
Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Pangeran Sera. Setelah kelahiran Nara Dia seperti berubah. Jarang kembali ke kamar dan menyibukkan diri dengan urusan kerajaan. Aku menjadi frustasi sendiri. Aku tidak tahu harus berkata apa.
Empat bulan kemudian. Mendekati pertempuran akhir. Dia tidak lagi mengenakan cincin kawinnya. Saat Aku bertanya Dia mengatakan ada alergi. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Dia sudah mengenakannya selama lima tahun. Kenapa baru sekarang Alergi. Lekky sendiri tidak mau banyak bicara dengan perubahan Pangeran Sera. Semuanya menyembunyikan sesuatu dariku.
Aku terbangun di malam hari ketika mendengar suara tangisan Nara. Bergegas Aku bangun menghampiri Nara. Betapa terkejutnya Aku ketika mendapati Pangeran Sera sudah menggendong Nara.
"Dia ingin Asi mu" Kata Pangeran Sera lembut. Aku menerima Nara dan memberinya Asi sementara Pangeran duduk di depanku. Menatapku dengan pandangan sayang.
"Ada ada dengan dirimu ?" Tanyaku lirih. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Pangeran terkejut saat memandangku. "Kau berubah. Aku seperti tidak mengenal dirimu lagi"
"Yuki..."
"Aku istrimu. Aku tau ada yang salah denganmu. Tapi Aku tidak tahu kenapa ?"
Pangeran Sera menggengam tanganku. Dia berjongkok di depanku. "Maaf jika sudah membuatmu cemas. Yakinlah Yuki..Apapun yang terjadi di masa depan Aku tidak pernah berubah. Aku akan tetap sama seperti yang Kau kenal. Sera Madza yang selalu mencintaimu"
Aku melihat keseriusan di mata Pangeran Sera. Mungkin Aku yang terlalu sensitif.
"Aku hanya berusaha menyelesaikan tugasku sebelum pertempuran besar. Aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu sampai saat itu tiba. Kau melakukan semua untukku begitu juga sebaliknya Aku melakukan hal yang sama untukmu dan Nara"
Aku menyentuh wajah Pangeran Sera yang tampak lelah.
Aku tidak berharap Dia seperti ini saat Aku mati nanti. Aku berharap Dia mendapat kehidupan yang baik. Jika nanti Kami terpisah ruang dan waktu, Seperti Mama dan Ayah Kami akan saling menunggu sampai Kami dapat menyebrangi sungai kehidupan bersama-sama. Hatiku akan selalu bertahan untuknya.
Memang terlambat menyadari cinta ini.
__ADS_1
Pangeran mengambil Nara yang tertidur setelah meminum Asi. Dia meletakkan kembali di box bayinya. Kemudian mendekatiku. Dia menarikku agar berdiri berdekatan.
"Jika di pertempuran nanti Aku tidak selamat...Apa yang akan Kau lakukan" Aku menatap Pangeran Sera terkejut. Tidak menyangka Dia akan bertanya seperti ini. Tapi Kami memang harus membahasnya. Ini hal yang sudah tidak bisa di hindari lagi.
"Kau adalah matahariku. Bagaimana bumi bisa hidup tanpa mataharinya"
"Kau punya Nara dan orang-orang yang mencintaimu"
"Tidak akan sama. Aku pernah kehilangan orang-orang yang kucintai. Aku merasa hancur. Tapi...Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika Aku sampai kehilanganmu. Seperti....seperti kehilangan jiwaku"
Pangeran terdiam.
"Berjanjilah padaku Yuki. Jika Aku nanti tidak selamat di pertempuran ini. Kau harus tetap hidup. Untukku"
"Kau harus menyelesaikan tugasmu. Besarkanlah anak-anakmu. Sampai waktunya nanti Kita akan bertemu lagi"
Aku terdiam. Memandang Pangeran dalam. "Jika....Jika Aku yang mati. Apa yang Pangeran akan lakukan"
Pangeran tidak menjawab. Dia mendekatiku. Mencium bibirku lembut. Ciuman yang seolah tidak memiliki akhir. Tinggal hitungan jam lagi sebelum waktu pertempuran.
48 jam.
Besoknya. Semua tampak saling mengucapkan salam perpisahan. Kami mengadakan makan bersama. Seolah merayakan kematian Kami nantinya untuk menyelamatkan Dunia ini. Musik dimainkan oleh beberapa pemusik.
Aku membawa Nara. Saat pertempuran Nanti Nenek akan menjaganya bersama Ralya,istri Lazzar. Pendeta Serfa juga akan menemani Nara. Membuatku lebih tenang.
__ADS_1
"Aku jadi teringat sebuah film yang terkenal di duniaku sana" Kataku saat memandang suasana yang terjadi. Dimana semua orang tampak pasrah dengan kematiannya.
"Film ?" Tanya Pangeran Sera di sampingku dengan tenang.
"Ya...Film itu sangat terkenal sampai beberapa generasi. Di ambil dari kisah nyata"
"Menceritakan apa ?"
"Sebuah kapal pesiar yang sangat megah tenggelam di dasar lautan atlantic dan hanya sedikit yang ditemukan selamat. Di film itu saat kapal perlahan tenggelam ada adegan beberapa pemain musik memainkan musiknya untuk terakhir kali. Seorang Pendeta berdoa bersama jemaatnya. Seorang kapten yang duduk menunggu kapal itu tenggelam di balik kemudinya. Juga sepasang kekasih. Merekalah pemain utama di film ini"
"Apakah sepasang kekasih itu selamat ?"
"Tidak. Pemeran Prianya meninggal. Dia merelakan papan yang diketemukannya untuk kekasihnya. Dia meninggal karena membeku. Karena memang kejadiannya berada di lautan es yang luas"
Aku mendesah. Mengingat kembali semua adegan titanic yang melegenda itu. Tidak percaya jika Aku sendiri akan mengalaminya dalam versi lain.
"Tapi...Mereka akhirnya bersatu kembali. Saat usianya sudah lanjut. Wanita itu meninggal di atas kapal di lautan atlantic. Dia bertemu dengan kekasihnya. Mereka hidup bersama selamanya"
Aku menyerahkan Nara pada Pangeran Sera. Pangeran Sera menerimanya dengan wajah heran.
"Aku akan menyanyikan lagu itu untukmu" Kataku. Mungkin Aku bisa memberikan pesan kepada Pangeran Sera jika nanti Aku mati. Bahwa di manapun dan Kapanpun Aku berada. Dia akan selalu dan selalu berada di hatiku.
Aku maju keatas panggung tempat para pemusik bermain. Meminta salah satu alat musik seperti gitar. Tampak beberapa orang termasuk Pangeran Riana dan rombongannya memperhatikanku. Setelah kelahiran Nara Pangeran Riana lebih lunak terhadapku dan Pangeran Sera. Dia memutuskan untuk menyelesaikan semua persoalan nanti setelah Pertempuran ini selesai.
Aku memetik gitar. Dan mulai bernyanyi. Aku membayangkan berada di dalam lautan atlantic. Bagaimana sepasang kekasih akhirnya bertemu setelah perpisahan yang panjang. Bagaimana dia kembali memasuki kapal yang hanya berada dalam kenangannya saja. Berpisah namun tak benar-benar terpisah.
__ADS_1