
Pangeran Sera harus pergi ke suatu tempat beberapa saat. Aku melihatnya dan rombongannya telah pergi pagi sekali sebelum matahari terbit. Aku merasa lega. Lebih sulit membohonginya ketimbang yang lain. Aku tidak percaya jika Dia mampu mengenaliku di pertemuan pertama kami setelah lima tahun berlalu. Dia masih curiga padaku, Dia tidak mempercayai segala usahaku untuk menipunya. Sekarang Dia hanya menunggu saat yang tepat untuk membuktikan kecurigaannya.
Aku sangat lapar hari ini. Karena Pangeran Sera telah pergi, Aku tidak perlu bersembunyi lagi jika berjalan di sekolah. Aku memutuskan untuk pergi ke kantin dan menemukan beberapa makanan yang bisa menganjal perutku. Ketika sampai di sana, ruangan masih cukup ramai. Beberapa orang tampak mengobrol. Aku berjalan mengambil makanan lalu berjalan ke sudut yang agak tersembunyi. Aku membuka buku yang baru ku baca setengah, melanjutkan sambil menikmati makan siang. Duduk seorang diri jauh dari kerumunan untuk menghindari orang-orang yang ingin bertanya mengenai Lekky Darmount dan apa hubungannya dengan Putri Yuki
Namun baru beberapa suap, Terdengar keributan di tengah kantin. Seorang Panglima dari negara lain berteriak marah pada pelayan wanita yang jelas masih sangat muda umurnya. Pelayan itu menunduk ketakutan. Wajahnya pucat pasi.
"Sudah kukatakan Aku alergi makanan laut tapi Kau malah memasukan udang ke dalam sup ku. Di mana otakmu ?!" Tanya Panglima itu marah. Wajahnya memerah karena amarah. "Untung saja Aku belum memakan barang ini" Panglima itu melempar mangkuk berisi sup hingga mengenai pelayan. Mangkuk itu jatuh di lantai. Isinya berhamburan.
"Ma..maafkan Saya tuan" Kata Pelayan itu dengan suara gemetaran.
"Aku tidak terima ini. Lihat saja akan kupastikan Kau mendapat hukumanmu"
"Mohon ampuni Hamba Tuan. Hamba bersalah" Kata pelayan itu semakin ketakutan mendengar ancaman Panglima itu. Aku dengar Putri Marsha tidak begitu baik dengan para pelayan di istana. Dia bisa menghukum dengan kejam hanya karena masalah sepele saja. Memang semenjak Ibu Suri sakit semua tugas Ibu Suri digantikan olehnya sebagai tunangan Pangeran Riana.
Aku melihat pelayan itu dan merasa kasihan. Aku bangun menghampiri pelayan itu. "Mohon maafkan Kami Tuan. Kami akan segera mengganti dengan yang baru" Kataku ketika mendekat.
"Siapa Kamu ?!, Berani sekali Kamu menyela pembicaraan Kami"
__ADS_1
Aku menundukan kepala diam. Berdiri diantara Panglima dan pelayan. Seseorang membisikkan sesuatu pada Panglima itu.
"Oh..jadi ini adalah gadis nya Lekky Darmount yang dibicarakan itu. Lantas kenapa ?, hanya Karena Kau gadisnya Kau bisa bersikap kurang ajar padaku"
"Hamba tidak berniat seperti itu. Mohon di maafkan tuan"
"Memaafkan ?!, Apa semua bisa selesai dengan maaf ?" Panglima itu mengebrak meja keras.
Aku diam tidak bergeming.
Aku terkejut saat Panglima itu menarikku kuat ke dekatnya. Tercium bau alkohol di mulutnya membuatku sadar kenapa Dia bertindak berlebihan hanya karena pelayan salah memberikan sup. Kerudung di rambutku melorot turun karena tertarik saat Aku memberontak untuk melepaskan diri. "Lekky Darmount memiliki selera yang tinggi terhadap wanita yang ditidurinya, Aku jadi penasaran bagaimana seleranya terhadap wanita yang menjadi pelayan pribadinya"
"Putri Yuki.." Aku membeku ketika mendengar suara itu. Aku pernah mendengarnya sebelumnya.
Ternyata itu adalah Jendral Ziyar. Jenderal kepercayaan Pangeran Sera. Aku pernah bertemu dengannya ketika berada di hutan bersalju. Saat itu Aku melarikan diri dari istana Pangeran Riana setelah melihatnya berciuman dengan Putri Marsha. Aku menyetakan tangan Panglima yang terkejut ketika mengenaliku dengan keras hingga terlepas. Aku tidak menyangka masih ada orang Argueda di sini yang tidak ikut bersama Pangeran Sera.
"Putri Yuki" Panggil Ziyar kembali. Ziyar berdiri tak jauh dari tempat Kami. Tampaknya Dia sendiri tidak menduga Aku ada di sini. Dia sedang makan saat Panglima itu membuat keributan.
__ADS_1
Semua orang memandangku. Terdengar bisik-bisik bagaikan dengungan lebah. Aku berbalik dan langsung berlari menuju pintu keluar.
"Putri Yuki.." Panggil Ziyar nyaring. Aku tidak berhenti dan mempercepat langkahku. Ketika sampai di pintu Aku membukanya dan langsung berhenti.
Mataku bertatapan dengan mata dingin Pangeran Riana. Dia berada di depanku tepat. Di sampingnya ada Putri Marsha yang melotot melihatku. Bangsawan Xasfir juga memperlihatkan keterkejutan yang tidak bisa di sembunyikan. Pendeta Serfa diam tanpa ekpresi. Kami semua seolah membeku dalam satu waktu sampai terdengar panggilan yang menyadarkanku.
"Putri Yuki..."
Ziyar berlari kearahku.
Aku mendorong diantara Pangeran dan Pendera Serfa. Menyeruak berlari keluar ruangan. Di belakangku terdengar langkah kaki mendekat. Aku melompati dua anak tangga sekaligus saat Ziyar menangkap lenganku. Menghentikan langkahku. "Putri Yuki" Panggil Ziyar lagi lebih keras.
"Lekky....Lekkyyyy.." Teriakku nyaring dengan panik.
Terdengar suara geraman binatang buas. Dalam sekejap Ziyar terpental keras ke tanah. Aku membuka mata, Curly sudah berdiri didepanku. Tubuhnya membesar sebesar beruang. Dia menatap Ziyar dengan matanya yang merah dengan sikap mengancam. Air liur menetes di sela taringnya yang tajam dan besar.
Semua orang terkejut saat melihat Curly. Bangsawan Xasfir sudah mencabut pedangnya. "Curly...tidak...Curly.." Teriakku ketika Curly mengeluarkan taringnya yang setajam pisau. Bersiap menyerang Ziyar. Curly berlari ke arah Ziyar mengindahkan teriakkanku, Sementara Ziyar masih terbaring di tempatnya akibat terhantam cukup keras di tanah.
__ADS_1
Curly mengangkat tangannya ke udara, Bersiap mengayuhkan ke tubuh Ziyar.
Saat cakar itu hampir menyentuh tubuh ziyar terdengar suara siulan panjang di udara. Curly langsung merespon siulan itu. Dia menegakan tubuhnya. Berpaling, melupakan Ziyar dibawahnya.