
Hari ini udara cukup cerah. Matahari bersinar hangat. Seharusnya udara seperti ini Aku bisa menggunakannya untuk bersantai.
Aku memasang kuda-kuda. Menilai Pergerakan lawan di depanku.
Lekky tiba-tiba datang dan mengajakku berlatih. Menurutnya sebentar lagi Kami akan sementara berpisah, untuk melaksanakan tugas dari pendeta suci. Saat Kami berpisah, setidaknya Aku bisa menjaga diriku jika ada yang berusaha menyerangku. Di pertempuran nanti Aku tidak mungkin mengandalkan siapapun untuk menyelamatkan nyawaku jika Aku dalam bahaya. Akulah yang harus menjaga diriku sendiri sampai segel suci terlepas.
Aku bergerak maju, melayangkan tinjuku pada Lekky. Kami berlatih di halaman. Beberapa prajurit melihat Kami penasaran.
Serangan demi serangan terus kulakukan. Namun Lekky selalu bisa mengatasinya dengan baik. Ada lebam di wajahku karena benturan saat berlatih. Lekky memang selalu tidak setengah-setengah dalam apapun. Aku Merangsek maju. Mencoba menghantam sisi kiri Lekky, Namun sialnya justru apa yang kulakukan menjadi senjata makan tuan. Lekky berkelit dan langsung ujung jarinya berada di leherku. Satu tanganku di pinting olehnya.
"Aaaaaaa.....!!!" Teriakku nyaring.
"Terlalu lemah" Ujar Lekky terkekeh di belakangku.
"Bukan Aku yang terlalu lemah, Tapi Kau yang tidak mau mengalah"
"Dalam pertempuran mana ada perbedaan karena Kau wanita maka Kau diistimewakan. Bodoh"
Aku merengut. Lekky melepaskan cekalan tangannya. Aku mengibas-ngibas tanganku kesakitan.
"Untuk apa Dia berlatih seperti itu ?" Bangsawan Voldermon datang bersama teman-temannya. Dia tampak tidak suka melihat lebam di wajahku. Aku melihat tatapan penasaran dari Bangsawan Xasfir. Sepertinya Dia sangat ingin menjajal kemampuan Lekky. Tapi Aku berharap Dia tidak melakukannya.
"Tidak apa-apa Bangsawan Voldermon. Aku harus berlatih untuk menjaga diriku sendiri. Terutama jika keadaan terdesak" Kataku menenangkan.
"Ini" Lekky menyodorkan salep di tangannya. Aku tahu salep itu. Memang manjur. Tapi rasanya perih sekali. Seperti luka baru yang disiram alkohol diatasnya.
"Tidak usah. Biarkan saja" Kataku berkilah.
"Pakai ini"
"Tidak mau" Tolakku lagi.
__ADS_1
Lekky menarikku ke pelukannya. Aku memberontak mencoba melepaskan diri. "Apa-apaan Kau...beraninya dengan perempuan...dimana harga dirimu sebagai keluarga Darmount"
Aku meringis saat salep itu dioleskan Lekky di lukaku. Perih. Air mataku sampai mengalir.
"Aku membencimu" Kataku kesal.
"Ini sudah waktunya makan siang. Ayo Kita makan bersama" Ajak Bangsawan Voldermon sembari melerai pertengkaran antara Aku dan Lekky.
Akhirnya Kami duduk bersama di ruang makan. Di meja melingkar yang penuh hidangan lezat. Di luar hujan turun dengan tiba-tiba. Angin menderu kencang membuat siapapun urung keluar.
Putri Marsha dengan telaten meladeni Pangeran Riana. Aku bisa melihat cinta yang besar kepada Pangeran Riana di matanya. Cinta yang membuatnya mampu melakukan apapun untuk mendapatkan hati Pangeran.
Lekky duduk di sampingku. Dengan acuh memakan makanannya. Dia lebih menjaga badan ketimbang diriku. Terdengar suara gulf berbunyi. Aku meraba kantungku. Menyadari itu milikku. Namun....
Aku terdiam saat melihat siapa yang menghubungiku. Itu adalah Pangeran Sera. Sontak semua orang memandang ke arahku.
"Tampaknya ada seseorang yang membocorkan keberadaanmu" Sindir Lekky sembari menatap ke arah Putri Marsha. Sedangkan yang di tatap langsung memalingkan wajah dengan muka tidak suka.
"Kau tidak ingin mengangkatnya ?" Tanya Lekky lagi. "Kalau begitu berikan padaku"
Lwkky mengulurkan tangannya hendak mengambil Gulf di tanganku. Aku langsung berkelit menjauhkan Gulf dari jangkauannya. Aku berdiri. Berjalan ke pojok ruangan.
Aku tidak bisa bersembunyi terus. Mungkin inilah saatnya Aku berbicara dengannya. Aku menguatkan hatiku kemudian mengangkat Gulf.
"Yuki..Apa Kau tidak ingin bertemu denganku ?"
Pangeran Sera bertanya dari seberang. Gestur tubuhnya tampak aneh. Aku menyadari ada sesuatu yang salah.
"Pangeran di mana ?" Tanyaku akhirnya.
"Menurutmu ?"
__ADS_1
Aku terdiam. Pangeran sedang mabuk. Dia tidak berada di sekolah. Aku juga tidak yakin Dia bersama rombongan yang biasa mengawalnya. Rambut dan bajunya basah kuyup.
"Tunggu Aku, Aku akan segera" Kataku cepat. Aku menutup Gulf dan berjalan menuju Lekky.
"Lekky ?" Kataku terputus. Aku tidak perlu menyuarakannya. Lekky pasti tahu maksudku. Aku ingin bertemu dengan Pangeran Sera. Dia sedang berada sendirian di luar sana dan dalam keadaan mabuk. Aku khawatir jika terjadi sesuatu pada dirinya.
"Kau keluar gerbang dan belok ke kiri. Nanti Kau akan melihat Bangunan dengan Pohon trambesi di depannya. Dia ada di sana" Jawab Lekky akhirnya.
Aku segera berlari keluar menuju pintu samping yang ada di ruang makan. Menerobos hujan yang turun semakin deras. Angin kencang menderu.
Aku tidak peduli saat Lekky meneriakiku supaya memakai payung.
Aku terus berlari.
Aku mencapai gerbang. Bajuku sudah basah kuyup. Berbelok ke kiri sesuai petunjuk Lekky. Menaiki jalan menanjak. Akhirnya Aku menemukan bangunan yang di maksud Lekky. Aku bergegas mempercepat langkahku.
Aku berhenti. Menemukan Pangeran Sera duduk bersandar di pagar batu. Dia tampak kepayahan. Bergegas Aku menghampirinya. Berjongkok di depannya.
"Pangeran" Panggilku menggoyangkan bahunya.
Pangeran Sera membuka matanya. Dia tersenyum. Banyak penderitaan yang terlihat di matanya. "Kau datang"
"Bangunlah, Kenapa Pangeran sendirian berada di sini ?"
Aku berusaha mengangkatnya. Pangeran Berdiri sambil bersandar pada badanku. Aku mencoba menahannya agar tidak jatuh ke tanah. Di luar dugaan badannya walaupun terlihat langsing tetapi berat juga.
Pangeran tiba-tiba menepis tanganku. "Kenapa Kau baru datang sekarang.. Kemana saja Kau selama ini' Tuntut Pangeran keras.
"Ayo..Kita pergi dulu dari sini" Aku kembali menghampiri Pangeran. Tapi Pangeran kembali menepis tanganku.
"Kenapa Yuki...Kenapa Kau pergi..Kenapa Kau meninggalkanku" Rancau Pangeran. Aku terdiam. Tidak mampu mengatakan apapun.
__ADS_1