala mengerti.


Setelah berbincang dengan Ibu Suri Aku berpamitan.


Aku kembali ke kamar dan merenung. Apa ini benar ?. Aku tidak yakin. Tapi Aku tidak bisa terus diam seperti seorang pengecut dan membiarkan orang lain menanggung tekanan karena Aku.

__ADS_1


Aku membuka kotak berhias, Curly telah mengambilkan sebuah gaun milikku dari rumah Ayah. Aku mengenakan gaun itu, terkejut karena gaun itu masih muat di tubuhku. Aku mulai menyapukan bedak di wajahku dan mulai berhias.


__ADS_2