Rain Poor

Rain Poor
44


__ADS_3

"jadi begitulah ceritanya..."


Lekky menganggukan kepala mengerti. Agak lega setelah berbicara dengannya. Lekky menengok ke belakang seperti bereaksi akan sesuatu.


"Aku menyuruhmu untuk tidak membuat masalah, Tapi Kau malah membuat masalah yang lebih besar" Kata Lekky berdecak.


"Lalu Aku harus bagaimana ?"


"Jangan tanya Aku..Bukan Aku yang hamil dan mengandung anak orang lain"


Aku diam.


"Rasanya Aku ingin membunuh ke dua orang itu" Ujar Lekky kesal.


"Lekky"


"Sekarang tidak ada pilihan lain. Sementara ini, Kau mau tidak mau harus berada di dalam lindungan Riana. Kehamilanmu ini pasti akan menjadi konflik yang besar bagi dua kerajaan. Kau harus berhati-hati. Akan banyak orang yang ingin mencelakaimu dan anakmu karena konflik ini. Hanya Riana yang bisa melindungimu"


"Apa di sana sedang genting ?" Tanyaku lagi. Lekky pasti langsung datang kemari jika Dia mendengar masalah ini. Tapi Dia tidak datang. Pasti ada sesuatu yang salah di sana sehingga Dia tidak bisa pergi kemari.


"Ada murid pendeta yang berkhianat. Dia berhasil menculik pendeta suci. Sekarang Aku akan mengurus keadaan di sini dulu. Katakan pada Riana tiga hari lagi untuk pergi ke rumahku bersamamu dan orang-orang kepercayaannya. Tunggu Aku di sana sampai Aku datang."

__ADS_1


"Baiklah, Aku mengerti"


"Jangan khawatirkan apapun. Pikirkan saja anak dalam kandunganmu. Kita akan melalui ini bersama"


Aku sedikit lega ketika Lekky mengatakan Kita yang artinya Dia akan membantuku menyelesaikan masalah ini. Setidaknya Aku mempunyai tempat netral, yang tidak ada Pangeran Riana maupun Pangeran Sera di dalamnya.


Lekky langsung menutup Gulfnya. Sambungan terputus. Jelas Dia tampak sangat terburu-buru. Aku berbalik dan mendapati Pangeran Riana sudah berdiri di dekat pintu kamar. Sejak kapan Dia datang. Kenapa Aku tidak mendengarnya masuk.


"Lekky.." Kataku mencoba menjelaskan.


"Katakan padanya Aku akan membawa teman-temanku nanti"


Aku menganggukan kepala mengerti. Sudah empat hari Aku berada di dalam kamar ini. Pangeran Riana sama sekali tidak mengizinkanku untuk keluar kamar. Aku masih beruntung Dia tidak merampas Gulf milikku. Tapi bukan artinya Aku sudah berkomunikasi dengan Pangeran Sera. Aku terlalu pengecut untuk berbicara dengannya. Pangeran Sera juga tidak menghubungiku lagi semenjak itu. Aku yakin Dia sudah mendengarnya. Anak yang kukandung bukan anaknya.


Pangeran membolak-balikkan berkas di tangannya. Laporan penyelidikan mengenai Putri Marsha. Perkembangan terbaru, Diketahui Putri Marsha telah beberapa kali mencoba menyuruh pembunuh bayaran untuk membunuhku. Tapi sepertinya Mereka semua tidak pernah kembali setelah pergi untuk menjalankan misinya. Apa Lekky telah menghabisi semuanya tanpa sepengetahuanku ?.


Selain itu Putri Marsha juga sebagai dalang utama penyerangan Bangsawan Voldermon.


Dia telah di tuntut dengan tuduhan serius. Ikut andil dalam pembunuhan anak dari Perwaris tahtah kerajaan. Laporan palsu pada peristiwa terlukanya Pangeran Riana di negeri Argueda. Berkomplot menyerang Anggota kerajaan. Dia sudah tidak terampuni lagi.


Hukuman gantung sudah menantinya.

__ADS_1


Yang membuatku terkejut dari semua adalah Pangeran Riana dengan dinginnya memimpin sendiri persidangan itu. Dia sama sekali tidak menunjukan perasaan empati ataupun belas kasihan pada wanita yang selama lima tahun ini menemani dan setia padanya.


Aku tidak bisa menolong Putri Marsha. Dia hancur akan ambisinya sendiri.


Para Pelayan wanita tampak senang saat Putri Marsha pergi. Mereka membereskan semua barang Putri Marsha tanpa di komando dan bahkan mensucikan kamar yang di pakainya selama ini. Tampaknya kekejaman Putri Marsha membuat Mereka semua membenci Putri Marsha.


Karena Pangeran Riana hanya diam. Aku memutuskan untuk melanjutkan buku yang baru ku baca setengah. Buku itu kebetulan Aku geletakan begitu saja di Sofa. Aku membuka buku di tanganku dan mulai membaca.


Namun baru lima belas menit Aku membuka buku. Aku merasakan kram di paha bawah kakiku. Rasanya ototku menegang dan membuat perasaanku menjadi tidak nyaman. Aku memang tidak merasakan mual atau muntah seperti kehamilanku yang pertama. Bahkan Aku bisa makan apapun yang kumau walaupun baunya sangat menyengat. Namun, Aku sering mengalami kram pada kakiku. Bahkan sering membuatku tidak bisa berdiri sampai kramnya hilang. Terutama jika Aku sedang duduk terlalu lama.


Selain itu, jika Aku memaksakan diri duduk terlalu lama dan berada di keramaian. Aku akan sering menguap dan merasa kantuk yang hebat.


Aku berusaha menahan mati-matian rasa nyeri di kakiku. Tidak ingin Pangeran Riana mengetahuinya. Pangeran menutup berkasnya. Meletakkan ke meja. Lalu Dia berdiri menuju laci di dekat cendela. Saat Dia kembali, Dia membawa minyak yang sering di pakai untuk memijat.


Aku cukup terkejut ketika Pangeran Riana berjongkok di depanku. Dia perlahan menyentuh kakiku. Seolah tahu apa yang kurasakan. "Diam Yuki" Katanya ketika Aku berusaha melepaskan diri.


Pangeran mengoleskan minyak di pahaku dan dengan lembut memijat kakiku. Dia menggerakan jarinya di seputaran ototku yang tegang. Pijatannya membuat otot kakiku kembali rileks.


"Sudah baikkan...Terimakasih" Kataku canggung. Pangeran berdiri. Meletakan minyak itu di atas meja. Dia mengelap tangannya dengan sapu tangan dan mengambil kembali berkas yang sebelumnya di pelajarinya dari meja.


"Jika Kram itu menyerangmu lagi. Katakan saja"

__ADS_1


Aku diam.


Ternyata Dia mengetahui keadaanku. Terkandang Pangeran Riana itu sangat tidak terduga. Dia bisa terlihat tidak peduli dan dingin, Namun di balik sikapnya yang seperti itu sebenarnya Dia sangat peduli.


__ADS_2