
"Ayo kita bantu Dia...Aku akan memberimu sekilo apel merah jika Kau berhasil menemukan cincin itu"
Aku masuk ke dalam kolam. Terkejut saat menyadari betapa dinginnya air kolam. Dengan bergegas Aku menghampiri nenek itu. Pakaiannya terbuat dari kain katun yang ditambal di sana sini. Gurat kesedihan semakin jelas saat Aku mendekat. Ada bekas air mata di wajahnya.
"Nenek..Apa yang Nenek lakukan di sini ?" Tanyaku berpura-pura tidak mengerti permasalahannya.
Nenek itu terkejut. Dia menatapku sejenak. "Maafkan Aku nak, Aku hanya mencari cincin kawinku yang terjatuh di kolam" Kata Nenek itu dengan suara gemetar karena kedinginan. "Tolong jangan beritahu tuanmu"
Nenek itu ternyata mengira Aku seorang pelayan. Aku memang mengenakan pakaian dari kain biasa yang sedikit basah karena terkena air saat mencuci. Aku tidak mengenakan perhiasan apapun selain cincin kawin dan satu anting milik Lekky di telinga kiriku. Lagipula tidak lucu jika Aku berdandan ala putri hanya untuk mencuci baju di sumur.
"Aku tidak akan memberitahukan kepada tuanku nek. Tapi di sini sangat dingin. Nenek menepilah. Badan Nenek sudah gemetaran"
"Tapi..." Kata Nenek itu enggan. Dari sikapnya Aku sangat tahu bahwa cincin itu sangatlah berharga untuknya. Memang nilainya tidak seberapa tapi Cincin itu memiliki arti yang besar untuk si Nenek. Dia rela datang kemari hanya untuk menyerahkan cincin yang begitu berharga untuk Putri angkatnya, Berharap Putrinya dapat kehidupan yang lebih baik setelah menikah. Nenek tidak mengharapkan apapun selain kebahagiaan gadis itu.
Aku mengetahui hal ini dari Curly yang membisikkannya di telingaku. Dia mampu membaca isi pikiran Nenek lebih baik daripada Lekky.
"Nenek duduklah di tepi kolam. Biar Aku bantu mencarikan"
"Udara sangat dingin, Kau bisa sakit nanti nak. Tidak usah..biar Nenek saja"
"Tidak apa-apa Nek. Aku masih cukup muda mataku masih cukup awas untuk melihat. Jika Aku yang mencari, Aku yakin akan lebih cepat menemukannya"
Aku merangkul lengan nenek itu. Membimbingnya untuk duduk di pinggir kolam. Aku memberikan mantel yang ku letakan di pinggir kolam sebelum Aku masuk tadi. Menyelimuti badannya yang gemetaran. Aku kembali berjalan ke tengah kolam. Menahan mati-matian rasa sakit akibat dinginnya air saat ini. Dengan di bantu Curly, Aku membungkuk mencari cincin itu. Nenek beberapa kali memanggilku cemas. Menyuruhku untuk menyudahinya. Tapi Aku tidak mengubrisnya. Sepuluh menit kemudian Aku telah menemukannya. Aku menunjukkan kepada Nenek itu senang. "Lihat Nek...Aku menemukannya" Kataku sambil berjalan ke pinggir kolam.
"Ini kan cincinmu"
__ADS_1
Nenek menerima cincinnya dengan perasaan haru. Dia tersenyum senang memandangi cincin itu. Ada semerbak air mata di pelupuk matanya. "Benar...Ini cincinku..Terimakasih...Terimakasih banyak"
Nenek menggengam cincinnya. Menciumnya berkali-kali dengan perasaan sayang.
"Jangan sampai hilang lagi ya Nek"
"Terimakasih banyak Nak...Terimakasih"
"Setelah ini Nenek akan kemana ?"
"Hamba akan kembali ke rumah Nak. Nenek sudah tidak memiliki urusan di sini"
"Di sana Nenek sendirian ?"
"Ya.."
"Yuki...Astaga apa yang Kau lakukan di sana" Bangsawan Voldermon terkejut saat melihatku. Dia sedang bersama Pangeran Riana dan Putri Marsha. ada juga seorang Panglima dan gadis yang umurnya masih lebih muda dariku. Beberapa Prajurit berjalan di belakang mereka dengan setia.
"Yuki..Putri Yuki...Anda" Kata Nenek itu akhirnya menyadari siapa diriku saat melihat Pangeran Riana datang. Nenek itu beringsut untuk memberi hormat. Tapi Aku segera menahannya.
"Tidak perlu Nek"
"Maafkan hamba Putri, Hamba tidak mengenali anda"
"Tidak apa-apa. Sudahlah Nek jangan bersikap seperti ini padaku"
__ADS_1
Itu Dia...
Curly berteriak di sampingku.
Jangan berteriak di telingaku seperti itu Curly. Katakan padaku ada apa ?
Gadis yang bersama Putri Marsha itu. Itu adalah Putri Nenek ini.
Aku memperhatikan gadis yang di maksud Curly. Gadis yang masih muda. Umurnya mungkin sekitar tujuh belas tahun. Dia cantik. Namun Aku melihat ada sesuatu yang salah dari dirinya.
Calon suaminya adalah Kakak Putri Marsha yang ada di sebelahnya itu.
Kakak laki-laki Putri Marsha ternyata adalah seorang Panglima perang. Dia mungkin berusia lebih tua daripada Pangeran Riana. Terlihat sombong dan terlalu membanggakan diri. Jenis orang yang sering merendahkan orang.
Gadis itu menatap kesal kepada Nenek. Sementara itu Nenek menundukkan kepala merasa bersalah. Aku meremas bahunya menenangkan.
"Bangsawan Voldermon apa Kau bisa membantuku ?"
"Ya tentu. Ada apa ?"
"Bisakah Kau menyiapkan kamar dan tabib untuk Nenek ini"
"Putri Tidak perlu.." Tolak Nenek itu buru-buru.
"Tidak apa-apa Nek. Nenek sudah berjalan cukup jauh sampai sini. Nenek beristirahatlah dulu di sini. Biar Aku yang akan mengurus sisanya" Kataku penuh makna. Aku memandang Putri Nenek. Dia langsung memalingkan wajah berpura-pura tidak mengerti.
__ADS_1
Bangsawan Voldermon memanggil dua prajuritnya. Memerintahkan Mereka untuk membawa nenek ini ke kamar yang hangat di salah satu kamar di sekolah dan memanggilkan tabib. Dia juga memerintahkan untuk mencarikan pelayan yang melayani keperluan Nenek ini dan melaporkan segala perkembangannya pada Bangsawan Voldermon.
"Kalian berdua...Terimakasih banyak" Kata Nenek itu sebelum pergi bersama dua prajurit yang mengapitnya.