Rain Poor

Rain Poor
17


__ADS_3

Aku baru saja selesai dari berdoa di kuil. Membawa nampan seperti biasa menuju kamar. Sedikit terburu-buru saat hujan turun dengan derasnya. Ketika di pertengahan jalan, di lorong yang sunyi, Aku berpapasan dengan Pangeran Riana. Dia berjalan seorang diri.


Kami berjalan saling mendekat. Aku menundukkan kepalaku dengan sikap hormat ketika Kami berpapasan


Nampanku jatuh ke lantai, menimbulkan dentingan yang cukup keras. Isinya berhamburan. Punggungku terhantam tembok belakang dengan cukup keras. Aku meringis kesakitan. Pangeran Riana di depanku. Mencekal kedua tanganku erat di tembok. Membelengguku sedemikian rupa. Jarak Kami begitu dekat.


Aroma tubuhnya terasa familiar. Aku terkejut Aku masih begitu mengenalinya setelah sekian lama tidak bertemu.


"Apa yang Kau lakukan, lepaskan Aku" Kataku berusaha memberontak. Aku merasa cemas jika ada yang melihat Kami. Dia pasti akan salah paham.


Cekalan Pangeran semakin erat. "Sakit.."


"Katakan padaku, Apa yang Kalian coba sembunyikan dariku ?" Aku terkejut. Menatap Pangeran Riana. Matanya tajam menembusku. Aku merasakan banyak emosi terpancar di dalamnya.


"Aku tidak mengerti apa yang Kau bicarakan. Lepaskan Aku" Kataku berpura-pura tidak mengerti.


"Apa yang Kau dan Vold sembunyikan dariku ?" Tanyanya lagi dengan lebih tegas.


Apa Pangeran Riana curiga. Dia tidak boleh sampai mengetahui masalah lima tahun lalu. Aku sudah hafal sifatnya. Mata Kami bertatapan. Kami terdiam cukup lama. Tidak ada suara apapun selain suara hujan deras yang turun membasahi bumi.


"Katakan padaku Yuki, Apa yang Kalian coba sembunyikan dariku. Apa yang Vold tidak bisa ceritakan padaku"

__ADS_1


Aku menepis tangan Pangeran Riana kasar. Melepaskannya sedemikian rupa. "Aku tidak tahu apa yang Pangeran maksud. Kenapa tidak bertanya sendiri pada Bangsawan Voldermon. Lagipula jika diantara Kami ada rahasia, Itu bukan urusanmu Pangeran"


Pangeran kembali meremas bahuku. Memaksaku untuk melihatnya.


Dia tidak boleh mengetahuinya. Aku tidak mau menghancurkan hidupnya. Aku tidak datang kemari untuk itu. Jika Dia membenciku, Biarkan Dia tetap membenciku. Rahasia ini harus kusimpan rapat bahkan sampai Aku mati.


Aku mengangkat tanganku. Merangkulkan ke lehernya. Dengan penuh keberanian Aku mencium bibir Pangeran. Pangeran diam ketika Aku menciumnya. Aku semakin memberanikan diri menciumnya, memeluknya lebih erat. Akhirnya Pangeran mendorongku menjauh. Aku tersenyum menatapnya yang juga memandangiku dengan tatapan tak percaya.


"Kenapa Pangeran ?, Bukankah ini yang selalu Kau lakukan ketika Kau marah padaku ?"


Pangeran diam.


Tanpa menunggu jawaban Pangeran, Aku membungkuk mengambil nampanku. Dan lalu pergi meninggalkannya.


Lekky telah kembali dua hari kemudian. Dia baru saja kembali dari dunia peri bawah tanah untuk mengambil sesuatu yang diperintahkan pendeta suci. Lekky sedang melatih kekuatan otot lengannya dengan bergelantungan di atas pintu ketika terdengar keributan dari halaman. Aku meletakkan buku yang sedang ku baca, berjalan menuju cendela untuk melihat apa yang sedang terjadi. Para pelayan berlari ke sana kemari dengan panik.


"Ada apa ?" Tanyaku pada Lekky karena tidak berhasil mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi di luar. Lekky pasti mengetahui dari pikiran Mereka.


"Teman Bangsawanmu telah di serang"


"Apa ?" Kataku terkejut. Aku refleks langsung berlari keluar menuju kamar Bangsawan Voldermon. Saat Aku masuk ke dalam kamarnya, sudah ada Pangeran Riana dan rombongannya di dalam. para pelayan hilir mudik melakukan pertolongan pertama pada Bangsawan Voldermon. Aku ingin mendekat untuk lebih melihat dengan jelas, Namun Aku langsung mengurungkan niatku ketika melihat tatapan kebencian Putri Marsha yang ditujukan padaku.

__ADS_1


"Serfa sedang menuju ke sini" lapor Bangsawan Asry sambil menutup gulf. Pangeran Riana memandang Bangsawan Voldermon dengan perasaan cemas. Mereka telah tumbuh bersama sejak kecil, hubungan Mereka jauh lebih erat daripada kelihatannya. Terdengar erangan kesakitan dari Bangsawan Voldermon.


Lekky tiba-tiba menyeruak masuk. Tanpa tendeng aling-aling Dia menghampiri Bangsawan Voldermon. Para pelayan menyingkir ketakutan.


"Jangan sentuh Dia" Bangsawan Xasfir mencabut pedangnya dan mengarahkan ke leher Lekky. Aku menatap keduanya panik.


"Singkirkan pedangmu jika Kau ingin temanmu ini tetap selamat" Kata Lekky tenang.


"Xasfir" Perintah Pangeran Riana. Bangsawan Xasfir mundur dua langkah. Memasukkan kembali pedangnya. Namun tetap waspada.


"Yuki bantu Aku" Perintah Lekky setelah Dia memeriksa Bangsawan Voldermon yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Bau darah terasa di ruangan ini. Wajah Bangsawan Voldermon penuh dengan luka lebam.


Aku menghampiri Bangsawan Voldermon. Mengangkat kepalanya dengan berhati-hati ke bahuku. Lekky memeriksa lengan kiri Bangsawan Voldermon. "Bersiaplah, ini akan sedikit sakit"


Kreekk !!


Terdengar teriakan nyaring dari Bangsawan Voldermon. Aku menahannya kuat di pelukanku. Lekky memijat beberapa kali di bagian lengan kiri. Mengambil kayu penyangga dan meletakkan di lengan Bangsawan Voldermon lalu membalutnya dengan kain bersih. Nafas Bangsawan Voldermon tersenggal-senggal. Wajahnya memerah menahan sakit.


"Brengsek, Kau bilang hanya sedikit sakit" Protes Bangsawan Voldermon ketika Dia lebih tenang. Aku kembali merebahkan kepala Bangsawan Voldermon ke atas bantal. Membantu Lekky untuk mengobati luka di bagian vital lainnya.


"Yang lain biar Mereka yang urus" Lekky mengangkatku turun dari tempat tidur. Aku mengikuti Lekky berjalan ke pojok ruang. Para pelayan kembali mengambil alih tugas membersihkan luka Bangsawan Voldermon. Tidak berapa lama Serfa datang. Kami semua keluar menuju ruang kerja Bangsawan Voldermon sambil menunggu Pendeta Serfa memeriksa kembali semua luka yang ada di tubuh Bangsawan Voldermon. Bangsawan Voldermon tertidur karena pengaruh obat. Aku melihatnya cemas dari balik pintu. Lekky berada di dekatku. Bersandar di tembok sambil merokok dengan santainya.

__ADS_1


__ADS_2