
"Minggir..Jangan halangi Aku membunuh jalang ini" Namura mencoba merangsek maju. Tapi Dua prajurit pengawal Raja langsung menodongkan pedang ke arahnya.
"Apa yang Kalian Lakukan pada istriku. Sial..Aku tidak terima penghinaan ini" Teriak Panglima Jafar marah.
"Yukki.." Aku mendengar suara Pangeran Sera. Dalam sekejap sebuah tangan terulur dan menarikku ke dadanya. "Apa yang terjadi ?" Teriak Pangeran Sera marah.
"Istrimu berusaha merayu kakakku. Ketika Kakaku menolaknya Dia malah memukul Kakakku dengan balok kayu. Sera apa Kau tidak berpikir lebih baik menceraikannya. Wanita seperti itu untuk apa Kau pertahankan" Seru Putri Marsha sinis.
"Merayu...Apa Dia akan menyobek belakang bajunya untuk merayu Kakakmu ?" Tanya Pangeran Sera dingin.
"Jadi Kau menuduhku ?" Ujar Panglima Jafar berang.
"Biarkan pengadilan kerajaan yang memutuskan. Yang mulia Raja Bardansah..Aku, Sera Madza meminta pengajuan pengadilan kerajaan untuk kasus yang menimpa istriku" Kata Pangeran Sera tegas.
"Silahkan Pangeran mengikuti prosedur pelaksanaannya dan Kami akan siap membantu tanpa berpihak kepada siapapun" Kata Raja bijak.
"Yang Mulia RaJa Bardansah, Hamba tidak terima ini. Ini Artinya Kalian menuduhku mencoba menyerangnya"
"Tidak ada yang mengatakan Kau menyerangnya Panglima Jafar. Tidak..sampai kerajaan akan membuktikan kebenarannya. Jika Kau tidak bersalah, Kau tidak perlu takut" Kata Bangsawan Voldermon membalas Panglima Jafar.
"Kakakku tidak mungkin mau dengannya, Aku percaya Putri Yuki lah yang menggoda Kakakku" Bela Putri Marsha tidak mau kalah.
"Marsha cukup" Kata Raja menghentikan pertikaian.
__ADS_1
"Terimakasih" kata Pangeran Sera dingin.
Pangeran Sera mengendongku di dadanya. Tampak jelas kemarahan di raut wajahnya. "Minggir" Kata Pangeran Sera pada Putri Marsha yang berdiri menghalangi langkahnya.
"Aku tidak merayunya..Aku tidak menggodanya sama sekali" Bisikku di tengah kesadaranku yang simpang siur ketika Kami sudah menjauh dari kerumunan.
"Aku tahu" Kata Pangeran Sera cepat. "Sekarang diamlah, Aku akan membawamu pulang"
Pangeran Sera membawaku ke kamarnya di sekolah. Aku dibaringkan di atas tempat tidur. Seluruh tubuhku lebam dan memar. Pendeta Naru datang memeriksa dan memberiku obat. Pangeran Sera dengan sabar mengoleskan seluruh lebam di tubuhku dengan salep yang di berikan Pendeta Naru. Setelah cukup yakin Aku baik-baik saja. Dia meninggalkanku dengan penjagaan yang ketat, Menuju istana Raja untuk mengurus pengajuan pengadilan kerajaan. Pangeran Sera tidak main-main dengan ucapannya.
Tiga hari berlalu. Lebam di tubuhku sudah mulai memudar walaupun Aku masih belum bisa berjalan dengan baik. Setiap hari tabib yang di tunjuk Pendeta Naru memeriksa keadaanku.
Selama itu Pangeran Sera terus menjagaku dan memberikan perhatian yang besar. Dia sering membantuku mengobati lukaku atau membantuku mandi. Dia benar-benar suami yang baik. Aku merasa beruntung menikah dengannya.
Curly memandangku dengan matanya yang besar. Kedua telinganya terlipat melintang di wajahnya sehingga hanya memperlihatkan matanya. Curly memegang kedua telinganya kuat. Wajahnya memancarkan ketakutan. Membuat perasaanku menjadi tidak enak.
"Ada apa ?" Kataku cepat. "Apa terjadi sesuatu dengan Lekky dan yang lainnya ?"
"Tuan Lekky berada di ruang makan" Kata Curly dengan suara parau.
"Lalu kenapa Kau sangat ketakutan. Apa yang terjadi ?"
"Dia mendengar masalah penyeranganmu dan sekarang Tuan Lekky mencari Panglima Jafar untuk mengkronfontasinya"
__ADS_1
"Apa ?" Kataku Kaget. "Kenapa Kau menceritakan padanya ?"
"Tuan Lekky mengetahuinya dari pikiran orang-orang" Kilah Curly tidak mau kalah.
Aku segera turun dari tempat tidur dengan panik. "Pangeran, Kita harus menemukan Lekky sekarang" Kataku serius. Sesuatu di wajahku membuat Pangeran tidak lagi melarangku turun dari tempat tidur seperti biasa. Aku memakai sepatuku. Berlari dengan kecepatan yang Aku bisa menuju ruang makan. Pangeran Sera berada di sampingku. Membantuku jika Aku goyah karena memang tubuhku belum pulih sempurna.
"Apa terjadi sesuatu yang gawat ?" Tanya Pangeran Sera tidak mampu menyembunyikan rasa penasarannya, sambil berjalan cepat didekatku.
"Wajah Curly tadi menunjukan betapa marahnya Lekky. Aku takut Lekky akan nekat dan membahayakan dirinya serta orang lain. Kita harus segera menghentikannya"
Terdengar teriakan dan pecahan kaca dari ruang makan. Aku tersentak. Kekacauan di dalam ruang makan terdengar sampai tempatku berada. Aku semakin mempercepat langkahku. Tidak peduli dengan sakit yang kurasa.
Ketika Aku telah sampai di dalan ruang makan. Tampak jelas beberapa orang berlari keluar untuk menyelamatkan diri. Pangeran Riana berdiri bersama rombongannya dengan posisi siaga. Di sana sudah ada lebih dari sepuluh mayat Prajurit Panglima Jafar bergelimpangan. Darah mengalir di mana-mana. Panglima Jafar memandang Lekky yang menatapnya tanpa ekpresi dengan wajah ketakutan. Aku bergegas menghampiri Lekky sebelum Dia bertidak jauh. Di sampingnya ada Varmount yang berusaha menenangkannya.
"Lekky..Ini Aku..Lihat Aku..Aku baik-baik saja. Jadi hentikan ini" Pintaku sambil menggoyangkan lengannya, Berusaha menarik perhatiannya.
"Lekky lihat itu Yuki..Bagaimana kalau Kau tenang dan membicarakan semuanya" Kata Varmount membantuku.
"Lekky..Hentikan...Aku.." Aku tidak melanjutkan ucapanku ketika Lekky berpaling untuk menatapku. Bola matanya berwarna merah terang. Dia tampak dingin dan berbahaya. Aku tertegun. Tanpa sadar, Secara perlahan Aku melepaskan tanganku dari lengannya.
Pangeran Sera langsung menarikku mundur. Dia tampak sangat tegang sama seperti seluruh orang di ruangan ini.
Aku memandang Varmount. Dia mengelengkan kepala pelan dengan sikap pasrah. Lekky sudah tidak bisa di bendung lagi. Sudah terlambat untuk menyuruhnya tenang. Dia paling tidak suka jika ada yang melecehkan keluarganya terutama jika keluarganya itu seorang wanita. Dia sangat proktetif terhadap itu. Sama seperti Ayah.
__ADS_1